45. Sesuatu yang membekas

6 1 0
                                        

2 minggu setelah kejadian tersebut.

Langit pagi di kota kecil tempat Dion tinggal tampak biasa saja. Awan menggumpal tenang, menyisakan celah bagi sinar matahari menyusup perlahan. Hawa masih sejuk, aroma embun dan tanah basah menguar dari rerumputan halaman. Burung-burung gereja saling bersahut dari balik dahan mangga tua di halaman depan.

Dion duduk sendirian di meja makan, sendok di tangan kirinya hanya menyentuh setengah dari nasi goreng yang sudah mulai dingin. Ia menatap ke arah pintu depan yang sedikit terbuka, membiarkan udara pagi masuk. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran hari Minggu.

Ia sudah terbiasa dengan kesepian, sejak Kanaya-adik perempuannya-menghilang dua minggu lalu. Tidak ada jejak, tidak ada pesan. Polisi sudah datang, mengobrak-abrik kamar Kanaya, dan pergi tanpa hasil. Dion tidak menyalahkan mereka; ia sendiri juga tidak tahu harus mulai dari mana. Hanya ada satu hal yang terus membekas dalam pikirannya: sebuah kartu hitam yang ia temukan di meja belajar Kanaya. Kosong. Tak ada nama, tak ada angka. Hanya hitam, seolah menyerap cahaya.

Sret.

Dion menoleh cepat ke arah suara. Hanya tirai jendela yang bergerak ditiup angin. Tapi sesuatu terasa ganjil. Ia berdiri dan melangkah pelan ke jendela, mengintip ke luar. Tidak ada siapa-siapa. Namun dadanya berdebar.

Ia kembali duduk. Mencoba makan lagi. Satu suap. Dua suap.

Tok. Tok.

Suara ketukan pelan di jendela ruang tamu. Dion membeku. Siapa yang datang sepagi ini? Ia berdiri, melangkah perlahan ke ruang tamu. Jendelanya masih tertutup. Tirainya bergoyang pelan, membiaskan cahaya pagi yang lembut. Tapi tidak ada siapa-siapa di luar.

Ketika ia mendekat dan menyibak tirai, napasnya terhenti. Di kaca jendela, ada bekas tangan. Seolah seseorang-atau sesuatu-menempelkan telapak tangannya di sana. Tapi anehnya, bekas itu seperti... dari dalam. Dion buru-buru membuka jendela. Dingin. Kosong.

Ia menyentuh permukaan kaca dari luar. Kering. Tak ada bekas. Ia kembali menutup jendela, dan kali ini melihat sesuatu tergeletak di lantai ruang tamu.

Sebuah kartu hitam. Seperti yang ia temukan di kamar Kanaya. Ia menatap kartu itu lama. Kemudian, dengan tangan sedikit gemetar, ia memungutnya.

Saat itu juga, angin berhembus kencang dari belakang, memadamkan lampu dapur yang tadi ia nyalakan. Sejenak semua menjadi hening. Kemudian terdengar suara-halus, pelan, seperti bisikan-tapi cukup jelas untuk membuat kulit Dion merinding.

"Bang Dion..." Itu suara Kanaya.

Dion menoleh cepat ke arah dapur. Tak ada siapa-siapa. Tapi suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, di belakangnya.

"Jangan percaya apa yang kau lihat..."

Ia berbalik.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Jantungnya berdetak liar. Ia menatap kartu hitam di tangannya-dan sekarang, di tengah kartu itu, muncul sebuah simbol merah. Tiga garis seperti cakaran, menyilang tajam, seperti ditoreh paksa.

"Ini cuma halusinasi gw... Ini cuma mimpi buruk, kan?.." gumam Dion, meletakkan kartu itu di meja dan mundur.

Tapi bayangan di sudut ruangan seolah menebal. Di antara temaram cahaya pagi yang masuk lewat celah-celah jendela, bayangan itu tampak bergerak. Langkah kaki halus di lantai kayu. Lalu lagi.

Dion melangkah mundur. Tangannya meraih ponsel di saku. Layar menyala. Tapi bukan layar beranda yang muncul.

Melainkan... foto. Foto dirinya. Sedang tertidur di tempat tidur semalam.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang