GO!
Tubuh monster bunga kecil itu menegang. Ranting-rantingnya menjulur cepat, menghalangi pintu keluar yang tinggal beberapa langkah lagi.
"SIAP SEMUA!" teriak Jo, mengangkat pipa logam di tangan kirinya.
Monster bunga itu memang lebih kecil dibanding yang pertama, tapi justru lebih cepat. Rantingnya seperti cambuk, melesat ke arah Rina yang berdiri paling depan.
CRAAK!
Rina terlempar ke belakang. Buku gambarnya terjatuh, tapi tangannya langsung bergerak menyelamatkan kertas yang tercecer. Medra dan Lily langsung menariknya mundur.
"JANGAN SENDIRIAN!" seru Ella, menggertakkan gigi, lalu menahan lengan Cadby sambil ikut membentuk formasi bertahan.
Monster itu bergerak liar. Mulut kecilnya yang dipenuhi kelopak dan lidah basah itu mengeluarkan suara klik-klik menjijikkan.
Dey berdiri paling depan, menangkis serangan pertama dengan potongan tiang pagar darurat.
Alex menarik alat rakitannya—semprotan listrik arus pendek—dan menyemprot ke akar monster bunga. ZZRRTT!! Bunga itu mengerang, tapi belum mati.
"Sedikit lagi!!" teriak Alex.
Jefry melempar serpihan kayu runcing ke mulut bunga, dan mengenai kelopaknya.
"BANTU!! AYO SEKARANG!!" seru Jo sambil berlari ke arah monster bunga itu, mengayunkan besi ke akar pusat yang tampak mencuat dari lantai.
“ATASNYA!” teriak Rina dari belakang, matanya menatap tajam ke arah tengah kelopak yang terbuka—penuh lendir.
Jo tak pikir panjang. Dia melempar tiang logamnya tepat ke dalam mulut bunga.
BRUUUKK!!
Monster itu menggeliat keras—melilit, mengguncang lorong hingga retakannya menjalar ke dinding. Rantingnya mengayun liar, mengenai beberapa siswa. Suara tangisan dan teriakan bercampur menjadi satu.
Ella bergerak cepat—bersama Alex dan Dey—membantu siswa yang tersungkur.
“Pusatnya mulai terbuka! CEPAT!” teriak Ken.
Listrik Alex, lemparan Rina, hantaman Jo, dan keberanian Ella menjadi satu.
Lalu…
CRAAAKK!!
Akar monster bunga kecil itu robek. Lidahnya terbelah dua. Seluruh rantingnya menegang, sebelum akhirnya jatuh lemas ke lantai. Bau amis menyebar. Darah lendir berceceran.
Hening.
Beberapa detik semua terdiam.
“Udah… mati?” gumam Lily.
Srek…
Suara akar terakhir meluncur pelan di lantai—lalu diam.
Mereka semua terduduk.
Jo berdiri lagi, walau tubuhnya gemetar. "Ayo. Kita ke pintu itu... sekarang."
Langkah mereka goyah. Terengah-engah. Tapi tak ada yang berhenti. Satu per satu, mereka menyusuri lorong sempit menuju pintu keluar.
Dan…
Pintu darurat terbuka.
Namun bukan udara bebas yang menyambut mereka.
Yang ada di depan hanyalah lorong gelap membentang, dengan dinding beton kasar di kiri-kanan. Suasana mencekam. Udara di dalamnya lebih berat, lebih dingin, dan lebih... mati. Tak ada suara alarm. Tak ada tanda kehidupan. Semua terasa salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
