7

68.3K 5.2K 11
                                        

Cairo dan Dion duduk saling memunggungi di ruang guru. Mereka dengan lembut berusaha di rayu untuk segera berbaikan. Karena mau bagaimana pun mereka masih kanak-kanak, tidak baik menyimpan amarah serta dendam yang tidak seharusnya mereka rasakan.

"Dion? Cairo? Bolehkah Miss meminta kalian untuk berbaikan? Kalian kan teman, tidak baik saling menyakiti."

"Dia bukan temanku!" Sergah Dion cepat, membuat Maya dan kepala sekolah daycare, bu Audrey menghela nafas.

"Dion, tidak baik beribicara seperti itu. Cairo juga, ayo minta maaf." Cairo hanya diam, tidak mengucapkan apapun setelah berhasil dipisahkan dari pertengkarannya dengan Dion.

"Sepertinya kita memang harus membicarakan ini dengan para wali. Apa kamu sudah mengabari mereka?" Tanya bu Audrey pada Maya yang masih setia duduk di tengah-tengah mereka.

"Sudah, bu. Mungkin sebentar lagi sampai."

Dan benar saja, tak selang beberapa lama setelah itu, terdengar sebuah ketukan sepatu hak yang berlari kecil terburu-buru dari luar ruangan. "Dion?!" Panggil sebuah suara wanita yang terdengar khawatir, membuka pintu dengan kasar.

"Anak mami sayang." Wanita itu langsung melangkah cepat menuju tempat duduknya Dion. Merengkuh putranya dengan kuat, seperti sedang menyalurkan kehangatan untuk sang putra, meyakinkannya bahwa saat ini semua akan baik-baik saja, karena Ibu sudah di sini bersamamu. Kurang lebih seperti itu yang Cairo tangkap.

"Mami." Rengek Dion manja, ikut melabuhkan seluruh tubuhnya dalam dekapan sang ibu, mengeluarkan tangisan yang sedari tadi dia tahan. Cairo mengerenyit sekilas, melihat bagaimana Dion yang sedari tadi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan kelemahan kini menangis pilu di dada sang ibu. Seakan topeng sinis yang sedari tadi dia pasang kini menghilang, berubah menjadi seorang anak kecil yang sebenarnya. Hal itu membuatnya penasaran, apa dia juga akan seperti itu jika memiliki ibu?

"Tuan muda?" Cairo menoleh. Tentu saja, dia berharap apa sang ayah yang hadir untuk menengoknya hari ini? Konyol, pikirnya.

"Nyonya Lee dan tuan Hearst, bisa ikut ke ruangan saya terlebih dahulu?" Ivana menoleh melihat kehadiran Hengky di sebelah Cairo, melayangkan tatapan bencinya.

"Kamu! Dasar anak kurang didikan! Barbarik! Awas saja kamu!" Ancamnya dan langsung meninggalkan ruangan dengan Dion yang berada di gendongannya, mengikuti kemana Audrey pergi. "Tenang ya sayang, mami sudah di sini." Ujarnya seraya menepuk-nepuk punggung kecil Dion yang naik turun karena isak tangisnya.

Hengky ingin membuka suara untuk membela majikan kecilnya, namun dia juga sadar, dia tidak memiliki hak untuk itu. Dan kalaupun dia punya, yang akan kena imbasnya pasti Cairo, dia tidak ingin itu terjadi.

"Tuan muda? Apa anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Cairo menggeleng lemah, mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Menatap desiran hijau daun yang tertiup angin pagi.

Tatapan Hengky semakin sendu, dia tidak bodoh untuk menyadari apa yang sedang memenuhi pikiran Cairo saat ini. Bukan ketakutan akan amarah Theo, atau takut akan Theo semakin membencinya, atau takut neneknya akan sedih jika mendengar perkelahiannya.

Ini semua tentang apa yang tidak pernah dia rasakan sedari dia kecil, kehadiran seorang ibu.

"Saya akan segera kembali, tuan muda." Akhirnya, hanya itu yang mampu Hengky utarakan alih-alih berusaha menghibur Cairo. Dia hanya bisa mempersiapkan diri dan memperkuat kakinya karena setelah ini, Cairo pasti ingin meluapkan kesedihannya.

~

Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Cairo justru terlihat melamun menatap selembaran hasil gambarannya yang rusak.

Setelah Hengky pergi menemui kepala sekolah, Cairo menyempatkan diri mengumpulkan lembar demi lembar robekan gambarannya, memasukkannya ke saku seragamnya. Dia berniat ingin memperbaikinya dengan nenek di rumah sakit.

Mengingat rumah sakit, Cairo terlihat berpikir. Seharusnya dia membawa sesuatu untuk menghibur suasana hati sang nenek karena sudah mendengar berita perkelahiannya di sekolah.

"Paman, menurutmu, apa yang cocok di bawa untuk menghibur hati nenek? Aku tidak ingin nenek sedih melihat penampilanku." Ucap Cairo.

Hengky menoleh sekelias, menyadari apa yang Cairo katakan.

Hari ini memang jadwalnya menjenguk sang nenek di rumah sakit. Biasanya Cairo akan membawa mainan atau origami atau lego untuk bermain bersama neneknya. Namun saat ini, penampilan Cairo cukup berantakan dan sang nenek pasti tidak gampang untuk dibujuk untuk bermain. Walaupun sudah berganti pakaian, wajah mulus dan imutnya kini memerah entah terkena apa. Neneknya pasti akan sedih. Walaupun sudah di obati, tapi kemerahan itu belum juga mereda.

"Anda tidak ingin membawakan buah tangan seperti biasanya, tuan muda?" Cairo menggeleng. Dia merasa buah tangan yang selalu dia bawa tidak bisa di konsumsi oleh neneknya, dan sepertinya makanan rumah sakit juga terlihat enak-enak saja.

"Hmm, bagaiman jika kita mampir untuk membelikan beliau sebuket bunga? Sepertinya beliau akan suka." Cairo berbinar.

"Benar juga, ayo kita beli di toko bunga yang itu paman, sekaligus aku ingin berterimakasih pada pemiliknya." Ucapnya dengan intonasi suara yang terdengar tak sabaran.

Who Am I?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang