Lily, itu nama akrabnya. Lily Orelia Kenzie adalah seorang fashion designer muda yang sukses di negaranya. Hasil karyanya bahkan sudah menjadi langganan para kalangan atas. Dia juga pernah menerima tawaran menjadi salah satu designer yang mewakili n...
Azlyn dan Cairo mengantar Hengky hingga pintu toko, berdiri di sana hingga mobil sedan itu hilang di persimpangan jalan. Cairo berhasil, dia di perbolehkan menginap di kediaman Azlyn oleh Azlyn sendiri. Dia tidak perlu meminta izin ke ayahnya karena selama ini mereka memang tidak pernah memainkan peran keluarga yang benar.
Awalnya pun Hengky kurang setuju, namun ia tidak bisa berbuat lebih karena mau bagaimanapun peringai Cairo dan Theo itu sama, sama-sama tidak suka dibantah keinginannya. Akhirnya, Hengky mengalah dan membiarkan majikan kecilnya menginap dengan syarat dia akan bermalam di sebuah hotel yang berjarak beberapa kilo dari blok pertokoan tempat usaha Azlyn berada untuk berjaga-jaga. Bukannya dia tidak percaya dengan Azlyn atau apapun, hanya saja, jika Theo menghubunginya dia tau apa yang harus di lakukan karena posisi mereka tidak terlalu jauh.
"Mama, mama sedang apa?" Cairo berlari kecil menuju dapur. Langkah kecil kakinya yang terbungkus sendal rumah terdengar asing namun lucu di pendengaran Azlyn. Tubuh kecil yang terbalut baju piyama bermotif salah satu tokoh kartun kucing itu mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan meminta bantuan untuk duduk di island kitchen.
Azlyn tersenyum, ia mengampit tubuh Cairo dan mendudukkannya di sana.
"Aku sedang membuat makan malam. Karena malam ini ada perut mungil yang harus diisi tepat waktu." Cairo cekikikan kecil.
"Uum, wangi. Mama pintar masak ya?"
Azlyn terkekeh. "Tentu, untuk membuat pangeran kecil ini kenyang tentu aku harus bisa masak." Azlyn menggelitik kecil perut Cairo hingga membuat pria kecil itu kegelian.
"Ayo makan!" Seru Azlyn seraya menaruh semangkuk sup asparagus, kentang tumbuk dan grilled salmon di hadapan Cairo.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Wah!! Selamat makan!"
"Selamat makan, Aro." Azlyn tersenyum penuh arti.
"Um! Enak, masakan mama ter the best! Yummy!"
"Makan pelan-pelan, nanti tersedak."
"Aye-aye capten momma!"
"Untung saja mama tidak menambahkan wortel di supnya, karena aku tidak suka." Lanjutnya membuat Azlyn menghentikan sesendok nasi yang hendak ia makan itu di udara. Mungkin ini terdengar aneh, namun entah mengapa dia merasa Cairo memang tidak akan menyukai jika ia menambahkan wortel pada sup nya dan dengan sok taunya dia pun memutuskan sendiri untuk memisahkan sayur orange itu dari mangkuk Cairo.
Dan ajaibnya ternyata itu adalah keputusan yang benar.
Beberapa hal yang menjadi kebiasaan pria kecil itu juga sama percis seperti dirinya. Dari dia yang ketika makan harus menghabiskan sup dulu, dia yang tidak bisa menyeimbangkan pergerakan tangan ketika memegang sendok dan garpu sehingga dia lebih nyaman hanya menggunakan sendok saja, dan dia yang sangat suka meminum jus jeruk. Jika ini kebetulan yang tidak berarti, mengapa rasanya seperti pertanda?