"Emang sejak kapan aku ini anak, mama?."
"Perih.. Aku janji bakal rajin belajar ma. Tangan Al sakit.." Suara tangisan keluar dari anak laki kali berusia 7 tahun itu melihat pergelangan tangannya yang sudah memerah.
"Ini akibatnya kalau kamu gamau dengerin mama, Aldan." Wanita itu mencengkram sangat kuat pergelangan putranya.
"Mah sakit mah, tangan Aldan sakit."
"Obatin sendiri luka kamu! Mama ga peduli. Habis itu kamu harus belajar." Wanita itu lantas meninggalkan Aldan kecil yang sendirian.
"Kapan sih Aldan bisa ngerasain kasih sayang dari mama juga? Aldan cuma pengen disayang ma.." Gumamnya.
"Luka baru lagi ya.. Kapan luka ini bakal sembuh." Lirih Aldan sembari melihat tangannya yang kemerahan serta ada sedikit bercak darah disana.
"Aldan cape ma, Aldan cape.."
"Memangnya aku ga pantas buat bahagia ya?"
***
"Dasar anak bodoh. Bisa bisanya kamu ga dapat ranking umum! Malu maluin aja!" Ibu Aldan menyeret Aldan masuk kedalam rumah setelah pulang dari sekolah.
"Aku udah berusaha ma, aku udah belajar. Tapi otak aku cape kalau dipaksain belajar terus.."
"Berani kamu ngelawan mama?" Wanita yang dihadapan Aldan segera mengambil sesuatu di atas meja dan langsung menggoreskan benda tersenyum di lengan Aldan.
"Ma, sakit ma. Aldan minta maaf!! Sakit ma.." Aldan berteriak sekuat tenaganya, namun hal tersebut tidak mendapatkan rasa empati dari sang ibu.
"Rasain ini, siapa suruh kamu ngelawan mama." Angel menaruh kembali benda yang telah ia gunakan untuk menyiksa Aldan di atas meja dan meninggalkan anak itu sendirian.
"P-perih.. Padahal luka kemarin belum sembuh. Kenapa sekarang malah di tambah lagi sih lukanya?.."
Disisi lain Angel benar benar tenggelam dalam emosinya. Pikirannya bener bener kacau karena kejadian ini. Rasanya ia benar benar ingin menghancurkan sesuatu.
"Ah kenapa Aldan ga bisa dapat juara umum? Padahal dia udah mati matian belajar."
Angel mengangkat kedua tangannya, melihat kedua tangan yang ia gunakan untuk menyiksa Aldan. Benar benar menghampakan. Dirinya di hantui oleh rasa ketakutan, rasa takut kalau Aldan akan benasib sama sepertinya.
"Aldan.. Maafin mama. Mama cuma takut kamu bernasib kayak mama."
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Angel benar benar seperti orang yang menghampakan. Ada sewaktu waktu ia melihat Aldan yang sedang belajar didalam kamarnya. Begitu kasihannya anak itu harus terus terusan belajar.
Aldan sering sekali mendapatkan juara umum disekolahnya. Walaupun masih terbilang sangat muda, sekolah yang Angel daftarkan Aldan sangatlah berkualitas. Ia sering kali mengakui Aldan sebagai putranya jika mendapatkan juara umum.
Sebaliknya, ketika Aldan mendapatkan juara kelas. Angel benar benar tidak ingin datang dan mengambil rapot Aldan. Yang anak itu rasakan hanyalah sebuah kasih sayang yang sementara. Ataupun ia merasa disayang jika ia mendapat sebuah prestasi tinggi.
Kini Aldan sudah berumur 12 tahun. Ia tumbuh menjadi seorang anak yang sangat dingin ketika berinteraksi dengan orang lain. Bahkan untuk berteman pun ia tidak bisa. Karena ibunya sendiri melarang dia untuk berteman dengan orang lain terkecuali ia sudah masuk SMA.
Pagi minggu di rumah Aldan, seperti biasa. Anak itu selalu diperintahkan untuk belajar, belajar dan belajar. Aldan dan ibunya sedang berada diruang tamu. Tujuan ibunya adalah untuk memantau ia apakah belajar dengan baik atau tidak.
"Ma, hidup aku sampe aku gede nanti cuma belajar ya?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Angel mengalihkan perhatiannya ke Aldan.
"Kamu harus pinter, Aldan. Biar pas gede kamu ga di bodohi sama orang orang."
"Aldan tau kan kalau mama sayang banget sama Aldan?"
"Sayang yang mana mama maksud? Mama selalu nambahin luka ditubuh aku maupun di hati aku."
"Sayang.. Aldan kan tau sendiri mama susah kontrol penyakit mama dari kecil?"
"Tapi kenapa semuanya harus Aldan yang tanggung ma? Aldan anak mama. Bukan orang lain." Ucap Aldan setelah menatap sorot mata ibunya dan melepaskan pulpen yang tadinya ia genggam.
"Aldan.. Maafin mama. Mama cuma takut kamu bernasib kayak mama." Angel benar benar merasa bersalah karena telah memperlakukan Aldan sangat buruk. Namun tiba tiba penyakitnya kembali kambuh.
"Kenapa kamu ga belajar! Kamu mau mama hukum!?" Ucapnya dengan emosi yang cukup tinggi.
"Sial, terjadi lagi." Gumam Aldan.
"Kamu ga dengerin mama Aldan!? Belajar!" Angel menarik rambut putranya sendiri dan memaksakan Aldan untuk kembali belajar.
"MAH! SAKIT!! RAMBUT ALDAN SAKIT." Suara teriakan sukses keluar dari mulut mungil itu.
"Anak kurang ajar, berani beraninya kamu teriak kek gitu." Genggaman tangan itu semakin kencang pada rambut Aldan.
"Sakit, tolong jangan tarik rambut Aldan ma. Aldan bakal belajar lagi." Rintihan tersebut semakin kuat namun Angel tidak melepaskan tangan dari rambut Aldan.
"Mama gasuka kalau kamu ngelawan mama! Intinya sekarang kamu harus belajar!" Tangan itu menghilang dari kepala Aldan dan sekarang tinggal lah Aldan sendirian yang berada diruang tamu.
"Kenapa semua rasa sakit yang mama rasain harus Aldan yang nerima ma? Apa Aldan belum cukup untuk mama. Bahkan mama cuma mau ngakuin Aldan anak mama kalau Aldan dapat prestasi yang besar. Mama gatau perjuangan Aldan, mama terus terusan nyiksa Aldan dan bahkan pergelangan Aldan yang mana lukain aja masih membekas ma. Ma, Aldan cape." Air mata perlahan lahan keluar semakin deras. Laki laki kecil itu benar benar tak berdaya sekarang.
Rasanya ia ingin mengakhiri semuanya. Dianggap jika mendapatkan sesuatu yang lebih besar, diperlakukan seperti orang lain dan selalu disiksa. Siapa yang akan sanggup? Aldan benar baner merasa putus asa sekarang.
Padahal ia hanya ingin hidup seperti anak anak lain. Anak anak yang di sayangi oleh orang tua mereka. Bahkan jika ayahnya ada disini, Aldan akan merasa sangat bahagia. Begitu pula dengan ibunya sendiri.
"Aldan kamu anak mama, kamu harus nurut sama mama." Suara itu tidak lain dari Angel yang berada di ambang pintu kamar yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu.
Aldan sontak menoleh, sorot matanya benar benar sendiri. Banyak luka yang ia simpan selama ini. Hatinya benar benar terluka mendapatkan perlakuan dari ibunya yang sangat kurang kasih sayang.
"Anak. Emang sejak kapan aku ini anak, mama? Mama selalu perlakukan Aldan buruk. Aldan manusia ma, bukan robot." Dada nya benar benar sakit. Lebih sakit daripada luka pada tubuhnya yang Angel berikan.
"Aku punya mama, tapi kayak gadapetin kasih sayang. Yang aku dapetin cuma luka yang bahkan aku sendiri gatau luka itu kapan bakal sembuh." Angel benar benar terdiam, kalimat yang terlontarkan benar benar menusuk dadanya. Rasanya ia ingin menangis, namun ia sadar ia bukanlah ibu yang baik.
"Maaf sayang.. Maaf mama balum cukup baik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
