Usai membersihkan diri seperti saran Eugene, Cassian mendatangi taman belakang untuk bergabung dalam acara minum teh.
Melihat kedatangannya dari jauh, Oktavius langsung berseru riang menyambutnya dengan meriah dan mengeluarkan berbagai basa-basi akan tetapi pandangan mata Cassian menguar ke sekitar dengan cepat guna mencari Runeta dan Eugene yang nampaknya tidak ada diantara orang-orang ini.
"Yang Mulia, kau sangat muda saat menjadi Raja. Bagaimana kalau kita merayakannya bersama-sama?" Ujar Oktavius seraya mengangkat cangkir tehnya. "Dengan minum teh bersama yang lain."
"Pria berambut... abu-abu itu... dimana dia?"
"Pria yang mana?" Alis Oktavius terangkat satu. "Ini pesta khusus para pemimpin kerajaan. Mungkin yang kau maksud adalah Raja dari wilayah Esterra yang duduk di ujung sana?"
Sambil mengarahkan pandangannya menuju Raja wilayah Esterra yang disebut, Cassian tahu bahwa itu bukanlah pria berambut abu-abu yang ia cari meski pria yang Oktavius tunjukan juga memiliki rambut abu-abu yang lebih terang.
"Atau siapa?" Oktavius mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Semua Raja hadir disini dan yang rambutnya abu-abu hanya Raja dari Esterra, Yosepha."
"Ya, kurasa dia yang kucari." Ujar Cassian terpaksa mengiyakan karena sepertinya pria yang bersama Runeta bukanlah Raja dari suatu wilayah.
"Yang kau cari ada disini, tunggu apa lagi?" Diraihnya tangan Cassian lalu diajaknya duduk ke kursi yang masih kosong tepat disisi Raja dari Esterra lalu seorang pelayan cantik segera menyajikan secangkir teh untuk Cassian.
Mau tak mau Cassian terpaksa duduk disana, tepat disebelah Raja dari Esterra yang langsung mendekat dan berbisik padanya.
"Kau sungguh mencariku?"
Bola mata Cassian bergerak cepat melirik sinis ke arah Raja dari Esterra dan seketika membuat pria itu menarik diri seraya berdehem pelan, mencoba melepas rasa canggung sekaligus takut lalu meraih cangkir tehnya.
Tanpa Cassian tahu, Eugene membohonginya. Acara itu khusus para raja saja dan ratu mereka apabila ingin datang. Selain daripada mereka, acara minum teh di pagi hari setelah malam pesta tidak boleh dihadiri oleh seseorang yang pangkatnya masih dibawah Raja.
"Kita membodohinya." Senyum kecil terbit di sudut bibir Runeta, saat ini ia duduk di tepi danau bersama dengan Eugene yang sibuk mematahkan ranting-ranting kecil lalu menumpuknya jadi gunung.
"Sulit dipercaya, dia meminta maaf begitu saja semalam." Ujar Eugene menanggapi teringat bagaimana Cassian menunggu mereka selesai 'berkegiatan' barulah meminta waktu pada Runeta untuk bicara.
"Kau akan memaafkannya?"
"Aku tetap pada rencana." Runeta menyahut sambil melihat lurus ke arah danau yang sesekali beriak karena terpaan angin atau karena kejatuhan dedaunan kering.
"Kalau dia benar-benar berubah setelah meminta maaf?" Balas Eugene melontarkan pertanyaan. "Kau akan memaafkannya?"
Runeta terdiam sejenak, untuk sekarang ia sama sekali tidak berpikir sejauh itu mengenai Cassian yang mungkin meminta maaf dengan tulus dan menyesali perbuatannya.
"Rusukku pernah patah dan meski sudah sembuh, itu tidak lagi sempurna seperti dulu. Apa... menurutmu kata maaf bisa mengembalikannya jadi sempurna lagi?"
"Uh... agak sulit, ya." Celetuk Eugene berkomentar lalu dengan satu sentilan, ia merubuhkan tumpukan ranting-ranting kecil yang ada di dekat kakinya.
"Kau tetap sempurna bagiku, itu kata penghibur yang mungkin dikatakan olehnya." Kekeh Eugene. "Jadi kau akan membunuhnya?"
"Aku tidak tahu." Ungkap Runeta jujur, walau ia bilang tetap pada rencana tetapi sebenarnya Runeta masih ragu kalau Cassian tahu niatnya bersedia rujuk untuk menghancurkan pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Tyrant Betrayed
FantasySang Tiran tampan dikhianati oleh Pujaan hatinya sendiri. Dia dibunuh oleh suami dari kekasihnya secara tak terduga. Sementara itu di sisi lain, dalam keadaan tak fokus saat berdiri si tepi jalan, seseorang menubruk punggungku hingga aku terdorong...
