"Simpanlah ini." Ucap Eugene berbisik seraya berpura-pura memeluk Runeta padahal aslinya, ia menyerahkan sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat ke tangan gadis itu lalu kembali ke posisi semula yakni berdiri di samping Runeta untuk melakukan perpisahan pada beberapa Raja yang memutuskan pulang hari ini.
Eugene dan Runeta diminta mendampingi Oktavius untuk memberi salam perpisahan bagi mereka pagi itu sebelum akhirnya masing-masing dari mereka berpisah, kecuali Eugene yang ikut bersama Oktavius untuk membahas sesuatu.
Tersisa Runeta sendiri tengah memandang ke arah botol kaca cokelat yang ada dalam genggamannya. Runeta tidak sepolos itu sampai tak tahu cairan dalam botol merupakan racun.
Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menemui Cassian di ruangannya sesuai dengan rencana yang dibuatnya bersama Eugene.
"Aku ingin bicara." Katanya pada pria itu dengan suara pelan begitu pintu ruangan di hadapannya dibuka ke dalam setelah ia mengetuk sebanyak tiga kali.
"Ru..." Melihat gadis itu datang ke kamarnya, Cassian merasa tak terduga lalu cepat-cepat membuka pintu kamarnya lebih lebar. "Silakan, masuklah."
Runeta mengangguk pelan lalu membawa kakinya melangkah memasuki ambang pintu. Terlihat ruangan yang berada di baliknya penuh dengan kekacauan. Ada tumpukan bantal yang berceceran, botol-botol alkohol dari yang sudah kosong sampai masih penuh ditempatkan hampir di setiap meja yang ada, beberapa vas bunga bergelimpangan bahkan ada yang sudah pecah di lantai, sprei di kasur juga berantakkan sebagiannya terurai di lantai bahkan selimutnya teronggok di sudut ruangan seolah-olah pemilik kamar ini sempat mengamuk saat mabuk.
Satu hal yang sangat amat tidak menggambarkan Cassian yaitu, berantakkan.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini," Laki - laki itu segera membenahi beberapa barang seadanya terutama menyingkirkan tumpukkan botol dari atas sofa panjang dan mempersilakan Runeta duduk disana.
"Tolong duduklah." Ucapannya segera dilaksanakan oleh Runeta sambil mengedarkan pandangannya lebih jauh.
"Aku senang kau datang." Ungkap Cassian jujur terlebih Runeta datang sendiri tidak bersama dengan si abu-abu itu.
"Langsung saja, setelah kupikirkan berulang kurasa aku akan pulang bersamamu."
"Sungguh?" Raut wajah gelisah Cassian seketika berubah bahagia walau tidak begitu ketara sebab ia hanya tersenyum tipis saja setelah mendengar keputusan Runeta.
"Kau benar, ini bukan rumahku dan pria itu... mungkin saja berbahaya bagiku." Tambahnya.
"Ru, terimakasih banyak." Entah kapan terakhir kali Cassian mengucapkan itu atau bahkan belum pernah sama sekali tetapi, ia sangat ingin mengatakannya berkali-kali. "Kau memilih untuk memaafkanku. Terimakasih, Ru."
Runeta mengangguk kecil tanpa menanggapi lalu bertanya. "Kapan kita akan kembali ke Carden?"
"Kapanpun. Hari ini?" Tawar Cassian bersemangat.
"Kau bisa?" Tanya gadis itu balik.
"Ya, ya. Kenapa tidak?" Cassian bersemangat sekali menjawabnya lalu dia bangkit dan dengan cepat mengumpulkan barang-barang pribadinya dalam satu tempat, bersiap membawanya pulang.
Melihat hal itu, Runeta hanya memandangi sambil sesekali menghela nafas kasar. Memperhatikan bagaimana Cassian memindahkan beberapa pakaiannya juga untuk digunakan sebagai baju ganti di tengah perjalanan.
"Ayo!" Sampai tiba-tiba Cassian menarik tangan Runeta, membuat gadis yang tadinya duduk menjadi berdiri dan terpaksa berjalan cepat mengikutinya bak seekor kambing bersama majikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Tyrant Betrayed
FantasíaSang Tiran tampan dikhianati oleh Pujaan hatinya sendiri. Dia dibunuh oleh suami dari kekasihnya secara tak terduga. Sementara itu di sisi lain, dalam keadaan tak fokus saat berdiri si tepi jalan, seseorang menubruk punggungku hingga aku terdorong...
