"Memangnya itu semua belum cukup..?"
"Lihat! Aku dapat nilai 100 tau mah! Hebat kan?" Anak kecil itu berlarian dengan gembira. Menghampiri ibunya yang tengah memasak.
"Hebat sekali anak mamah, gimana sekolah nya hari ini?" Tanya sang ibu.
"Itu belum cukup. Kau harus lebih giat belajar agar masa depan mu tertata." Suara yang cukup lantang itu tiba terdengar ditelinga Akalla yang membuatnya menoleh.
"Memangnya, harus lebih giat lagi pah?" Tanya Akalla kecil.
"Tentu, karena kamu akan meneruskan perusahaan papa." Jawab Valtor—ayah dari Akalla.
"Akalla cuma mau kayak anak anak yang lainnya. Yang bisa main bebas sama temen temen temen nya."
"Akalla, papah bilang-" omongan pria itu terpotong saat melihat raut wajah istrinya.
"Yasudah, kamu boleh pergi main dulu bersama Shean."
Wajah manis itu jelas terlihat senang, ada kilauan pada matanya. Dengan cepat, ia berlari keluar rumah untuk bermain dengan Shean. Disana, ia sangat kebingungan karena melihat pintu rumah Shean di kunci.
Dia duduk di teras rumah itu. Menunggu sahabat nya segera kembali. Saat mendapati Shean yang baru saja pulang dari pemakaman, Akalla jelas gembira karena bisa bermain dengan Shean. Ia berlari, memeluk Shean yang bahkan belum menginjakkan kaki di atas rumahnya.
"Shean! Kamu habis dari mana aja? Kok keliatannya sedih.." Tanya Akalla dengan sedikit cemberut karena karena melihat Shean sedih.
"Shean habis dari pemakaman papah. Akalla mau main ya?" Jawab Shean sembari menatap sorot mata Akalla.
Akalla kecil hanya menganggukkan kepala pelan, menatap kondisi Shean yang sepertinya sedang tidak baik baik saja. Lengannya, wajahnya, bahkan ujung bibirnya pun terlihat seperti banyak luka dan lebam.
Karena penasaran, Akalla tidak sengaja menyentuh lebam kecil yang berada di sudut bibir Shean yang membuat nya merintih kecil. Sebab merasa bersalah, Akalla menjauhkan tangannya dari wajah Shean.
"Pasti sakit ya? Papah kamu mukulin kamu lagi.."
"Ini udah lama kok, Kal. Shean gapapa, kata mama Shean kan anak kuat!" Senyuman palsu bisa di lihat oleh Akalla dari sahabatnya itu.
"Abang masuk kedalam rumah dulu ya, kalian main aja kalau mau main." Rasya berusaha mengalihkan topik agar Shean tidak terlalu sedih.
Shean dan Akalla hanya menganggukkan kepala, melihat punggung Rasya semakin menghilang dari penglihatan mereka berdua. Akalla menatap Shean dan langsung menarik nya agar pergi ke rumahnya. Shean yang kebingungan, hanya bisa mengikuti Akalla yang terus menariknya
Didalam rumah Akalla, ia membawa Shean ke depan orang tua nya. Berharap orang tua nya mengizinkan mereka berdua untuk bermain bersama didalam kamar Akalla. Ibu Akalla— Elara hanya bisa tersenyum pada putranya dan mengangguk.
Setelah punggung kecil itu menghilang, ayah Akalla menghela nafas berat dengan keputusan istrinya. Elara tidak berkata apapun, tapi meminta untuk hari ini saja, biarkan Akalla melakukan apa yang ia inginkan.
***
Dikamar, Akalla dan Shean terus bersenang-senang. Bergembira, tertawa sesuka mereka. Akalla yang bisa melihat Shean tertawa merasa jauh lebih baik sekarang. Ia tau, ini cara terbaik yang dia lakukan untuk menghibur sahabatnya setelah kematian ayahnya hari ini.
Seiring berjalannya waktu, jarum jam sudah menunjukkan angka 06.30 sore. Menandakan bahwa Shean harus pulang. Mengetahui hal tersebut, Akalla mengerti dan mengantarkan Shean sampai di depan rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
