"Tetap jadi anak yang sabar ya.."
Gadis kecil yang sangat cantik itu terlihat sangat bergembira karena ia akan melihat bintang bintang di luar sana. Melihat betapa cantiknya benda benda malam. Senyuman lebar terlukis dibibirnya, sejak ia berusia 4 tahun, orang tuanya sangat menyayangi Lisa.
"Lisa, kamu mau lihat bintang ya?" Tanya wanita cantik yang sudah berada disamping Lisa.
"Iya ummi! Lisa pengen lihat bintang. Karena mereka semua cantik banget." Gadis itu mengangguk dengan penuk semangat, senyuman dibibirnya tak pernah hilang.
"Lisa, nanti kalau Lisa sudah besar janji sama Ummi ya? Janji sama ummi kalau Lisa bakal tetap jadi anak yang sabar."
"Lisa janji sama ummi, Lisa bakal jadi anak yang baik baik kok."
"Yaudah, Lisa duluan aja kedepan ruma ya. Nanti ummi nyusul." Dengan anggukan penuh semangat Lisa berlarian kecil kedepan rumah untuk melihat bintang bintang.
Dihalaman rumah Lisa mendonggak, menatap keseluruhan benda benda malam. Merasa terpukai karena malam ini bintang bintang dan bulan berkilau lebih terang daripada biasanya.
"Cantik bangett.. Aku suka ngelihat bintang bintang! Apalagi bulannya."
"Lisa, kamu lagi ngapain nak?" Terdengar suara ibu Lisa yang dari belakang semakin mendekat kepada gadis itu.
"Ummi, Lisa lagi liatin bulan. Cantik banget, Lisa pengen deh ngelihat dari dekat."
"Lucu banget anak ummi yang satu ini.." Kekehan pelan keluar dari orang yang dipanggil Ummi oleh Lisa.
"Lisa mau tidur jam berapa? Bentar lagi kayaknya udah mau larut nih."
"Eh.. Kayaknya sekarang aja deh Ummi. Lisa juga udah ngantuk.." Ucap gadis kecil itu lirih sambil menguap.
"Ayok masuk kedalam rumah. Jangan lupa wudhu dulu ya sebelum tidur. Habis itu baca doa tidurnya biar bisa nyenyak.
Tanpa pikir panjang, mereka pun masuk kedalam rumah. Lisa kecil segera melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya itu. Setelah wudhu, Lisa naik keatas kasurnya agar cepat tertidur. Tak lupa juga ia membaca doa tidur, beberapa menit kemudian Lisa kecil sudah di ambang mimpi indahnya.
***
"A-aku.. Aku gagal? Aku gagal.." Rintih seorang yang sedang menatap sebuah kertas yang sedang ia pegang.
"Gimana.. Padahal aku udah mati matian buat ini." Lisa berusaha menahan isak tangisnya setelah melihat formulir pendaftaran ke sekolah impiannya itu gagal.
"Kenapa semuanya sia sia begini? Ya Allah, ujian apa yang akan datang kali ini.."
"Hey, jangan nyerah. Ini cuma ujian dari Tuhan seberapa kuat kamu." Seseorang misterius yang memakai hoodie dibelakang Lisa itu tiba tiba menepuk pundaknya yang membuat Lisa terkejut.
Lisa sontak menyembunyikan kertas yang ia genggam di belakang punggungnya dan menjauh dari orang tersebut. Gadis itu benar benar terkejut bukan main, apalagi dari penampilannya itu adalah seorang laki laki. Tentu saja Lisa merasa takut.
"Jangan takut, aku gabakal apa apain kamu kok." Ujar laki laki yang lebih tinggi dari Lisa.
"J-jangan deketin aku.." Ucap Lisa dengan gugup dan suaranya cukup gemeteran.
"Kenalin, aku Baskara. Kamu pasti Lisa ya?" Baskara menatap Lisa yang masih ketakutan akan kehadiran nya menganggap itu lucu.
"Kamu tau dari mana.." Gadis berumur 13 tahun itu jelas sangat kebingungan dengan apa yang terjadi sekarang.
"Ah.. Aku lupa, kita pernah ketemu di Mall. Maafin perlakuan orang tua ku waktu itu ya?"
"Di Mall.. Eh iya, gapapa kok." Senyum masam terlihat di bibir Lisa membuatnya mengingat kejadian di Mall itu.
"Itu yang kamu sembunyikan ditangan kamu apa. Kok kayak ketakutan gitu?" Tanya Baskara sembari mendekati Lisa yang mulai mundur perlahan kearah belakang.
"I-ini cuma f-formulir sekolah aku. J-jangan mendekat please!" Lisa semakin takut, namun Baskara hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku gadis itu sekarang. Membuat dirinya seperti ingin mendekat jauh lebih dekat.
"Kenapa, kamu takut sama aku? Aku gabakal ngapa ngapain." Baskara justru senang melihat reaksi Lisa karena ulahnya.
"A-aku takut! Jauh jauh, bukan makhrom!!"
"Kenapa kamu takut banget sih? Aku cuma mau lihat kertas yang ada ditangan kamu." Langkahnya terhenti, Lisa yang mendengar hal itu dengan cepat memberikan kertas yang ada ditangan kepada Baskara dengan sangat gemeteran.
Baskara yang menerima kertas itu hanya menggelengkan kepala sebelum membaca tulisan yang ada disana. Ia sangat penasaran, kenapa gadis itu sampai hampir menangis? Bukankah hal yang wajar jika tidak lolos dalam hal tersebut?.
"Lisa Alfariza.." Gumamnya.
"Lisa, kalau kamu mau lolos. Kamu harus ngelakuin 1 hal." Kalimat itu jelas membuat Lisa sangat penasaran.
"Kamu harus nunjukin bakat kamu. Dengan begitu kamu bisa keterima disana. Ya contohnya kayak aku." Ucap Baskara dengan nada yang sedikit sombong.
Lisa hanya diam beribu bahasa. Bagaimana caranya? Ia sendiri tidak tau dirinya mempunyai bakat apa. Untuk mencari keberanian ia tidak mampu. Gadis itu menghela nafas yang cukup berat yang membuat Baskara melihat nya dengan cermat.
"Pelan pelan aja, semuanya juga butuh proses. Ga ada yang instan didunia ini." Lagi dan lagi Baskara membuka pembicaraan diantara mereka berdua agar tidak merasa canggung. Sedangkan gadis itu udah mundur 1 langlah darinya dan hanya menundukkan kepala.
"Setakut itu kah kamu sama aku? Aku gabakal makan orang Lisa." Kekehan kecil keluar dari mulut Baskara sembari menatap Lisa gemas.
"Muka kamu seram, aku takut." Ujar Lisa
***
Dirumah, Lisa hanya melamun didalam kamarnya. Memikirkan kejadian tadi yang benar benar tidak ia duga. Sepertinya laki laki bernama Baskara itu benar, ia harus menunjukkan bakat nya. Tapi 1 hal yang membuat Lisa bingung. Kenapa Baskara masih mengingat dirinya setelah insiden di Mall?
"Kok bisa.. Kok bisa dia inget kejadian itu. Padahal aku aja hampir lupa. Aneh banget tu cowo." Ucap Lisa yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Pusing, ngapain juga mikirin orang yang belum makhrom! Astagfirullah Lisa, sadar!!"
"Namanya siapa.. Baskara yaa.."
2 tahun setelah kejadian itu. Ternyata yang diucapkan oleh Baskara benar, Lisa cukup memberitahukan bakatnya dengan mudah ia akan diterima disekolah impiannya. Lisa merasa senang bisa diterima. Senyuman dibibirnya begitu merekah. Terbentuk seperti bulan sabit dari ujung bibir nya yang tampak sangat manis.
Sorot matanya yang tak kalah indah pun terlihat manis sekarang. Wajah Lisa yang sangat menawan dan senyuman manis pada dirinya sangatlah cantik. Terlebih lagi bola matanya yang seperti terpancar sinar rembulan dari sana. Akankah Lisa bisa melanjutkan semuanya?
Hal apa yang akan didapatkan Lisa setelah lulus dari sekolah tersebut. Waktu Lisa berada disekolah impiannya itu tersisa 1 tahun lagi. Akankah Lisa menyiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke tahan selanjutnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
