BAB 28

30 2 0
                                        

"For now, I'm just looking at you from the side."

(Ambivalent by Uru)

.

.

"Galak amat," gerutu Aifa begitu sudah jauh dari ruang Divisi Olahraga.

"Yah, bukan rahasia kalo Yordan nganggap Kevin sebagai rival. Walau dia ketua divisi, tapi Kevin jauh lebih populer, jadi responnya gak aneh sih." jelas Arvi.

"Ketua divisi banyak banget masalahnya," ujar Aifa, melirik Arvi dengan pandangan penuh arti.

Arvi hanya merespon dengan tawa hambar, "Yah, mereka gak akan berhasil jadi ketua kalo gak ambisius, jadi wajar aja,"

"Emangnya Ethan begitu?"

"Kecuali Ethan mungkin. Jabatan ketua Divisi Sastra gak begitu populer dibanding divisi lain, jadi persaingannya gak ketat amat."

Keduanya keluar dari gedung C, menyusuri lapangan yang dipenuhi murid-murid berkaos merah-biru sedang bertanding sepak bola.

"Jadi, dimana kamu liat Yordan?" celetuk Aifa.

"Kamu juga sempet liat kok. Cowok yang pake jaket hitam sama masker. Inget gak?" jawab Arvi ringan. Sepertinya penolakan mentah-mentah Yordan tadi sama sekali tidak mempengaruhinya.

Ingatan Aifa kontan melayang ke siang itu, pada cowok aneh yang berpakaian serba hitam dan masker di Gramedia waktu itu. Gadis itu ber-oh ria.

"Orang kayak stalker itu?"

Arvi terkekeh, "Kalo menurut dugaanku sih-"

"Ah!"

Aifa dan Arvi sontak menoleh saat mendengar tarikan napas kaget di sebelah mereka. Seorang siswi berambut pirang yang diikat tinggi menatap mereka, lebih tepatnya Aifa dengan ekspresi terkejut.

Rasanya dia gak asing, batin Aifa, mencoba mengingat.

Ucapan Arvi berikutnya membangkitkan ingatannya, "Lo yang ngobrol sama Aifa di Gramedia kan?"

Gadis itu tersenyum lebar, "Gue gak nyangka banget kita ternyata satu sekolah. Nama lo Aifa ya? Kenalin, gue Irsha."

Aifa menjabat tangannya yang terulur, memasang senyum serupa.

"Sayangnya gue lagi ada urusan, jadi gak bisa lama-lama. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya!" Dengan janji itu, Irsha melambai semangat dan berlalu begitu saja.

Aifa mengerjap, masih memproses hal yang baru saja terjadi.

"Kamu gak mau coba temenan sama dia?"

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Aifa mengangkat alis heran, "Kenapa?"

Seringai terkembang di bibir Arvi, membuat Aifa was-was, "Gak. Siapa tau kamu tertarik."

"Gak tertarik," timpalnya singkat.

Arvi mengangkat bahu, tidak mundur begitu saja, "Begitu. Gimana kalau kubilang ini ada untungnya buat LiTe?"

"Maksudnya?"

"Bagaimana kalau kubilang Irsha bisa jadi kunci untuk mendapatkan dukungan Yordan?"

***

The Librarian MissionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang