39. Malam saat hujan

8 1 0
                                        

Hari mulai gelap, awan telah mendung. Menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Rine yang sedang berjalan-jalan menatap kearah langit. Bentala menjadi tempat Rine berjalan kini menurunkan hujan.

Gerimis membasahi tubuh itu walaupun tidak banyak. Rine berhenti sejenak, berpikir apakah ada yang akan datang untuk menjemputnya sekarang? Secara ia seperti anak yang terbuang.

Terdengar suara motor yang mulai mendekati gadis itu. Awalnya ia bingung dengan siapa yang sudah berhenti disampingnya. Dan ternyata itu adalah Baskara setelah laki-laki itu membuka helmnya.

"Loh.. Lu kok bisa disini." Tanpa ada jawaban Baskara malah menyodorkan helm yang dia bawa.

"Apaan sih, napa ngasih gw helm?"

"Naik, Rine. Bentar lagi hujan."

"Gak, gak. Gamau gw, eh tapi lu kayak ga asing."

"Gw ada lihat lu diperpus tadi pas sama Amelia."

"Lu yang namanya Baskara itu ya, pantes."

"Jangan banyak omong, buruan naik." Perintah Baskara.

"Iya iya, bawel amat lu." Rine berdecak kesal, segera menaiki motor dan menggunakan helm. Disaat Rine sudah naik, Baskara langsung menancap gasnya yang membuat Rine harus memeluk dirinya.

"WOY! PELAN PELAN KEK. GW KAGET NJIR." Sahut Rine dari belakang yang masih belum sadar bahwa ia sudah memeluk Baskara.

Sedangkan Baskara hanya terdiam. Sibuk mengemudi, sesekali ia membuka helmnya untuk bertanya pada Rine. Hari sudah mulai gelap, Rine melihat langit yang memiliki nuansa warna yang indah.

Hujan deras membasahi tubuh mereka berdua yang masih dalam perjalanan pulang. Rine sangat menikmati saat hujan mulai turun dengan sangat lebat. Sedangkan Baskara hanya memperhatikan gadis itu dari kaca spionnya.

"Lu suka sama hujan?" Tanya Baskara yang fokus mengendarai motornya.

"Gw suka banget sama hujan, apalagi kalau lebat begini. Tapi gw gasuka sama petir."

Baskara hanya terdiam. Melanjutkan perjalanannya sampai menuju kerumah Rine. Gadis itu kebingungan, bagaimana bisa Baskara tau rumahnya? Apakah dia ini seorang penguntit?

"Kok lu tau rumah gw, sih. Stalker ya lu."

"Apalah. Gw dikasih pesan sama Amelia tadi, kalau gw lihat lu dijalan dimintain anter pulang. Terus alamat rumah lu dikasih." Jawab Baskara dengan datar.

"Terus kenapa lu mau mau aja?"

"Karna dia hampir mukul gw."

***

Kanaya masih didalam rumah Akalla. Menunggu hujan berhenti agar bisa pulang. Akalla melihat gadis itu seksama. Menepuk pundaknya yang sukses membuat Kanaya terkejut.

"Mau gw anterin pulang gak?. Ga bakal berhenti kayaknya ni hujan." Tanya Akalla sembari menatap kearah luar.

"Gak usah. Gw udah suruh bang Dion buat jemput kok, Kall. Bentar lagi juga datang."

Akalla hanya mengangguk pelan, setelah menunggu beberapa saat Dion datang dengan membawa payung untuk menjemput Kanaya. Akalla hanya tersenyum tipis pada Dion dan melirik Kanaya sejenak.

"Gw pulang dulu ya, Kall. Makasih dah izinin mampir."

"Thank ya, kall. Beberapa hari ini lu selalu nemenin Kanaya."

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang