Senja turun perlahan di pinggiran kota itu. Warna oranye kemerahan menyelimuti langit seperti darah yang mengalir tenang, menyapu atap rumah dan pucuk pohon yang meringkuk di bawah bayangan malam. Jalan setapak menuju pemakaman tua itu sepi. Tak ada suara selain langkah sepatu yang menyusuri tanah berbatu.
Shean menatap langit tanpa ekspresi. Ia berjalan perlahan, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket tebal berwarna gelap.
Di sampingnya, Lisa berjalan sejajar. Pakaiannya yang sangat sopan, dengan perlahan terdiam. Wajahnya serius, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Shean.
"Aku masih gak ngerti kenapa kamu mau balik ke tempat ini" kata Lisa akhirnya, suaranya pelan namun cukup menusuk sunyi.
"Aku harus tahu. Ada sesuatu yang tersisa di sini. Sesuatu... yang belum selesai." Shean tidak langsung menjawab. Ia terus berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berkata.
"Shean, kamu udah lihat dan ngalamin hal yang orang lain gak bakal percaya. Tapi kamu tetap balik. Sendirian lagi pula. Kalau aku gak maksa ikut, kamu tetap jalan sendiri, kan?" Lisa menghela napas.
"Ya. Tapi sekarang kamu di sini. Dan... aku bersyukur soal itu." Shean menoleh padanya sejenak, lalu mengangguk pelan.
Lisa terdiam. Senyum tipis terselip di wajahnya, namun segera ia sembunyikan.
Mereka sampai di gerbang pemakaman. Besi-besi tua itu berkarat, dan papan namanya nyaris patah. Di atas, burung gagak bertengger, menatap mereka tanpa suara. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga yang sudah membusuk.
"Shean, kamu yakin... kita gak bakal terjebak lagi?" Lisa menelan ludah.
"Kalau kita gak selesaikan ini, semuanya akan terus berulang. Termasuk...hal buruk lainnya" Shean menatap ke dalam kegelapan.
"Baiklah. Tapi jangan jauh-jauh dariku." Lisa memejamkan mata sesaat, lalu membuka dan melangkah masuk.
Langkah mereka menyusuri jalan sempit di antara nisan-nisan yang miring. Kabut perlahan turun dari celah pepohonan, menyelimuti jalanan dan menggigit kulit meski mereka sudah mengenakan jaket tebal.
Shean mengamati satu nisan yang sudah hampir tenggelam ke tanah. Tangannya menyentuh permukaan batu dingin itu, membaca nama yang samar.
"Amelia R."
"Amelia?" bisik Lisa di sampingnya. "Bukankah itu—"
"Nama yang muncul di buku tua itu" potong Shean pelan.
Lisa menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena kesadaran bahwa mereka semakin dalam. Kabut makin tebal seiring langkah mereka menjauh dari gerbang. Lampu-lampu kota menghilang di kejauhan, dan seolah dunia menyempit hanya menjadi lorong sempit di antara nisan dan akar pohon tua. Pepohonan di sekitar mereka melengkung aneh, seakan mengawasi diam-diam.
"Shean… kamu dengar itu?" Lisa menghentikan langkah. Shean menajamkan telinga. Suara... desahan?
Tidak. Itu bukan angin.
Suara seperti... napas. Berat, dalam, dan lambat.
"Jangan bergerak" bisik Shean.
Lisa menahan napas.
Dari balik pepohonan, sesosok bayangan muncul perlahan. Ia melangkah dengan gerakan tersendat, kepalanya miring ke samping seperti patah, tubuhnya dibalut pakaian lusuh yang basah darah. Tapi anehnya, tak ada bau menyengat. Hanya... dingin yang menancap hingga ke tulang.
"Itu—" Lisa mundur selangkah.
"Jangan sebut namanya." potong Shean cepat.
Bayangan itu berjalan melewati mereka… dan menghilang seolah menembus kabut. Tidak menyerang. Tidak menyadari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
