The XLIV : Di Balik Hari Bolos

11 3 1
                                        


GO!

Pagi itu awan kelabu menggantung rendah di atas kota kecil tempat Libii berdiri. Udara dingin menyelusup dari celah jendela rumah Medra, sementara jalan di depan rumahnya masih sunyi-hanya suara motor jauh yang memecah sepi.

Dari ujung gang, muncul Shisy dengan tas ransel kecil di punggung dan minuman boba di tangan kanan. Langkahnya ringan, wajahnya cerah-sampai matanya menangkap sosok tak asing di teras rumah Medra.

"Lily, kok kamu di sini?" serunya kaget.

Aku dan Medra spontan saling pandang. Klasik.
Sifat lola-nya Shisy memang nggak pernah berubah-selow kayak dunia di kepalanya punya kecepatan sendiri.

"Bulan ini kan Lily emang kabur dari rumahnya, oon." Medra menjitak dahi Shisy tanpa ampun.

"Auw!" desis Shisy kesakitan, mengusap-usap dahinya sambil cemberut. "Kenapa sih?" tanyanya polos.

"Astagaaa, Sisiiii..." Medra sampai mendesah panjang.

"Emang ayahmu nggak nyari, Lil?" tanya Shisy lagi.

Aku cuma menggeleng pelan. Sudah terbiasa menghadapi kepolosan gadis satu ini.
"Kan udah berapa ribu kali gue bilang, ayah gue udah nyaman sama istri mudanya. Kalau si istri muda bilang A ya A, bilang B ya B. Jadi kalo ayah gue nyari gue, ya... paling dialihin sama dia." jawabku datar.

"Ohh..." Shisy mengangguk pelan, entah paham entah nggak.
Lalu tiba-tiba-"Ella."

Refleks aku dan Medra menoleh bersamaan.
"Tiba-tiba banget Ella," komentar Medra.

"Iya, aku jadi keinget Kezia yang ngkhianatin Ella. Apa Ella tau?"
Untuk ukuran Shisy, ini cukup mengejutkan-jarang dia ngomong nyambung kayak gini.

Medra diam, aku berpikir sejenak.
"Kezia menjelek-jelekin Ella, terus sekarang malah deketin kita? Apa jangan-jangan dia mau temenan?" ocehnya lagi.

"Mending lo masuk dulu deh, jangan depan pintu gitu." Medra menunjuk pintu terbuka lebar.

"Oh iya ya, hehe." Shisy ngakak kecil sambil nyelonong masuk, masih dengan bobanya di tangan.

---

Setelah semua duduk di ruang tengah, Shisy tiba-tiba nyeletuk, "Tadi aku di-chat Kezia."

Aku dan Medra refleks menoleh.
"Chat apa?" tanyaku.

"Dia bilang, 'kita jadi ke mall bareng? Nanti aku yang traktir.' Gitu katanya."

Aku dan Medra spontan ngintip ke layar HP Shisy.

"Ayo!" Shisy menekan tombol kirim tanpa pikir panjang.

"BEGOOO!" teriakku dan Medra bersamaan. Aku menjitak kepalanya, Medra mendorong bahunya.
"Orang mah belum tentu serius, malah diayoin!" omel Medra.

"Ya kan udah keburu kebaca, gimana dong..." cemberut Shisy, mukanya memelas.

"Yaudah biarin, kita turutin aja. Mumpung ada yang mau traktir," ucapku santai.

"Dih, Li! Kita bolos juga buat kita bertiga doang kali. Ntar dia geer, dikira kita mau temenan beneran!" keluh Medra.

Aku tersenyum miring. "Justru itu yang gue mau."

Shisy melongo.
Medra melirik tajam, tapi aku cuma menahan tawa. "Biar Ella tuh cemburu. Sekalian biar dia tau sifat asli Kezia."

Medra mengangkat sebelah alisnya. "Jadi ini semacam... pembalasan halus?"

Aku mengedikkan bahu. "Anggap aja hiburan. Lagian gue nggak benci-benci amat kok sama Ella, cuma sebel aja."

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang