50. Akhir dari segalanya

7 2 0
                                        

Disisi lain ada wajah yang sangat bahagia karena telah membalaskan dendamnya. Begitu bahagia tanpa memikirkan perasaan dan hukuman yang akan ia dapatkan. Seperti tidak peduli dan tidak berperasaan. Tentu aja itu Lyor—anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung maupun ayah sambungnya.

Sosok lainnya datang dengan wajah kecewa dan marah. Tidak pernah membayangkan permainan gila yang diciptakan oleh pelaku akan sejauh ini bahkan sampai merebut nyawa orang lain. Sosok itu tiada lain adalah Criss.

Criss mendorong Lyor sangat kuat ke dinding—bahkan hampir saja ingin mencekiknya disana. Wajah Criss benar benar kecewa dan marah saat ini. Ia tidak mengerti sebenarnya apa isi otak dari gadis yang berada di hadapannya sekarang.

"Lu gila ya!?? Lu udah buat banyak korban kek gini! Sadar ga sih lu, ha? Gw ga tau apa isi otak lu ini!" Criss memojokkan Lyor yang tidak memiliki ekspresi sama sekali bahkan menunjuk kepala gadis itu.

"Gw gila? Lu bercanda ya? Gw waras. Yang gila itu lu semua."

"Kalau lu waras, lu ga mungkin ngelakuin semua hal gila kek gini!"

"Dan darimana lu tau ini semua perbuatan gw?"

"Lu fikir gw ga tau niat jahat lu itu? Mulai dari lu neror mereka semua sampai berakhir kek gini. Gw tau, gw tau!!"

"Lu bahkan ngehilangin nyawa orang yang gak bersalah."

"Gak bersalah? Lucu ya. Jelas mereka salah."

"Salah mereka dimana gw tanya sekarang? Lu cuma beban dan irian doang!"

"JAGA YA MULUT LU!" Lyor mendorong sisi kanan Criss dengan cukup kuat.

"Apa? Bener kan apa yang gw bilang. Lu sama mama lu itu cuma numpang di kehidupan gw dan papa gw!"

"Gw ga pernah sekalipun nerima keberadaan kalian dirumah gw sendiri."

"Enak ya jadi lu, dapat kasih sayang dari ayah. Dapat warisan juga, sedangkan gw? Gw dapat apa coba?"

"Lu ga pantas buat dapetin apapun didunia ini. Lu cuma cewe gajelas yang tiba-tiba masuk ke hubungan orang lain sama kek mama lu itu!"

"LU- LU GA ADA ETIKA SAMA SEKALI YA?" Emosi gadis itu memuncak.

"Oke gw akuin gw iri sama lu yang dapat semuanya. Tapi setidaknya lu jangan ngehina mama gw!"

"Iri? GW BAHKAN SENANG KALAU LU IRI! Lu ga pernah berharga buat orang lain, penghancur hubungan orang"

"Bahkan kak Shean yang hampir ngelamar kak Lisa lu renggut nyawa nya! Lu cewe gila yang cuma iri dengki sama kehidupan orang lain dan haus kasih sayang!" Criss benar-benar muak dengan tingkah laku saudari angkatnya itu. Bahkan untuk menyebutkan namanya saja ia tidak ingin.

"GW BENCI SAMA LU! Gw benci sama semua orang! Lu jahat, lu brengsek tau ga!?"

"Kalau gw jahat, terus lu apa? Oh gw lupa. Lu kan iblis. Lu bahkan ga pantas buat semua orang." Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Criss sangat menyakitkan bagi Lyor.

Gadis itu perlahan mendekat kearah Criss dengan sesuatu di belakangnya. Setelah semakin dekat, Lyor menusuk Criss dengan pisau yang sangat tajam yang bahkan sampai membuat Criss membungkuk dan tersungkur dilantai.

"L-lu.. Dasar jalang.." Rintihan yang menyakitkan bisa terdengar di telinga Lyor. Dengan pisau lainnya, gadis itu justru menusuk punggung disana dengan sangat sadis dan kejam.

Darah dimana-mana, bahkan hampir disetiap ruangan yang ada. Tidak ada ekspresi apapun, hanya mata yang penuh dendam. Tapi ia berfikir semuanya telah berakhir sekarang. Tidak ada yang benar-benar tau.

Seseorang mengintainya dari kejauhan. Menyiapkan sesuatu untuk benar-benar mengakhiri permainan yang telah dia buat. Satu tembakan berhasil mengenai jantung Lyor. Gadis itu tidak pernah berfikir, ia akan ikut menghilang bersama permainan bodohnya ini.

Lyor tersungkur tepat di samping mayat Criss, sangat tak berdaya. Sangat malang sekali—terdengar suara langkah kaki yang perlahan-lahan menyita perhatiannya. Sosok itu berdiri di hadapan, tebak siapa?

Baskara—Baskara mengikuti cara bermain Lyor agar mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Dan dugaannya benar, gadis yang tersungkur di bawah adalah pelaku dalam teror gila yang terjadi sebelumnya.

"Gadis malang. Lu seharusnya jangan sampai ngelakuin hal sejauh ini. Dan lu bakal hilang dengan permainan lu sendiri."

"B-brengsek.. Gw benar benar benci lu—" belum menyelesaikan kalimatnya, Baskara kembali menembak Lyor. Tapi kali ini di bagian kepalanya.

Suara itu membuat Dion, Lisa, dan Aldan mencari sumber suara. Sesampainya nya mereka, Dion tidak heran jika Baskara ada disini. Sedangkan Lisa dan Aldan tidak percaya Baskara juga melihat semuanya sejak awal.

"Gw dah musnahin pelakunya, Dion. Lu ga perlu ngotorin tangan lu buat balas dendam."

"Thanks ya, Bas. Lu paling tau perasaan gw setiap saat."

"Sumpah.. Ternyata dia dalang dari semua ini? Dasar cewe gila lu pantas buat dapetin semua ini akibat perbuatan lu itu."

"Semuanya sudah selesai kan, tunggu apalagi. Kita harus pergi dari sini." Setelah kejadian itu, mereka membawa mayat teman-teman mereka dan menguburkan nya dengan layak. Kini semuanya hanyalah kenangan saja.

***

1 tahun setelah kejadian tersebut, Dion datang kerumah Lisa untuk melamarnya. Lisa yang melihat kedatangan Dion terkejut bukan main. Apalagi dikondisi ia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun bersama Dion.

"Lisa, will you marry me?" Tak ada jawaban Lisa. Yang ada hanyalah sebuah helaan nafas yang cukup panjang.

"Maaf, aku gabisa.. Aku belum bisa nerima semuanya. Terutama kejadian 1 tahun lalu."

"Aku tau ini berat buat kita, tapi semuanya juga harus tetap ngejalanin hidup."

"Aku benaran gabisa, Kak Dion. Disisi lain aku masih trauma sama kejadian itu. Dan sisi lain.. Aku masih punya rasa ke Shean."

"Jadi aku di tolak ya, Lis?"

"Maaf kak.. Tapi untuk saat ini, yang ada dihati aku cuma Shean. Walaupun Shean udah pergi, aku tetap ngerasa dia masih disamping aku."

"Haha, it's okay. Aku juga gabisa maksain kamu. Semoga kamu bahagia terus ya, Lis?"

"Pasti kak. Tolong cari cewe lain selain aku ya, aku cuma mau Shean untuk saat ini.. Dan maaf."

"Tenang aja. Aku ngerti kok Lis. Kalau gitu aku pamit dulu ya." Lisa hanya mengangguk pelan sembari melihat punggung Dion yang semakin menghilang dari pandangannya.

Apakah ia salah jika seperti ini? Menolak seseorang yang ingin bersanding dengan nya. Tidak ada yang tau, tapi perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Begitupula dengan perasaan Lisa.

Di dunia yang seluas ini, Lisa merasa beruntung bisa mengenal Shean walaupun tidak bisa bersamanya. Walaupun seperti itu, perasaan Lisa terhadap Shean tidak akan pernah berubah begitu pula sebaliknya.

"Cantik.. Selalu cantik.."
-Unknow.

TAMAT.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang