43. Sebuah janji

8 1 0
                                        

Disaat semuanya masih panik. Aldan segera datang, namun hanya berdiam diri di ambang pintu untuk melihat apa yang akan terjadi sekarang. Akalla yang dibantu hanya Shean memasang wajah tenang. Sedangkan Amelia masih gemeteran.

"Gw gapapa kalau lu nonjok gw, Mel. Tapi kasih tau gw alasan lu tiba-tiba kek gini. Orang lain gabakal tau kalau lu ga ngasih tau, Mel."

"Gw bilang gausah ngomong sama gw! Gw cuma butuh ketenangan. Gw bahkan semalaman ga bisa tidur, energi gw bener-bener kekuras abis!"

"Gw ga sanggup buat ngejawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut kalian itu. Gw stres! Gw cuma butuh waktu buat tenang dan sendirian." Amelia berteriak histeris. Air matanya berlinang semakin deras disana. Ia mulai menyakiti diri sendiri seperti menjambak rambut nya.

Lisa yang melihat kondisi Amelia sangat ketakutan. Apalagi ia berada didekat gadis itu sekarang. Shean menjelajahi seluruh ruangan, melihat Lisa yang tampak ketakutan. Ia berjalan dan membawa Lisa lebih menjauh. Aldan juga mulai berlari mendekati Amelia untuk menenangkannya.

Aldan memeluk erat tubuh itu. Memberikan sebuah kehangatan pada tubuh mungil yang berada di dekapannya. Amelia masih terbawa arus oleh emosinya. Ia semakin berteriak dan tubuhnya seperti memintanya untuk dilepaskan. Namun kekuatan Aldan jauh lebih kuat untuk tidak melepaskan pelukan itu.

Sedangkan Shean dan Lisa hanya menyaksikan kejadian tersebut. Shean tidak menyadari ia masih mengenggam tangan Lisa dengan erat. Akalla yang melihat itu hanya terdiam. Ia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun sekarang. Hanya mengerang karena kesakitan, kekuatan Amelia jauh lebih besar daripada biasanya.

Shean yang mendengar Akalla mengerang sontak melirik sahabatnya. Ada wajah yang sedikit khawatir disana namun ia berusaha mempertahankan sifatnya yang tegas sekarang.

"Lu gapapa kan, Kal? Itu sampe keluar darah dikit dari pinggir bibir lu." Pertanyaan itu mendapatkan anggukan dari Akalla.

"Gapapa kok gapapa, lagian ga terlalu sakit kok. Biasa aja ini, entar juga sembuh."

"Kamu harus langsung obatin itu, Akalla. Entar kalau ga makin menjadi-jadi rasa sakitnya."

"Gapapa kok Lisa, aman." Akalla tersenyum tipis, tapi dibalik senyum itu ada sesuatu yang ia sembunyikan setelah melihat Shean masih menggenggam tangan Lisa begitu kuat.

"Kalian pacaran ya. Erat banget tu tangannya." Mereka berdua yang menyadari hal tersebut langsung melepaskan genggaman tangan itu.

"Akalla fitnah. Aku sama Shean ga pacaran. Kata ummi gaboleh pacaran."

"Haha, iya iya Lis. Bercanda doang kok."

Keadaan diantara mereka berbertiga sedikit canggung. Namun Akalla kembali menoleh kearah Aldan yang masih menenangkan Amelia. Gadis itu terlihat rapuh sekarang. Entah apa yang sedang dia alami. Yang pasti hanya Aldan dan Lisa yang bisa menenangkannya.

"Melia, udah. Kenapa lu tiba-tiba begini? Ada sesuatu yang ganggu perasaan lu?"

"GW BILANG JANGAN SENTUH GW!!!"

"Mel, ini gw Aldan. Lu kambuh lagi ya?" Suara itu melembut. Bahkan api pada diri Amelia perlahan lahan padam karena dirinya merasa kewalahan. Aldan membelai punggung kecil itu. Sedangkan Amelia masih menangis sesegukan.

"Tenang. Ga bakal ada yang berani sentuh lu. Kalau ada pun gw gabakal bisa maafin diri gw sendiri, Mel." Laki-laki itu terdiam. Rasa sakit yang ia dapatkan sama seperti kejadian sebelumya.

Suasana dikelas perlahan menjadi normal kembali. Seseorang yang berada di pojok kanan kelas tersenyum. Entah apa maksud dari senyuman tersebut. Lisa, Shean, dan Akalla yang awalnya tegang merasa sedikit lega melihat Amelia tenang karena kehadiran Aldan.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang