BAB 7

71 12 16
                                        

"Personas played out on the stage

Will return to the self when there's a curtain call." 

(Regression by Ayanga [Honkai Impact 3])

.

.

Aifa meregangkan tubuh, tangannya diangkat tinggi-tinggi. Ia mendesah pelan, menatap tumpukan buku tulis di atas meja dengan senyum puas.

PR dan tugas-tugas untuk minggu ini sudah beres semua. Dan ini artinya waktu santai di rumah bisa digunakan sepenuhnya untuk baca novel. Feels good.

Aifa mengedarkan pandangan sekeliling. Tidak ada murid lain di sekitarnya, tapi sebagian besar tas ransel masih ada ditempatnya. Sudah 45 menit sejak bel pulang berbunyi. Pasti banyak yang sedang pergi ke ekskul. Sebagai golongan minoritas yang tidak bergabung dalam ekskul apapun di sekolah ini, Aifa punya banyak waktu luang.

Saat hendak mengemasi barang-barang, Aifa mendengar suara seseorang yang memanggilnya, terdengar familiar, "Ah, ternyata beneran ada Aifa."

Gadis itu menoleh, mendapati Shafira berdiri di bingkai pintu kelas. Ia melambai dengan semangat. Senyum ramahnya terkembang lebar, seperti biasa.

Aifa balas tersenyum sopan, mengangguk kecil, "Ada perlu apa?"

Shafira melangkah memasuki kelas, "Kamu tau kursinya Arvi gak?"

Aifa menunjuk kursi di sebelah kanannya, yang dihampiri Shafira dengan segera. Gadis itu membuka tas hitam cowok itu dan mengeluarkan setumpuk selebaran dari dalamnya. Tidak tertarik dengan apapun yang Shafira lakukan, Aifa berbalik dan kembali memasukkan buku-buku ke dalam tas.

"Aifa kok belum pulang?" Shafira mengisi keheningan, berbasa-basi. Tampaknya gadis itu tidak begitu nyaman diam-diaman saat berduaan dengan orang lain di kelas kosong.

"Ada urusan sedikit." jawab Aifa singkat, tidak terlalu ingin memperpanjang percakapan.

"Oh gitu. Aku abis ini mau keliling sekolah buat nempelin selebaran tim perpus di seluruh mading." Tanpa ditanya, Shafira langsung menjelaskan kegiatannya hari ini.

Gerakan tangan Aifa terhenti. Helaan napas terembus pelan dari bibirnya. Saat Shafira hendak pergi, ia buru-buru mencegat gadis itu, "Biar aku temenin."

Shafira terlihat kaget, "Beneran?" kegembiraan gadis itu terlihat jelas dari ekspresinya.

Aifa mengangguk kecil, memaksakan senyum. Kalau dia membiarkan Shafira berkeliling sekolah yang besar ini sendirian setelah mendengar ucapan gadis itu, ia merasa seperti orang yang acuh sekali.

Lagipula, kenapa dia pake jelasin segala? Kan aku jadi gak enak?

Selagi mengomel dalam hati, Aifa berjalan berdampingan dengan Shafira yang terus berceloteh, sepertinya bersemangat karena tidak harus sendirian dalam melakukan kerjaannya itu.

"Kamu ngapain aja? Kok belum pulang? Kamu kan gak ikut ekskul apa-apa." tanya Shafira lancar. Sepertinya ia lupa kalau dia sudah menanyakan hal yang sama tadi. Tapi Aifa lebih terkejut dengan kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan.

Ni cewek jaringan informasinya ngeri juga, sampai bisa tau.

"Aku lagi ngerjain tugas, daripada dikerjain di rumah. Banyak distraksi." balas Aifa apa adanya.

Beberapa cewek berpakaian olahraga yang melintas memanggil Shafira dengan riang. Gadis itu membalas sama hangatnya. Setelah melempar sapaan singkat, mereka berlalu dengan cepat. Shafira kembali melanjutkan percakapan mereka.

The Librarian MissionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang