Lily, itu nama akrabnya. Lily Orelia Kenzie adalah seorang fashion designer muda yang sukses di negaranya. Hasil karyanya bahkan sudah menjadi langganan para kalangan atas. Dia juga pernah menerima tawaran menjadi salah satu designer yang mewakili n...
Perkelahian antara keduanya berlangsung sengit. Tidak ada yang mengalah, tidak ada yang ingin kalah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cairo semakin meringsut bersembunyi dalam pelukan Barbara, sementara wanita itu menyaksikan perkelahian itu dengan seksama, sudah dapat menebak siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya. Dari teknik, tentunya sudah jelas siapa yang mendominasi. Tangan kanan Theodore itu tidak bisa diremehkan, dari segi apapun. Dia adalah bentuk dari segala malapetaka yang datang hanya dari jentikan jari sang tuan. Badai yang mematikan.
Dua orang itu, mereka adalah perpaduan yang sempurna. Sulit untuk digoyahkan.
Jika seperti ini terus, waktu akan banyak terbuang dan tentu karena itu juga akan ada banyak kesempatan lain yang datang, merusak apa yang seharusnya. Ia tidak suka pengganggu, ia tidak suka membayangkan rencananya akan rusak, ia tidak suka kegagalan.
Barbara menunduk dan melihat senjata api yang Cairo curi dari Loight berada tidak jauh dari jangkauannya. Sekelebat ide gila hinggap dalam pikirannya. Lirikannya kini beralih pada Cairo sekilas, memastikan bahwa sang cucu tidak menyaksikan apa yang akan ia lakukan. Disana, Cairo masih dengan posisi yang sama, menutup mata dan tidak melihat apapun, dengan begini ia bisa mempercepat dan membalik keadaan di depan sana.
Karena salah satu hal terbodoh yang manusia lakukan adalah menunggu. Menunggu untuk suatu hal yang tidak pasti, dan lebih buruknya, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. What a waste of time.
Maka dari itu, pelan, Barbara mulai meraih senjata api itu tanpa membuat pergerakkannya terasa mencurigakan oleh Cairo.
Dapat! Serunya dalam hati. Sebentar lagi, Aro. Sebentar lagi.
Barbara mengeratkan pelukannya pada Cairo dengan satu tangannya yang bebas, menekan kepala kecil sang cucu hingga pendengarannya semakin tertutup rapat.
Wanita tua itu mulai mengangkat tangannya pelan, membidik pria itu tepat pada pusat segala saraf manusia berada. "Tidak ada yang boleh mengambil cucuku dariku." Bisiknya pelan. "Tidak ada!" Karena keturunan ini tidak boleh dirusak oleh darah rendahan yang dengan tidak tau dirinya merangkak ke posisi yang tidak harusnya. Tidak semudah itu dan tidak boleh segampang itu.
Cinta? Cih! Menjijikkan! Semua usaha ini ia dapat dengan mengubur segala perasaan dan mulai menggunakan logika. Merelakan setiap air mata dan keringatnya agar tidak ada lagi yang sama sepertinya. Terbodohi karena cinta sialan itu! Namun semua hancur hanya karena putra bodohnya jatuh cinta dengan wanita yang hanya bermodalkan keberuntungan? Dunia tidak bekerja seperti itu. Tidak ada cerita dongeng semacam itu!
Cucunya tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Tidak ada cerita dongeng yang akan terulang lagi. Tidak ada Cinderella! Cinderella tidak pernah ada! Dongeng itu tidak nyata! Tidak akan ada lagi perempuan miskin yang bernasib baik karena sang pangeran jatuh cinta! Dunia tidak sebaik itu!
Hal itu tidak terjadi padanya, maka siapapun tidak akan merasakannya! Dunia tidak seadil itu padanya, tidak ada yang namanya keberuntungan. Jika dunia itu adil, jika saja semua ini adil... Cih! Lupakan! Tidak ada waktu untuk berandai.