38. Aku adalah kamu

12 1 0
                                        

Situasi dihari ini lumayan sepi daripada biasanya. Entah hawanya terasa sedikit dingin. Akalla duduk sendirian. Mengingat kejadian hari ini yang sangatlah melelahkan baginya.

Diujung kelas ia duduk sendirian. Memikirkan hal apa yang harus dilakukan sekarang. Dan kemana tenan temannya yang lain? Ia sendiri tidak tau. Cuaca yang semula panas menjadi sedikit mendung sekarang.

Akalla merasa ada sesuatu yang aneh, kenapa tiba tiba cuaca mendadak mendung sekarang? Tanpa memperdulikan apapun ia kembali pada pikiran nya sendiri. Sampai ada seseorang yang berdiri tepat dihadapannya.

Orang itu terlihat tidak asing dimatanya. Dari postur tubuhnya terlihat seperti orang yang ia kenali. Tapi itu tidak pasti, Akalla berdiri dan menatap sorot mata orang tersebut.

"Napa, Baskara. Tumben banget lu ada dikelas." Tanya Akalla. Yap, itu adalah Baskara teman kelasnya sekaligus ketua kelas.

"Gapapa kal. Gw cuma mau nanya sesuatu ke lu."

"Hm? Nanya apaan."

"Bener tadi Shean nonjok anak kelas sebelah?"

"Oh jadi dah kesebar ya. Iya bener, itu karna tu orang hampir nyentuh Lisa." Jawab Akalla santai.

"Kenapa lu ga nonjok juga tu orang?"

"Wait, maksud lu? Gw hampir nonjok tu orang, cuma keduluan sama Shean."

Baskara mengangguk pelan tanda mengerti. Tapi ada hal aneh yang dirasakan oleh Akalla dari Baskara. Tidak biasanya ia ikut campur dengan hal hal seperti ini.

"Kenapa emangnya. Bukannya lu jarang mau ikut campur dalam urusan kek gini?"

"Gw ada lu, Akalla. Cuma lu belum ngerti sekarang." Perkataan itu sukses membuat Akalla kebingungan.

"Maksud lu apa. Lu itu gw? Aneh ku Bas."

"Ya entar lu bakal tau sendiri. Oh iya, mereka semua ada di UKS. Lisa pingsan karna syok sama kejadian tadi." Tanpa berlama-lama lagi Akalla meninggalkan Baskara didalam kelas dan dirinya menuju ke UKS.

Terlihat dari sana ada Amelia, Rine, Shean, bahkan Lisa yang baru sadar. Akalla mendekat, memerhatikan semua orang yang berada didalam ruangan itu.

"Akalla, lu kagetin kita semua tau gak." Itu bukan Amelia, melainkan Rine.

"Tau tuh, kirain siapa. Ternyata sahabatnya si kulkas ini." Sahut Amelia sembari menatap Shean dengan sinis.

"Mata lu sinis mulu ngeliatin gw. Punya dendam lu?"

"Nyenyenyenye, lu tuh yang berisik. Mana make acara bucin lagi."

"Aduh ampun deh gw. Lu berdua sehari tanpa berantem bisa ga sih."

"Kenapa kal. Kok kayak dikejar sesuatu gitu?" Tanya Shean.

"Gapapa kok, cuma khawatir aja sama Lisa. Makanya gw buru-buru kesini."

"Lisa aman kok. Cuma dikit pusing aja." Itu Rine.

"Syukurlah kalau dia aman."

***

Akalla duduk diatas sofa ruang tamu. Memikirkan tentang apa yang Baskara katakan padanya tadi sekolah. 'Gw adalah lu' kalimat itu benar-benar membuatnya hampir gila karena tidak mengerti apapun.

"Maksud Baskara apa sih? Gw ga paham sama sekali."

"Ah tau lah. Mending gw makan cemilan aja." Akalla beranjak dan menuju dapur. Melihat apa yang ada disana. Tak heran jika Akalla memiliki banyak stok makanan.

Saat sedang fokus membuat mie, Akalla mendegar suara langkah kaki yang sangat kecil. Bahkan itu nyaris tidak terdengar. Akalla mengesampingkan hal itu dan fokus pada mie nya saja. Tapi suara itu terus mengganggu nya.

"Siapa sih, berisik banget. Ganggu tau gak sih." Ucap Akalla yang masih menaruh bumbu mie pada mangkuk.

"Biasanya Bastian yang suka begini." Gumamnya.

"Bas, jangan main main. Ga lucu pranknya." Tidak ada suara sama sekali. Bahkan suara langkah kaki disana sudah hilang. Akalla berbalik melihat sosok Kanaya yang sudah dibelakangnya yang membuat dirinya itu terkejut.

"Astagfirullah, Naya! Kalau masuk tuh ngomong. Kasih salam gitu, jangan bikin kaget orang."

"Maaf Kall. Abisnya pintu ga kekunci. Yaudah gw langsung masuk aja." Jawab Kanaya dengan cibiran dibibirnya.

"Ngapain kesini? Udah sore, abang lu ga nyariin?" Akalla kini sudah memasak air dan merebus mie yang akan ia buat.

"Bang Dion.. Bang Dion tau kok gw kesini. Katanya biar gw ada temen."

Akalla menaikkan 1 alisnya, bersandar pada meja dapur sembari menatap Kanaya yang cukup pendek dari dirinya itu. Ia menghela nafas pelan, mengambil sebuah cemilan dari laci meja lalu memberikannya pada Kanaya.

"Gw tau lu lagi lapar. Makan ini, lu kan anaknya suka nyemil."

"Kok lu tau aja sih kalau gw lagi laper. Tapi makasih ya." Dengan senang hati Kanaya mengambil dan memakan cemilannya.

Akalla hanya berdehem, kembali pada mie yang dia buat. Membuang air mie yang sudah keruh lalu menuangkan mienya serta mengadum mie itu. Kanaya yang masih fokus makan cemilannya hanya menatap Akalla dengan seksama.

Wajah Akalla terlihat datar saat mulai duduk dikursi dapur. Laki laki yang merasa di tatap itu, menatap Kanaya kembali seolah mengisyaratkan untuk ikut duduk. Kanaya hanya bisa menuruti permintaan Akalla dan kembali memakan cemilannya.

"Kall, kok tumben makan mie. Bisanya juga makan sayur."

"Gw bukan Shean yang kalau makan itu harus make sayur mulu. Lagian ini juga dah cukup kok."

"Kenapa ga mesen aja? Atau minta bantuan siapa gitu buat masakin lu makanan. ART lu dimana."

"Gw malas pesan. Kalau gw minta tolong Shean buat masakin gw, yang ada kebakaran ni dapur. Dan soal ART gw, dia pulkam."

"Lu kok bisa ingat sih semua pertanyaan gw? Bahkan lu jawab semuanya."

Akalla memakan mie nya, menatap Kanaya yang terus-terusan menatapnya sejak tadi dengan ekspresi kebingungan. Ia sunguh tidak percaya harus berbicara sebanyak ini.

"Karna lu dari kecil bawel banget. Kalau ga ada orang yang jawab pertanyaannya lu, lu bakal rewel sendiri."

"Ya itu kan waktu kecil, beda lagi Akalla." Tangkas Kanaya yang sedikit tidak menerima jawaban dari Akalla.

"No. Semuanya sama Kanaya. Lu bakal tetap jadi anak yang suka dimanjain sama orang sekitar lu. Apalagi dulu lu sering banget manja sama Shean."

"Haha, iya. Gw dulu suka banget manja sama Shean." Terdengar tawa hambar yang keluar dari mulut gadis itu.

"Udah, jangan dipikirin. Lanjut aja makan cemilan lu. Kalau kurang ambil lagi dilaci." Ucap Akalla sebelum kembali memakan mie yang ada didepannya.

"Iya iya Akalla. Lu makan aja itu, tapi tumben lu masak mie?"

"Gw malas masak yang ribet-ribet. Keburu mati kelaparan. Lagian baru sekali doang gw makan mie."

"Btw Kall. Lu ga kesepian tinggal dirumah yang segede ini sendirian?" Kanaya melihat seluruh ruangan sebelum menatap Akalla.

"Kesepian ya? Kan dari kecil gw emang selalu hidup sendiri. Ga pernah dapat kehangatan sama sekali."

"Semua didunia ini hanyalah kepalsuan Kanaya." Sorot mata Akalla menatap Kanaya, gadis itu menjadi bersalah karena bertanya hal sensitif seperti itu kepada Akalla.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang