Cerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
Sore hari awan seperti mendung namun tidak turun hujan sejak tadi. Seorang gadis yang sedang duduk dibawah pohon rendu meratapi nasibnya sendiri.
"Kapan ya, bisa bebas kayak anak lain? Cape." Ucapnya menatap pohon yang dia sandari itu.
"Semuanya sia-sia ya? Yang ada cuma luka baru. Kayak gapernah izinkan buat bahagia sebentar aja." Pikirnya.
Amelia menekuk lututnya, sorot matanya menjadi sendu. Mengingat bayangan masalalu yang benar benar menyakitkan. Entah bagian mana yang terluka, tapi dadanya begitu sakit sekarang.
Perlahan ia mulai menangis. Memikirkan kenapa gadis itu harus menanggung semua ini? Amelia merasa, dunia tidak pernah berpihak kepadanya. Disela-sela ia menangis, ada seseorang yang sudah berlutut didepannya.
Aroma parfum dari orang itu tidak dikenali olehnya. Ia mendonggak, menatap siapa orang yang sudah berada dihadapannya itu.
"Lu ngapain nangis disini? Sendirian pula."
"Pergi. Ngapain disini? Gw ga kenal sama lu."
"Kepala batu banget. Gw cuma nanya baik baik padahal." Laki laki itu menghela nafas berat, wajahnya terlihat datar saat menatap Amelia.
"Gw Dion. Abangnya Kanaya, mantan dari Shean. Lu Amelia bukan?"
"Iya gw Amelia. Ada urusan lu sama gw?" Jawab sinis dari Amelia.
"Santai, Mel. Gw ga bakal macam macam kok. Gw cuman pengen kenal sama lu."
"Jangan sok akrab sama gw. Gw ga nerima orang baru kayak lu."
"Amelia Khanza. Gadis yang hidup dengan orangtuanya namun tidak mendapatkan peran apapun. Sering dipukuli walaupun membuat kesalahan kecil. Mempunyai sebuah trauma yang tidak bisa dijelaskan." Ucap Dion yang cukup membungkam Amelia.
Gadis itu sekarang benar-benar ketakutan. Ia mulai menangis kembali. Menarik rambutnya, bisa dilihat gadis itu sangat terluka sekarang. Dion yang melihat itu sangat panik dan terkejut. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
"Mel! Amelia! Tenangin diri lu!" Ucap Dion dengan sangat panik.
"MENJAUH DARI GW! JANGAN SENTUH GW!!!" Amelia berteriak, air matanya semakin deras sekarang. Ia seperti orang yang depresi sekarang.
"Amelia.." Ada nada penyesalan disana. Dion mengambil handphonenya dan segera chat seseorang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dion menatap ponselnya sejenak sebelum kembali memasukkan ponsel itu kedalam sakunya. Ia terus-menerus melihat kondisi Amelia yang semakin memburuk.
"AMELIA SADAR! Lu kecapean Mel.." Ujar Dion dengan lembut.
"DIAM! JAUHIN GW.. GW BILANG PERGI DION!" Amelia terlihat lebih buruk daripada sebelumnya. Sekarang ia malah berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Aldan lu dimana sih." Gumam Dion.
Tak lama kemudian terdengar suara motor yang semakin dekat. Dion yakin itu adalah Aldan, sesuai dugaan itu benar Aldan. Laki-laki yang baru saja datang itu dengan cepat melepaskan helmnya dan memeluk Amelia yang terus-terusan berteriak.
"Amel.. Tenang ya tenang.. Gapapa, semuanya udh berlalu. Tenang oke?" Suara Aldan begitu lembut. Tubuhnya mendekap Amelia sangat erat sekarang.
"LEPASIN GW, PERGI LU SEMUA SIALAN!"
"Mel, ini gw Aldan. Tenang Mel tenang.."
"GW BILANG PERGII!! gw bilang pergi.." Amelia terus terusan memukul dada Aldan sekuat tenaga walaupun akhirnya ia mulai kewalahan.
"Tenang Mel.. Lu kenapa tiba tiba begini?"
"Tadi dia nangis sendirian, al. Pas gw tanyain dia malah tiba tiba kek begitu." Celetuk Dion yang sejak tadi diam saja.
"Bang, Amelia biasa ga gini. Tapi kenapa sekarang dia mulai-"
"Dia PTSD, Al. Lu tau kan Post-Traumatic Stress Disorder?. Dia punya trauma yang gabisa dijelasin."
Aldan menatap Amelia yang sudah tenang walaupun air mata masih membanjiri mereka berdua. Tatapan Amelia benar benar kosong sekarang. Seperti seseorang yang kehilangan semangat untuk hidup.
Aldan membelai rambut Amelia dengan lembut agar gadis yang berada di dekapannya itu merasa lebih baik. Sesekali Aldan menatap betapa hancurnya Amelia saat mengingat traumanya itu.
"Apa perlu gw chat yang lain buat datang kesini, Al?." Tanya Dion menatap Amelia sebelum mengarah ke Aldan.
"Gausah bang, cukup kita ber 3 aja. Jangan ada yang tau, terutama Lisa. Dia bakal khawatir banget sama Amelia." Jawab Aldan dengan prihatin. Jujur entah kenapa hatinya merasa panas sekarang ketika melihat hancurnya Amelia.
Dion hanya mengangguk pelan. Sorot matanya menatap Amelia dengan sedikit tegas namun ada campuran kasihan disana. Bagaimana bisa gadis seperti Amelia menerima trauma seperti itu? Apalagi Amelia juga memiliki Anger issues.
"Kenapa harus gw.. Gw cape, gw udah kotor.. Gw-" Amelia tidak ada henti-hentinya menangis walaupun tidak sederas tadi.
"Shtt.. Melia tenang.. Siapa bilang kalau lu kotor? Lu masih bersih, cantik. Kayak bidadari diatas sana." Pelukan dari Aldan semakin erat, gadis itu mendonggak untuk melihat wajah Aldan.
"Al.. Gw dah kotor. Gw bener-bener kayak sampah sekarang." Ada rasa putus asa yang terlihat disana.
"Mel, kita di sini. Jangan khawatir, ga ada yang bilang lu kotor. Lagian ini juga bukan kemauan lu kan?"
"Bener kata bang Dion. Melia ga kotor, masih bersih dan cantik kayak sekarang." Aldan tersenyum tipis kepada Amelia. Amelia menangis didalam pelukan itu.
Hanya ada suara tangisan Amelia sekarang. Gadis itu benar benar hancur sekarang. Aldan merasa tidak tega karena harus melihat Amelia yang terus-terusan menangis.
"Mel, udah. Jangan nangis lagi, entar mata lu bengkak lagi." Itu Dion.
"Iya Mel, jangan nangis lagi.."
"Gw cape, gw pengen semua ini berakhir."
"Jangan ngomong gitu. Gw, bang Dion, Lisa, dan yang lain ada disamping lu." Tangkas Aldan yang sedikit kesal dengan jawaban Amelia.
"Sebelumnya lu pernah gini? Kalau ada apa apa bilang, Mel. Jangan dipendem sendirian."
Gadis itu menghela nafas, menatap kearah yang tak pasti sembari menggelengkan kepala. Dadanya terasa sakit jika harus terus-terusan mengingat lukanya dimasa lalu.
Rasa takut itu selalu menghantuinya. Rasa takut dengan laki laki, takut memulai sebuah hubungan. Bahkan tidak banyak orang yang tau bahwa dia penderitaan PTSD dan mempunyai anger issue.
Hal kecil bisa membuatnya takut. Gadis seperti Amelia harus memendam semuanya sendirian. Dunia seperti kejam pada gadis kecil itu. Ia juga ingin merasakan kasih sayang dan cinta seseorang yang tulus padanya. Namun, sepertinya itu mustahil untuk dirinya.
"Gw ga pantes buat dicintai ya, Al?" Ada senyuman yang dipaksakan oleh Amelia yang bisa dilihat Aldan dan Dion.
"Kenapa nanya tiba tiba? Lu manusia, pantes buat dapetin itu."
"Dunia kayak ga merestui gw bahagia, Al. Gw juga manusia biasa, gw pengen ngerasain rasa bahagia walaupun bentar."
"Mel, lu tenangin diri lu dulu ya? Lu belum tenang sepenuhnya." Dion merasa Amelia akan segera kambuh kembali.
"Gw emang dah kotor. Tapi gw juga pengen ngerasain cinta yang tulus juga kak Dion, Al."