"Jika dia benar benar mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menangis karena sikapnya"
- Rin
"Shean, mending lu jangan ikut campur deh." Rafendra menggenggam erat tangannya.
"Mau apa lo? Mau tonjok gw? Tonjok aja. Lihat semua orang udah ngerekam aksi lo dari tadi"
"Ckh. Awas aja lu semua." Rafendra terlihat kesal lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Rin, lu gapapa? Ada yang luka gak?" Shean langsung menghampiri Lisa dan Rin dan bertanya keadaan Rin sekarang.
"G-gue gapapa.." Tatapan kosong yang hanya diberikan oleh Rin.
"Shean, mungkin Rin masih syok karna tadi Rafendra hampir mukul dia. Mending kita bawa dia pulang aja"
"Kamu bener Lis, ayok kita antar dia pulang"
Kemudian Shean dan Lisa membawa Rin pulang ke rumahnya. Mereka berdua sempat bertemu dengan ibu Rin. Dan ibu Rin pun menawarkan mereka masuk, namun mereka menolak karena ada urusan penting. Ibu Rin hanya tersenyum lalu masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Shean mengantar Lisa pulang karena sudah selesai berjalan jalan. Lisa hanya bisa berterima kasih kepada Shean untuk waktunya hari ini, lalu ia masuk ke dalam rumahnya.
"Seneng banget bisa jalan bareng Lisa. Walaupun harus tonjok tonjokan tadi." Batinnya, lalu ia memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya dirumah, ia langsung memasuki kamar dan tertidur karena sangat lelah.
Disisi Rin
"Kenapa? Kenapa harus kayak begini.."
"R-rasanya sesak banget-"
"Kenapa harus aku yang kamu sakitin Raf? Kenapa? Kenapa kamu masih belum selesai sama dia? KENAPA RAF KENAPA!?" Tangisnya sangat kencang dan bertanya kepada dirinya lalu menatap hasil karya yang telah ia gambar.
"Gimana caranya aku bisa lupain kamu? Kalau kamu udah abadi didalam lukisanku, Raf.." Ia hanya menatap lukisannya itu.
"Aku kurang apa? Sampai kamu tega giniin aku.. Andai sejak awal aku tau bakal begini. Aku ga bakal mau kenal sama kamu, Raf. Ga bakal pernah mau."
"Sakit.." Rin hanya memeluk lukisan itu sambil menangis dengan kencang.
Sementara itu
"Eh lisa, kamu udah pulang nak? Habis dari mana?" Tanya sang ibu.
"Iya ni ummi.. Aku habis dari taman, jalan jalan sebentar"
"Ummi kirain kamu kemana, itu apa di tangan kamu?"
"Oh ini.. Ini bunga kesukaan aku yang dikasih sama temen pas di taman ummi" Lisa menatap mata ibu nya.
"Siapa namanya nak? Kok dia bisa tau kalau kamu suka sama bunga mawar?" ibunya tersenyum.
"Namanya Shean, ummi.. Katanya dia pernah lihat aku ke toko bunga buat beli bunga mawar."
"Shean ya? Dia baik gak, nak?"
"Baik kok bu, dia yang nolongin aku pas sekolah kebakaran"
"HAH? Jadi dia cowo yang nolongin kamu nak pas tempo hari itu?" ibunya terkejut dan masih tidak menyangka.
Lisa hanya terdiam dan menganggukkan kepala pelan sembari memegang bunga mawar yang ada di tangannya. Ibunya hanya bisa tersenyum kepada putri kecilnya itu.
"Kamu jangan lupa bilang terimakasih ke dia ya, kalau ga ada dia. Ibu gatau kamu masih bisa selamat atau tidak dari kebakaran itu.."
"Aku udah bilang makasih sama dia bu. Aku ga nyangka dia bisa seberani itu." Lisa tersenyum tipis mengingat kejadian hari itu.
"Kenapa nih kamu tiba tiba senyum sendiri?"
"Eh.. Bukan apa apa kok ummi! Lisa permisi mau ke kamar duluan ya bu.." Lisa terkejut lalu sadar dari fikiran nya sendiri. Setelah itu pergi ke kamarnya.
"Dasar anak muda. Mungkin Lisa menyukai Shean?.." batin ibunya.
Sampai sini dluu. Author bingung banget harus nulis apa lagii. Karena nulis cerita ini pun dalam keadaan PTS.. Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
