" Orang-orang bilang bertahan itu pilihan orang kuat.
Padahal tidak ada yang pernah bilang, berapa harga yang harus dibayar untuk terlihat kuat setiap hari ". ~Ella
GO!
Ella dan Alex masuk kembali ke dalam gedung utama, mata mereka langsung tertuju ke arah OSIS penjaga yang sejak tadi mengejar mereka. Langkah kaki mereka refleks melambat, napas tertahan, seolah gedung itu sendiri ikut mengawasi setiap gerakan.
"Sstt, pelan-pelan, Ella," bisik Alex rendah, nyaris tak terdengar.
Mereka mengendap-endap menuju eskalator sekolah.
"Woi! Bangun! Tar kita dimarahin, kalo lo tidur gini!!"
Dari kejauhan, terlihat jelas penjaga pintu ruang reguler—OSIS yang tadi mengejar Ella dan Alex—sedang menampar keras pipi OSIS lain yang tertidur di depan pintu ruang reguler.
"Mati kali itu temen lo!" teriak Alex spontan, sambil berjalan santai mendekat.
"Lex!" Ella panik, langsung mencubit bahu Alex.
"Ssrt-hehe." Alex mendesis pelan. "Bercanda, La." Ia cengengesan tanpa rasa bersalah.
OSIS itu langsung menoleh. "Kalian." Nada suaranya geram. Ia bangkit dari posisi jongkoknya, lalu berlari cepat ke arah mereka.
Ella melotot panik, memukul bahu Alex beberapa kali.
"Mampus! Alex!" Ella langsung lari duluan, menaiki eskalator tanpa menoleh lagi.
Alex justru sengaja diam di tempat sampai OSIS itu benar-benar mendekat. "Kita nggak jadi ke sana, Kak."
Kalimat itu membuat langkah OSIS tersebut berhenti mendadak.
"Maksud lo apa?" Alisnya menyatu, sorot matanya penuh curiga. "Angkat tangan lo. Cepat!" perintahnya tegas.
Alex menghembuskan napas panjang. Ia menatap langit-langit gedung sebentar, lalu menuruti perintah itu. Kedua tangannya terangkat.
OSIS tersebut langsung meraba tangan Alex, lalu turun ke badan, hingga kaki, teliti seperti pemeriksaan bea cukai di bandara.
"Udah gue bilang, kita nggak jadi ke sana," ucap Alex santai, seolah situasi itu tak mengancam sama sekali.
Namun OSIS itu tetap terus mencari sesuatu, raut wajahnya semakin tegang.
"Pintunya aja nggak bisa dibuka," tambah Alex enteng.
Gerakan OSIS itu tiba-tiba terhenti. Pandangan mereka saling bertemu sesaat. Tangan kanan OSIS itu berhenti tepat di kantong celana kiri Alex.
"Jadi ini," gumamnya dingin, sebelum menarik keluar sebuah alat setruman listrik kecil. "Yang bikin gue pingsan!" Marahnya meledak. Ia langsung menarik kerah baju Alex kasar.
Alex mengerutkan alis, kesal. "Kenapa? Kalian, para OSIS, kekeh banget ngelarang kita masuk ke ruang bawah tanah. Kesetrum kan jadinya. Lagian juga, kita semua udah tau kalo di sana ada ruang eksperimen. Buat apa kalian halangin kita lagi?"
OSIS itu tak langsung menjawab. Ia menatap alat setruman kecil itu lama, seolah benda itu lebih berat dari yang terlihat. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia mengembalikannya ke tangan Alex.
Tubuhnya berbalik. Langkahnya lesu.
"Woi!" Alex mengejar. "Kenapa nggak jawab?!"
Ia menarik bahu OSIS itu dan memaksanya berhadapan.
Saat itulah Alex membeku.
Darah mengalir pelan dari hidung OSIS tersebut.
Refleks, Alex menurunkan tangannya. Pandangannya turun ke name tag yang terpasang di dada seragam OSIS itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantezie• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • Ella anak orang kaya yang senang akan fantasinya, mendapati berbagai macam cerita suram tentang rumah barunya dan mengalami kejadian-kejadian mistis di dalam sekolah termegahnya. Ella bertemu dengan berbagai...
