Cerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
Semuanya seperti kelabu. Tidak berwarna lagi dan hampa. Setelah mengetahui sahabat kecilnya seharusnya Kanaya senang kan? Tapi ia merasa untuk apa bergembira disaat seperti ini. Gelap dan tidak berwarna.
Gadis yang tengah duduk diteras atas rumahnya hanya melamun. Melihat sesuatu yang tidak pasti. Ia menghela nafas, berusaha untuk tenang sekarang.
Terdengar suara notifikasi yang berasal dari handphone Kanaya yang membuat dirinya melihat isi handphone itu. Senyuman tipis terukir disudut bibir Kanaya saat membaca isi chat dari seseorang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kanaya sepertinya akan menangis sekarang. Ternyata bukan hanya abangnya yang peduli dengannya. Tapi ada sahabat kecilnya juga yang walaupun terlihat sangat dingin tapi dia peduli terhadap orang lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa berlama lama lagi gadis itu segera turun ke bawah dan mendapati Akalla yang sudah menunggunya sejak tadi. Kanaya terdiam, memerhatikan Akalla sedemikian rupa tanpa sadar ia tersenyum.
"Kenapa natap gw kek gitu. Ada yang aneh dari gw?" Tanya Akalla.
"Gak kok kall. Cuma gw sedikit senang kalau ada yang merhatiin sekecil apapun dari diri gw." Jawab Kanaya dengan senyuman tipis.
"Tunggu aja di mobil gw mau kunci rumah lu dulu."
"Emang lu punya kunci rumah gw?"
"Gw punya kunci cadangannya. Pas kecil lu suka nangis kalau ga ada orang rumah." Tangkas Akalla sembari mengunci pintu rumah Kanaya.
Sedangkan Kanaya kini masuk kedalam mobil diikuti oleh Akalla dari belakang. Kanaya merasa ada yang tidak beres dari Akalla, padahal mereka tau persahabatan mereka mungkin tidak bisa seperti dulu lagi.
Di perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Akalla sibuk menyetir dan Kanaya melihat pemandangan dari jendela mobil. Setidaknya pikirannya sekarang jauh lebih tenang.