The XXIX : Pertempuran Lorong

25 6 3
                                        


GO!

Lorong gelap gedung utama Libii Academy kini menjadi titik pertempuran. Di satu sisi, monster lumpur perlahan merayap naik di tangga, memburu mereka dengan mulut-mulut menganga. Di sisi lain, monster bunga raksasa muncul di ujung lorong. Tubuhnya menjulang hampir lima meter. Kelopak pink-nya terbuka perlahan, memperlihatkan mulut besar di tengah yang berliur. Ranting-ranting hijau mudanya menjulur lincah seperti cambuk.

Semua... terjebak.

Jo berdiri di tengah lorong, wajahnya tetap datar. Tapi kini matanya benar-benar tajam. Alex di sampingnya, memegang alat rakitan dengan tangan gemetar. Jefry mundur dua langkah, ketakutan. Rina berdiri kaku, tasnya masih di punggung. Lily memeluk Medra. Sisi mulai menangis pelan. Ken menggertakkan giginya. Cadby setengah terduduk, ditahan Ella.

"Jangan... jangan panik... kita belum mati," desis Ella dengan suara tercekat, meski tubuhnya gemetar.

"Lo yakin?" gumam Kezia sinis di belakang.

"Diam," potong Dey datar. Suara tenang seperti biasa. Matanya memantau bunga raksasa di depan.

Monster bunga itu melangkah. Akar-akarnya mencengkeram lantai, suaranya berderak. Matanya—yang tersembunyi di kelopak pink—berkedip serentak. Ranting-ranting tajam menyapu udara.

"Gerak sedikit... kita dicambuk..." bisik Alex.

Dari belakang, terdengar suara GLOORR...

Monster lumpur mulai memenuhi tangga, cabangnya menjulur mencari mangsa.

Jo akhirnya bicara. Pendek. Tegas.

"Bertahan di sini. Belakang lebih cepat. Depan lebih lambat. Fokus yang depan. Kalau yang belakang naik... habis kita."

Ratania mengangguk cepat. "Setuju. Tapi... cara lawan itu bunga?!"

Alex mengangkat alatnya. "Listrik mungkin bikin dia kaget... tapi nggak cukup buat yang segede ini."

Ella menatap Jo. "Lo ada ide, kak?"

Jo diam sejenak. Lalu berkata pelan, "Kita butuh waktu. Butuh distraksi. Monster lumpur naik lebih lambat. Tapi monster bunga di depan bakal nyerang duluan. Pecah jadi dua... mati. Kita harus tahan mereka bareng."

Dey maju pelan. "Tahan di lorong. Ajak anak-anak mundur pelan. Yang penting jangan buyar."

Suasana hening. Semua murid mulai bergerak membentuk formasi. Anak-anak yang masih kuat berdiri di sisi luar, melindungi yang lemah di tengah. Wajah mereka pucat, tapi tak ada pilihan.

Tiba-tiba—

SRRAAAK!

Satu ranting monster bunga melesat!

Medra berteriak. Ranting itu hampir menyeretnya, tapi Jefry justru melompat menarik Medra mundur.

"WOY! NGGAK MAU MATI, KAN?!" teriak Jefry panik.

Ella gemetar. Tapi dia bergerak. "Alex! Kabel! Listrik!"

Alex mengangguk. Dia menarik kabel besar dari alatnya, menyambungkannya ke pipa logam di dinding.

"Gue bikin jebakan... tapi butuh waktu 30 detik!" teriak Alex.

Jo menghunus tongkat besi seadanya. "Tahan. 30 detik. Siap mati, siap hidup. Jangan hancur."

Suara monster lumpur di belakang makin dekat.

"SIAL!" Lily berteriak sambil memeluk Sisi yang menangis semakin keras.

Rina tiba-tiba berlutut, membuka tasnya... lalu mengeluarkan sesuatu.

Buku gambar.

Dia membukanya cepat. Matanya berkaca-kaca. Tapi lalu menggambar dengan pensil hitam besar... tanpa alasan yang jelas. Tangannya bergetar, tapi terus menggambar.

Ella meliriknya bingung. "Rina?! Lo ngapain?!"

"Aku... nggak tahu..." bisik Rina lirih. "Aku harus gambar... sesuatu..."

Ratania menahan sabetan ranting dengan tongkat sapu yang ditemukan. Medra, meski takut, ikut membantu. Jefry memukul ranting dengan tabung pemadam.

20 detik...

Monster bunga bergerak maju perlahan. Mulut di tengah kelopak terbuka lebih lebar. Liurnya menetes.

Dey berkata lirih. "Ini lebih besar dari kita..."

Ella menggenggam tangan Cadby. "Tapi kita lebih banyak... kita manusia."

Cadby perlahan mengangguk. Meski lemah, dia bangkit berdiri. "Kalau mati... jangan sendiri..."

10 detik...

Alex menyambungkan kabel terakhir. Alat di tangannya mulai bergetar.

5 detik...

"SEKARANG!" teriak Alex.

Satu ledakan kecil menyambar dari kabel ke arah monster bunga. Ranting-rantingnya tersengat listrik. Monster itu mengerang tanpa suara. Matanya berkedip cepat. Mulutnya terbuka lebar. Ranting-rantingnya menari liar, menyapu udara tanpa arah.

Kesempatan!

"MAJU! SERANG SEKARANG!" teriak Jo keras.

Seluruh anak-anak menyerbu maju. Yang memegang besi menghantam ranting-ranting. Yang lain menendang akar. Lily, bahkan dengan sepatu mahalnya, menendang batang monster bunga dengan teriakan panik.

Alex terus menyalakan listrik. Beberapa bagian ranting mulai gosong.

Monster bunga... mundur.

Monster lumpur... berhenti. Ia tak suka suara listrik di lorong.

Jo menatap Ella. "Sekarang atau mati."

Ella menarik napas, berteriak sekencang mungkin. "SERBU!"

Lorong itu berubah menjadi peperangan. Suara listrik, jeritan, sabetan ranting, dan benturan logam memenuhi udara.

Dan akhirnya...

Monster bunga besar itu... roboh.

Tumbang di lorong, tubuhnya terbakar gosong di bagian batang. Mulut di kelopaknya menutup perlahan... mati.

Semua terdiam.

Mereka menang.

Untuk sekarang.

Tapi suara GLOORR di belakang mereka... mengingatkan satu hal.

Monster lumpur masih di sana.

Dan sesuatu yang lebih besar... mungkin sedang menunggu di dalam sekolah ini.

---

NEXT!

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang