"Aku cuma mau bahagia untuk kali ini aja."
Jakarta, 30 Maret 2025.
Tak ada yang bisa mengalahkan rasa menyeruput kopi dipagi hari. Dion duduk di teras atas rumahnya untuk melihat matahari yang mulai terbit. Tidak biasanya dia bangun sepagi ini.
Sedangkan Kanaya baru saja selesai bersiap-siap melakukan rutinitasnya setiap pagi. Menghela nafas pelan sebelum keluar dari kamarnya untuk menghampiri Dion.
"Tumben mau kesini. Kenapa?" Tanya Dion saat melihat sosok Kanaya disampingnya itu.
"Gapapa kok. Cuma mau lihat matahari terbit aja."
"Abang pikir ada sesuatu."
"Ga ada abang. Cuma mau lihat matahari aja kok." Dion mengangguk sebelum kembali menyeruput kopinya. Sedangkan Kanaya sudah duduk pada kursi di samping Dion.
"Oh iya, nanti jadi kan abang?"
"Jadi kok. Kan mama sama papa bilang jam 7 nantinya. Masih ada waktu kok." Tak ada jawaban sepatah katapun dari Kanaya. Ia hanya mengangguk tanda mengerti.
***
Walaupun masih pagi, tidak akan mengobarkan semangat pagi Aldan. Ia lari pagi untuk merilekskan tubuhnya dari kejadian beberapa hari yang lalu. Sempat terlintas di benaknya untuk mendatangi suatu tempat.
Senyuman tipis terukir disudut bibirnya dan segera berlari untuk mendatangi tempat yang dia maksud itu. Sesampainya disana Aldan mengetuk jendela kamar yang terdapat pada samping rumah. Saat jendela itu terbuka, Amelia terkejut bukan main sampai tak sengaja mumukul wajah Aldan.
"AWH! Sakit mel, parah banget dah. Baru datang langsung dipukul gini." Aldan meringis kesakitan karena mendapatkan pukulan itu.
"EH SORRY! Tangan gw reflek sumpah. Lagian lu ngapain disitu sih."
"Emang salah ya?"
"Gak juga, tapi ini masih pagi buta. Ngapain lu kesini mentang-mentang dah tau rumah gw!"
"Mau ketemu calon pacar dong." Aldan mengangkat menaikkan kedua alisnya itu untuk menggoda Amelia.
"Apasi kocak. Masih pagi pls deh, Al. Lu begitu lagi gw tumbuk lagi ya." Wajah Amelia jelas memerah karena kesal dan sesuatu yang lain.
"Ah jangan dong. Entar muka ganteng ini hilang lagi."
"Sejak kapan sih lu narsis begini? Ngeselin asli."
"Mana lebih ngeselin gw atau Shean?"
"Aldan! Masih pagi. Ga ada bedanya lu berdua. Cuma Shean lebih nyebelin."
Aldan hanya tersenyum tipis mendengar hal itu. Ia menarik tangan Amelia untuk lebih dekat dengannya. Menatap sorot mata Amelia , sedangkan yang di tatap hanya kebingungan.
"Lu lucu banget, mel." Bisik Aldan ditelinga Amelia yang membuat gadis itu sontak menjauh dari Aldan ingin menutup jendelanya.
"EHH! Jangan dong, lu ga kangen apa sama gw?"
"Gw mau mandi dulu! Lu gila ya datang kerumah orang pagi pagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
