24. Siapa sebenarnya?

14 1 0
                                        



Rin dan Amelia membawa Shean ke UKS untuk mendapatkan perawatan yang lebih layak. Sementara Aldan masih memegangi Akalla yang terus terusan tenggelam didalam emosinya sendiri. Hal tersebut membuat perhatian semua orang yang berada dikantin menuju ke arah mereka berdua.

"Seriusan ga sih itu Akalla sama Shean barantem? Shean sampe lemes gitu." Bisik salah satu siswi ke teman disampingnya.

"Seriusan lah, tapi anehnya Shean ga mukul Akalla balik."

"Jelas lah, orang mereka kan udah sahabatan dari kecil. Jadi Shean lebih kenal Akalla kayak gimana, makanya dia ga mau bales."

"Eh iya juga ya, tapi katanya mereka kek gitu gara gara ada 1 cewe yang nabrak Shean gitu."

"Eh seriusan? Tau dari mana lu."

"Lu nya aja yang gak merhatiin dari tadi. Terus lu tau Criss ga?"

"Criss? Anak kelas 10 IPA II itu?"

"Iya, dia tadi ngejambak tu cewe tau."
"WHAT? Seriusan!??"

"Iyalah, sampe semuanya tuh ya ngelihat dia. Kayanya itu saudara tirinya deh."

"Kayaknya sih ya, eh tapi siapa sih nama tu cewe? Heran banget gw bisa bisanya dia nabrak Shean."

"Lyorenz, Criss benci banget sama tu cewe. Gw gatau sih apa alasannya."

"Kasihan sih, tapi yaudahlah. Itu kan urusan keluarga mereka."

Dan masih banyak lagi yang Aldan dengarkan dari semua keributan yang ada di kantin tersebut. Ia menghela nafas, menatap Akalla yang mulai terdiam karena mendengar gosipan dari orang orang yang berada disitu.

"Kal, ayok kita ke tempat yang lebih sepi. Ke taman belakang sekolah misalnya?"

"Hm.." Tidak ada jawaban sama sekali dari Akalla, ia menatap Aldan yang terus terusan berbicara dengannya dengan tatapan datar.

"Lu mau? Sekalian refresing." Sambung Aldan

"Boleh deh, gw.. Butuh waktu buat nenangin diri." Akalla menghela nafas berat, tapi pada akhirnya ia menerima tawaran Aldan.

Aldan hanya menganggukan kepala menerima jawaban dari Akalla, sepertinya ia mulai sedikit lebih tenang dari api yang membara pada dirinya. Akhirnya mereka berdua pergi kebelakang taman sekolah, sesampainya disana Akalla dan Aldan tetap berdiam diri.

Laki laki yang sedang dalam emosinya itu, terus menghirup udara segar dan berusaha untuk tenang agar pikiran nya tidak kemana mana.

"Akalla, kalau gw boleh nanya.. Lu bakal marah ga?" Ucap Aldan yang berusaha mencairkan suasana.

"Tanya aja Al, gw ga keberatan sama sekali kok." Akalla melihat ke arah orang yang berada di sampingnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Alasan lu tiba tiba mukul Shean sampe kek tadi, apa?. Dilihat lihat.."

"Gw cuma kurang bisa kontrol emosi gw, Al. Lagipula, Shean tau gua anaknya emang begitu. Jadi dia gak mau ngebales pukulan dari gw."

Aldan terdiam, memikirkan topik berikutnya agar tidak membuat Akalla merasa bersalah ataupun sebagainya kepada Shean setelah apa yang telah ia lakukan tadi.

"Gw kangen sama 'mereka', Al." Celetuk Akalla.

"Maksud lu 'mereka' itu siapa?" Aldan terus memandangi Akalla dengan wajah yang sedikit penasaran.

"Sahabat kecil gw, ya lu tau sendiri lah. Yang anak anak lain bilang tadi, gw sama Shean emang sahabatan dari kecil."

"Kita juga punya sahabat lainnya, 3 cewe. Tapi, gw sama Shean sama sekali ga ingat wajah mereka ber 3."

"Memangnya.. Belum ada petunjuk sama sekali?" Tanya Aldan penasaran.

"Shean sempat mimpi tentang mereka, tapi.. Hasilnya tetap sama. Wajah mereka blur dan kita berdua gatau keberadaan mereka ber 3 sekarang dimana." Jawab Akalla yang masih setia menatap Aldan dengan wajah tanpa ekspresi.

"Lu sama Shean bakal nemuin mereka kok. Cuma belum waktunya aja."

"Wkwk, iya Al. Gw.. Cuma sedikit kangen sama mereka. Kangen persahabatan gw yang dulu."

Di UKS •

"Baring dulu Shean, lu keliatan lemes." Ucap Rin yang sedang membaringkan Shean diatas kasur UKS.

"Makasih Rin, Amelia." Laki laki itu berbaring diatas kasur sembari menatap 2 perempuan yang berada di sampingnya.

"Kenapa lu ga bales Akalla tadi?" Tanya Rin sembari menatap sorot mata Akalla yang masih tidak ada semangat sama sekali.

"Udah biasa itu, Rin. Dia anaknya emang susah kontrol emosi." Jawab Shean dengan suara yang sedikit lemah.

"Maafin kita ya soal tadi. Tapi emang gw ga bisa lihat Lisa di gituin Shean, lu tau sendiri kan?" Amelia menatap Shean dengan tatapan yang cukup merasa bersalah namun sedikit tegas.

"Iya Mel, gw tau kok. Cuma adkel tadi tuh.."

"Jangan bahas dia lagi Shean, semakin lu bahas semakin besar kemungkinan lu bakal suka. Dan kalau sampe yang lain tau, lu habis sama Akalla." Sahut Rin yang sudah cukup muak dengan drama hari ini.

"Ah iya.. Lu bener Rin. Tapi Lisa dimana sekarang?" Tanya Shean yang berusaha mengganti topik agar suasana tidak tegang.

"Lisa biar jadi urusan gua aja nanti. Dia butuh waktu sendiri sekarang."

"Oke mel, gw harap lu bisa ketemu sama Lisa ya."

Suasana ruangan tersebut menjadi hening, hanya ada suara AC dan jam dinding yang terus berbunyi. Shean menatap kearah seluruh ruangan, memastikan pikirannya bisa tenang tentang Lisa.

"Lisa.. Maafkan aku. Aku salah, jadi tolong kembalilah." Batin Shean.

"Lisa, lu sebenarnya punya perasaan apa ke Shean? Kenapa.. Kenapa dari sorot mata lu kek ada sesuatu tadi." Tanya Rin pada dirinya sendiri.

***

Gadis itu terdiam, menatap kedirinya sendiri. Melihat tangannya yang sudah memerah dan gemeteran karena kejadian hari ini. Tangan mungil itu memegang dadanya yang sakit, rasa sakit yang bahkan sebelumnya tidak pernah ia rasakan.

Butiran butiran embun mulai mengalir dari matanya, menahan rasa sakit yang datang jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Wajahnya sekarang sangat memerah, ia berusaha berteriak tapi ada sesuatu yang membuat nya tidak bisa melakukan hal itu.

Saat sedang menangis, ada seseorang yang melihatnya. Dengan cepat menghampiri Lisa yang sudah seperti orang yang putus asa.

"Hey, kenapa lu ada disini?" Suara itu berhasil membuat Lisa terkejut dan sontak menghadap kearah sumber suara.

"Bentar, lu Lisa kan? Kenapa lu nangis disini.. Di lorong sepi kek gini?."

"Ah iya aku Lisa, aku gapapa kok. Nama kamu siapa?" Dengan cepat Lisa mengusap air mata nya dan berusaha untuk tidak gemeteran lagi.

"Gw Kanaya, kayaknya kita pernah ketemu deh sebelumnya."

"Kanaya.. Bukannya katanya hari ini kamu ga sekolah ya?"

"Oh iya, sebenarnya sih begitu. Cuma bosen aja dirumah, makanya gw sekolah hari ini. Btw, lu kenapa nangis?"

"Gak, aku gapapa. Cuma sedikit demam hari ini, makanya bawaannya mau nangis."

"Tapi kok gw ga yakin ya?" Kanaya terus menatap mata Lisa yang sedang berbohong padanya. Entah apa, tapi ia merasakan sedikit sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan tentang keberadaan Lisa sekarang.

"Aku serius, j-jangan natap aku kek gitu.. Aku sedikit takut.."

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang