27. Memangnya salah ya?

17 1 0
                                        

"Maafkan aku, aku hanya ingin selalu bersama dia."

Gadis kecil bernama Kanaya itu, duduk didepan rumahnya. Melihat ke arah Shean dan Akalla yang sedang tidak baik baik saja. Ia kebingungan, kenapa Akalla seperti itu. Lebih emosional daripada biasanya. Abangnya—Dion sudah berdiri disampingnya, menatapnya dirinya dengan raut wajah yang kebingungan.

"Kenapa Naya natap mereka kayak gitu? Naya mau main ya sama mereka?" Tanya Dion sembari mengelus kepala Kanaya dengan sangat lembut.

"Gak abang, Naya cuma bingung kenapa Akalla lebih emosional daripada biasanya." Jawab Kanaya dengan wajah polos.

"Naya gatau? Orang tua Akalla baru aja meninggal, jadi wajar kalau dia gitu."

"Ooo.. Begitu ya abang. Pasti Akalla sedih banget sekarang."

"Nah, makanya Naya ajak mereka main aja. Biar Akalla ga sedih lagi"

"Tapi Naya takut abang, takut Akalla bentak Naya.."

"Lohh? Biar abang aja yang ngomong kalau gitu ya." Kanaya mengangguk, melihat itu Dion menghampiri Akalla dan Shean yang sedang berlarut larut dalam kesedihan.

"Hai, Akalla. Kamu pasti lagi sedih banget ya? Kanaya pengen hibur kamu, tapi dia takut kalau kamu bentak dia. Jadi aku yang ada disini." Laki laki yang seumuran dengan Akalla itu membungkuk, menatap sorot mata Akalla yang jelas sedang hancur.

Akalla hanya terdiam, menatap kearah Kanaya yang sudah daritadi melihatnya dari jauh sebelum menatap ke arah Shean yang berada di samping nya. Shean mengangguk sebagai memberikan jawaban, tidak ada salahnya kan?

"Shean sama Akalla langsung kerumah aja ya, kami bakal nerima kalian dengan baik kok." Senyuman di bibir Dion menjadi lebar, menyakinkan Akalla agar tetap tenang.

Shean menatap Dion sejenak, berjalan menuju kerumahnya sambil terus menenangkan hati Akalla yang sedang hancur. Kanaya yang melihat hal tersebut langsung berlari ke dalam rumah dengan sangat bergembira.

Dion dapat merasakan kehangatan kecil yang terbentuk dihatinya, karena melihat adik perempuan tersenyum bahkan sangat bersemangat hari ini.

Didalam rumah, Kanaya berlarian kecil di hadapan orang tuanya. Orang tuanya bingung dengan tingkah laku putri mereka, lantas bertanya apa yang membuat Kanaya sangat bersemangat.

"Naya kok keliatannya semangat banget. Kenapa banget keliatannya." Adrian—Ayah dari Dion dan Kanaya.

"Aku seneng banget karna Shean main kesini, pah! Sama Akalla juga." Jawab Kanaya.

"Shean.. Oo calon suami kamu pas gede nanti ya?"

"Iyaa! Aku seneng banget kalau dia mau main kerumah kita. Kira kira Shean udah tau belum kalau dia dijodohin sama aku pah?"

"Mungkin sudah, kalian berdua ayah jodohkan sejak.. Ayahnya Shean masih hidup."

"Bener, jadi Naya harus selalu bersikap baik sama Shean ya?" Ibu Kanaya—Elvira, menatap putrinya yang masih bersemangat hingga sekarang.

Tak lama kemudian Shean, Akalla, beserta Dion datang dan bertemu langsung dengan kedua orang tua Kanaya di dalam ruangan itu. Adrian dan Elvira tersenyum melihat kedatangan Shean begitu pula dengan Kanaya.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang