"Sial.. Sial.. Kenapa gw harus nginget kejadian itu!?." Pekik seorang laki kaki yang sudah memeluk lututnya dan bersandar ditembok.
"Gw cuma pengen tenang. Kenapa semuanya hantui gw secara bersamaan ke gini!" Ia mulai prustasi. Air matanya mulai deras sekarang. Rasa takut, marah, dan putus asa tercampur aduk rasanya.
Langkah kaki yang terdengar berhasil menyita perhatiannya. Rasa putus yang semakin besar, membuat laki laki itu tidak bisa apa-apa sekarang. Terlihat seorang gadis cantik dihadapannya, matanya tidak bohong. Gadis itu benar-benar membuatnya hilang fokus.
"Shean.. Kamu kenapa sendirian disini? Ini kan-" Suara yang begitu familiar. Membuat Shean membuang wajahnya saat melihat Lisa.
"Shean, jawab aku. Kenapa.. Kenapa kamu sendirian?. Akalla mana." Lisa sangat khawatir dengan keadaan Shean yang cukup berantakan dan dirinya yang tengah menangis sekarang.
"Lisa.. Gw takut." Shean menarik Lisa kedalam pelukannya. Pelukan itu terasa sangat erat di tubuh mungil Lisa. Sedangkan Lisa yang dipeluk hanya berdiam diri.
"S-shean.." Lisa ingin melepaskan pelukan itu, namun tidak mungkin dengan kondisi Shean yang benar-benar hancur sekarang.
"Ya Allah, maafkan Lisa." Pikir Lisa yang masih membiarkan Shean memeluk dirinya.
"Lisa, biarin gw meluk lu sebentar aja.. Gw butuh pelukan sekarang." Suara Shean gemeteran, bahkan tubuhnya dipelukan Lisa terasa gemeteran.
"I-iya gapapa Shean.. Kamu nangis aja sepuas kamu.." Gugup, sangat gugup. Tingkah laku Shean sekarang tidak pernah Lisa lihat sama sekali.
Pelukan itu lebih erat daripada sebelumnya. Tangisan Shean juga semakin terasa. Rasa sakit yang tersalurkan membuat Lisa tidak melihat Shean seperti ini. Ia memberanikan diri untuk mengelus kepala Shean yang membuat Shean sedikit terkejut namun tidak berkutik apapun.
"Lis. Lu ga keberatan kan kalau gw kek gini?.." Lisa hanya terdiam mendapatkan pertanyaan yang secara tiba-tiba itu. Tapi is hanya bisa tersenyum gugup di balik tubuh Shean.
"Aku gamasalah Shean.. Cuma belum terbiasa. Kamu cowo pertama yang meluk aku kayak gini." Mendapati jawaban seperti itu Shean malah sedikit mengeratkan pelukannya.
"Maaf Lis.. Gw bener bener hancur sekarang.." Suaranya kembali bergemeter. Shean tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
Setelah beberapa menit ia merasa tenang. Lisa yang mengetahui hal tersebut hanya bisa tersenyum tipis. Ia perlahan melepaskan pelukan itu dan duduk disamping Shean yang mulai tidur dengan nyenyak.
***
Hening, Lisa melihat kearah Shean sesekali. Wajah tenang Shean saat tertidur membuat hatinya sedikit damai. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Shean kembali menangis saat masih tertidur. Bahkan sekarang ia menangis dalam diam.
"Shean, kamu kenapa. Kamu mimpi buruk?" Lisa terlihat sedikit, ia memegang pipi Shean dan mengelusnya dengan lembut.
"Lisa.. Kamu dimana. Tolong aku." Shean sepertinya mengingau. Ia menggenggam erat tangan Lisa. Sangat erat seperti orang yang benar benar ketakutan.
"Shean aku disini. Kamu jangan nangis lagi,aku takut." Lisa masih membelai pipi itu sampai laki laki dihadapannya terbangun dengan air mata.
"Astagfirullah Shean.. Mata kamu sampe merah gini gara-gara nangis. Kamu juga demam sekarang." Ada suara kekhawatiran disana. Lisa berusaha pergi untuk mengambil sesuatu namun ditahan oleh Shean.
"Jangan pergi. Tetap disini sama aku, aku cuma butuh kamu Lis." Shean menarik Lisa lebih dekat untuk dipeluk. Jarak diantara mereka berdua hampir tidak ada sekarang.
"Aku cuma butuh kamu. Aku gabutuh yang lain. Kamu udah jadi segalanya buat semua orang Lis."
"Trauma kamu balik lagi ya? Maaf kalau itu sensitif."
"Aku cuma mau hidup tenang Lis. Kenapa rasanya itu susah banget.."
"Hidup ini memang banyak cobaan nya Shean. Tapi kamu hebat bisa bertahan sampe sekarang. Aku bangga sama kamu."
"Gw bertahan hidup buat mama sama lu Lis. Kalian yang buat gw bertahan sampe sekarang." Batin Shean yang masih memeluk erat tubuh Lisa.
"Aku tau semuanya berat. But it's okay, semua orang sayang sama kamu. Aku juga sayang sama kamu, Shean." Tersunging senyuman yang sangat berarti disana. Shean yang mendengar hal itu hanya bisa terkejut dan kaku.
Setelah ia menyadari ia masih memeluk Lisa, sontak pelukan itu Shean lepaskan dan laki laki itu memalingkan wajahnya kearah lain. Lisa yang melihat tingkah laku Shean ikut kikuk karena kejadian ini.
"Makasih Lis. Udah nenangin gw." Shean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kegugupan memenuhi ruangan tersebut
"Sama sama. Kalau kamu butuh apapun aku selalu disini."
Semakin canggung dan hening. Tidak ada orang lain selain mereka berdua disana. Bahkan Shean tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika berada didekat Lisa. Ia ingin selalu mendengkap serta bermanja kapada gadis yang ada dihadapannya itu.
Sedangkan Lisa masih membayangkan kejadian barusan. Tepat dimana Shean mendengkapnya sangat erat padahal ia tidak terbiasa bahkan hampir tidak pernah bersentuhan dengan laki laki yang bukan mahramnya.
"Lisa, lu cantik bahkan hati lu itu suci. Senyum lu juga bisa buat gw terdiam sejenak. Semua keindahan tenang lu itu berarti buat gw, Lis." Lisa terkejut bukan main karena Shean menggenggam tangannya dengan kuat.
"K-kamu ngomong apasih Shean.."
"Lu harus selalu senyum ya? Gw suka lihat lu senyum." Permintaan itu segera mendapatkan anggukan kecil dari Lisa.
"T-tapi bisa lepasin tangan aku gak.. Aku takut sama kamu." Suara itu hampir seperti berbisik, Shean yang mendengarnya hanya bisa menyeringai lalu melepaskan tangan kecil itu.
"Sorry ya gw buat lu takut. Gw cuma seneng kalau didekat lu."
"Kenapa gitu?"
"Karna lu beda. Lu cantik luar dalam. Banyak yang suka sama lu bahkan pengen deket sama lu, Lis."
Lisa terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Shean. Wajahnya sangat kebingungan, tapi ditengah kebingungan itu Shean hanya bisa terkekeh kecil melihat ekspresi kebingungan Lisa yang lucu.
"Udah jangan pikirin. Yang penting lu harus sering senyum ya."
"Satu lagi. Tentang barusan yang terjadi jangan sampe ada orang yang tau. Termasuk Akalla, paham cantik?" Shean tersenyum. Tidak ada yang tau apa arti dari senyumannya itu bahkan Lisa sendiri.
Gadis itu benar benar semakin kebingungan dengan tingkah Shean yang tiba-tiba berubah. Tapi setidaknya Shean sekarang jauh lebih baik daripada tadi. Walaupun hal itu membuatnya sedikit takut.
Diri Shean yang seperti ini belum terlihat sepenuhnya. Hanya Lisa yang baru melihat itu dan Shean akan pastikan, ia akan mendapatkan Lisa dan menjadikan Lisa miliknya sendiri.
"Gw pastiin lu bakal jadi milik gw, Lis.. Gw bakal milikin lu seutuhnya suatu saat nanti. Dan ga akan ada yang bisa halangin gw." Batin Shean.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
Storie d'AmoreCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
