Suara pecahan kaca terdengar sangat jelas, bahkan darah sudah mengalir diseluruh tempat. Semuanya seperti gelap, hampir tidak menyisakan cahaya untuk masuk.
"Bajingan! Sampai kapan gw harus kek gini..!?" Nafas yang memburu, darah yang terus menerus mengalir merupakan darah segar. Seorang gadis menatap ke cermin yang baru saja ia pecahkan itu.
"Lu cuma anak haram." Ucapnya melihat diri sendiri. Menatap sekeliling kamar yang sudah berantakan oleh ulahnya.
"Lu cuma beban dihidup orang lain!" Emosinya semakin meningkat bahkan kembali memecahkan kembali kaca dihadapannya itu.
Perlahan ia menangis dalam diam. Hanya pilu yang bisa dirasakan olehnya. Darah segar kembali mengotori sekelilingnya. Namun ia berusia tidak peduli. Rasa sakit pada tangannya itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia dapatkan selama ini.
"Lucu ya. Ternyata gw gak pernah sembuh sekalipun." Ucapnya lirih menatap sebuah benda yang berada diatas meja.
"Luka ini ternyata ga sebanding sama luka yang lu kasih."
"Lu pengecut, brengsek, sialan. Gw benci sama lu.." Dada gadis itu semakin terasa sesak. Air matanya semakin deras. Tangannya bergemetar bahkan ia sampai berlutut di lantai.
Gadis itu menatap tangannya sendiri. Merasakan rasa sakit yang seperti menusuk dadanya. Semuanya terasa sakit sekarang. Hancur, dirinya sangat hancur mengingat semua memori kelam yang terus menerus menghantui dirinya.
"Sakit.. Hati gw sakit! Gw cuma mau hidup dengan tenang dan bahagia. Emang sesulit itu ya?."
"Apa guna nya gw hidup, kalau cuma buat nyusahin orang."
Perlahan hari mulai gelap. Terdengar sangat sunyi disana. Bahkan Amelia yang masih terus terusan menangis sejak tadi walaupun tak sederas sebelumnya. Ia melihat kearah sekelilingnya. Melihat sagat berantakan berantakan nya tempat itu karena "penyakit" nya kembali kambuh.
Ia menghela nafas berat, menarik rambutnya sendiri untuk membuat dirinya lebih tenang sekerang. Hari ini Amelia tinggal dirumah sendirian, jadi kekacauan ini bisa ia urus nanti. Gadis itu semakin merasa tidak senang. Entah bagian mana yang terasa sakit, tapi sepertinya ia tidak akan pernah merasakan yang namanya "sembuh".
Amelia berdiri dari sana. Darah yang mengotori semua tempat mulai kering. Mengabaikan hal tersebut dan mencari kotak P3K untuk mengobati tangannya itu. Pikirannya semakin melayang-layang saat melihat tangannya yang sudah ia perban itu. Ditengah tengah lamunannya itu, ia mendengar sesuatu.
Sesuatu yang sangat menganggu indra pendengarannya. Bagaimana mana bisa malam hari seperti ini terdengar suara lonceng? Bukankah hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi? Kenapa ia merasa seperti mendengar suara lonceng disana. Bahkan suara itu terasa semakin keras.
Amelia terus menerus mengabaikan suara itu. Tapi entah kenapa, semakin ia mengabaikan semakin jelas terdengar. Suara itu sangat menganggunya saat ini. Bahkan tanpa disadari terlihat tanda X berwarna merah di pergelangan gadis itu.
"Sialan. Suara lonceng itu ganggu banget. Siapa sih yang bunyikan lonceng jam segini?" Tanya Amelia dengan ketus.
"Masih jam 19.00?" Ia menghela nafas setelah melihat jam di dinding. Tanpa ragu ia menyalakan seluruh lampu yang ada di rumahnya. Setidaknya sekarang lebih terang.
"Gw sumpahin yang bunyikan lonceng malem-malem gini hidupnya gak tenang."
Setelah mengucapkan hal tersebut, ada seseorang yang mengetuk pintu Amelia. Dia mengangkat 1 alis nya bertanya siapa yang berkunjung malam-malam seperti ini? Tanpa berfikir lagi Amelia menuju pintu dan membuka pintu disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sesuci Cintamu
RomanceCerita ini mengisahkan tentang sebuah cinta segitiga. Satunya ingin dicintai karena kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan yang lain sudah menyukai sejak pertama kali bertemu. Mereka berdua sahabat dari kecil dan menyukai 1 gadis canti...
