49

12.7K 746 47
                                        

Loight tau, dia sudah sangat hafal jika dihadapkan pada suatu moment dimana segalanya terlihat berjalan sesuai rencana, maka ada kejadian tak terduga yang akan datang. Entah itu akan berakhir berhasil ataupun gagal, namun sebagian besar misinya selama ini membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginannya, kecuali satu.

Dimana pada satu moment itu dapat dikatakan adalah sebuah keberhasilan yang membuatnya haus akan dendam, menginginkan lebih daripada apa yang dapat ia lakukan. Karena arti dari keberhasilan yang ia maksud kali ini bukanlah tentang tugas, namun hidup. Ya, alih-alih berhasil menyelesaikan permintaan client-nya, keberhasilannya justru adalah dapat kembali menghembuskan nafas hingga detik ini karena kabur dari satu keadaan yang tak akan pernah ia lupakan. Walaupun konyol, ia menyebut ini adalah keberhasilan yang tertunda.

Dan sekarang, mati mungkin adalah jawaban yang paling jelas dari misi ini, mati di tangan Theodore adalah kemungkinan 90% dan sisanya bunuh diri. Tapi sepertinya bunuh diri tetap tidak akan mudah, karna pria itu pasti akan membunuhnya lagi dan lagi. Menghancurkan setiap tulang dan daging yang masih membentuk figurnya, tidak membiarkannya dikenang bahkan oleh tanah sekalipun.

Berhadapan kembali dengan Theodore adalah sebuah kehormatan, juga penghinaan. Karena baginya, kesempatan untuk berhadapan yang kedua kalinya adalah sebuah pelecehan, seakan ia sedang memohon belas kasih untuk kembali merasakan kekalahan yang telak. Menyedihkan.

Kerap ia merasakan dinginnya selongsong senjata api, merasakan panas mendidih dari timah besi, luka yang menembus tubuh hingga berbekas mulai terasa tidak berarti. Luka-luka itu tidak menggambarkan dedikasi, justru bukti bahwa maut kerap mengunjungi, bermain dan menyiksanya tanpa henti. Tidak, siksaannya mungkin terhenti, namun sadarnya hanya seperti mempermalukan jati diri.

Maka dari itu, daripada harus terbangun lagi dengan luka lain yang mengering dan berbekas, ia lebih memilih mati dengan dendamnya yang terbalas, entah itu ia dapat dari Theodore sendiri, atau dari orang yang ia cintai, menurutnya impas.

Dan sekaranglah saatnya.

Pria itu sudah sangat siap dan mulai berbalik perlahan seraya kedua tangannya melayang di udara, tidak sabar menghadapi mautnya. Namun, Loight justru menaikkan alisnya sekilas dan tersenyum culas.

Ternyata.

"Wah, aku pikir sang tuan, ternyata anjingnya." Ucapnya penuh nada merendahkan pada sosok dihadapannya.

Rendy tersenyum miring mendengar hinaan itu, sudah terbiasa.

Anjing Martin. Begitulah dia dijuluki.

Bergerak dan bernafas karena perintah dan belas kasih Martin.

Semua musuh dan kolega menjulukinya seperti itu, namun dengan berbagai arti. Ada yang menunjukkan raut bangga dan merendahkan, seperti yang Loight lakukan sekarang saat menyadari dialah yang datang.

Tidak salah, dia akui itu. Dia bekerja dan melakukan segalanya untuk Martin, bahkan nafasnya pun rela ia tukar untuk keberlangsungan hidup pemilik marga itu, tapi catat, itu hanya berlaku pada Theodore Axgill Martin. Hanya Martin yang itu, tidak ada yang lain.

Mengapa? Ceritanya sangat panjang. Tidak ada waktu untuk mengenang masa-masa kelam itu. Singkatnya, siapa dia saat ini, bagaimana dia dapat hidup bernafas hingga detik ini, semua adalah berkat Theodore. Hanya Theodore.

"Kenapa? Apa Doberman ini tidak cukup menakutkan bagimu? Ah~ kau ingin aku terlihat seperti Cerberus? No thanks, mereka hewan neraka, aku tidak suka summer." Ujung bibir Loight berkedut tanda tak suka. Beginilah watak manusia yang tidak ia benci, tengil, namun pintar, sangat pintar.

"Kau sendiri? Dimana tuanmu? Is he dead? Already?" Loight berusaha mengulur waktu. Bukan untuk menunggu kedatangan pria itu, ajalnya bisa menunggu. Yang sedang ia perhitungkan adalah kesiapan dari sisa anak buahnya yang sedang bersembunyi di tempat yang sudah ia tetapkan. Mengingat Theodore memiliki 9 nyawa membuatnya tidak punya pilihan lain selain bermain curang. War is war, right?

Who Am I?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang