46. Tenggelam dalam bayangan

6 0 0
                                        

Langit sore tampak buram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menanti waktu yang tepat untuk mencurahkan hujan. Di antara lorong-lorong sempit dan jalanan tua yang mulai ditinggalkan oleh pejalan kaki, dua sosok remaja berjalan berdampingan dalam diam. Langkah mereka lambat, berat, seolah bayangan yang mengikuti di belakang adalah sesuatu yang tak terlihat, namun terasa begitu nyata.

Aldan memasukkan tangan ke saku jaketnya. Nafasnya keluar pelan, membentuk kabut tipis. "Lu yakin tempat ini belum pernahlu datangi sama sekali?" tanyanya, menoleh ke arah gadis di sampingnya.

"Gw yakin. Tapi gw pernah dengar cerita tentang daerah ini... dari abang." Kanaya, dengan rambut panjang yang dikepang samping dan ransel kecil di pundaknya, menggeleng pelan.

"Dion?" Aldan menatapnya sejenak.

"Iya. Dia bilang... dulu tempat ini sempat jadi jalur pelarian. Ada yang bilang beberapa siswa hilang di sini, waktu itu." Kanaya mengangguk.

"Kenapa lu pengen banget kesini?" Aldan menelan ludah, tak nyaman.

"Entahlah, tapi yang pasti gw punya firasat aneh tentang tempat ini." Kanaya terdiam sejenak. Matanya menatap ke ujung jalan yang mulai diselimuti kabut tipis.

"Lu jangan ngelakuin hal gila, Nay." Aldan menghentikan langkahnya.

"Tapi kita harus cari tau lebih lanjut." Kanaya memandangnya.

"Lu bener, setelah semua yang kita alami-kartu hitam, tanda merah, suara lonceng-semuanya kek janggal"

"Gw cuma pengen tahu... Semuanya kayak ga masuk akal." Kanaya menggigit bibirnya.

"Baik. Kita akan cari tahu bersama. Tapi kalau ada yang aneh, kita langsung pergi. Sepakat?" Aldan mendesah, lalu mengangguk.

"Sepakat."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalanan mulai berubah bentuk, dari aspal rusak menjadi batuan kasar yang tertutup lumut. Di kiri-kanan, pepohonan tua menjulang, menciptakan bayangan aneh yang menari bersama hembusan angin. Suasana menjadi lebih sunyi, seolah dunia di luar tempat itu menghilang perlahan.

Tiba-tiba, Kanaya berhenti.

"Ada apa?" tanya Aldan cepat.

Kanaya menunduk. Ia menunjuk ke tanah, tepat di antara dua batu besar. Sebuah benda kecil tergeletak di sana-robek, penuh tanah, namun jelas terlihat: sebuah kartu hitam.

Aldan membungkuk, mengambilnya. Di bagian belakang kartu itu, tergores angka 02.

"Ini semakin aneh..." gumamnya.

"Diamlah, dan jangan berfikiran negatif."

"Entah. Tapi kita harus lebih hati-hati mulai sekarang." Aldan memandang sekeliling.

"Gw ngerasa... kita gak sendirian di sini." Kanaya menggenggam erat tali ranselnya.

Dan memang, dari kejauhan, sesuatu mengintai mereka. Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa-namun meninggalkan jejak, dingin, dan rasa seperti ditelan oleh bayangan yang hidup.

Langkah mereka berlanjut, menyusuri jalan setapak yang semakin menyempit. Ranting-ranting kering menjerat udara, dan suara burung pun sudah tak terdengar lagi. Bahkan suara langkah mereka sendiri seperti teredam oleh tanah.

"Kanaya...kita sudah jalan cukup jauh. Lu yakin pengen ngelanjutin ini?" Aldan bersuara lirih.

"Gw harus tau apa yang ada di sini. Apa lu ga pengen tau alasan kejadian aneh selama ini?"

"Kalau begitu... Gw bakal tetap disisi lu. Apapun yang terjadi." Aldan diam sejenak, lalu menatap tanah.

"Thanks Aldan. Gw tahu lu juga takut. Tapi lu tetap di sini." Kanaya menoleh padanya, wajahnya terlihat teduh dalam remang.

Sesuci CintamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang