The LVIII : Dua Wajah Libii

18 3 0
                                        


GO!


Jam istirahat di Libii Academy selalu punya dua wajah.

Di permukaan, sekolah itu tampak hidup—ramai, tertata, penuh tawa dan suara langkah kaki yang bersahutan di lorong-lorong mengilap. Tapi di balik itu, ada wajah lain yang tak pernah masuk brosur promosi: kekacauan yang dibungkus rapi, kekerasan yang disamarkan sebagai hiburan, dan penderitaan yang dianggap wajar selama tidak menodai reputasi Excellent.

Siang itu, matahari menggantung tinggi di balik gedung utama. Cahayanya menembus kaca-kaca tinggi, memantul di lantai marmer putih yang dingin, menciptakan bayangan panjang—seperti garis tak kasatmata yang membelah siapa yang berkuasa dan siapa yang harus tunduk.

Flatshoes pink salem itu berbunyi nyaring.

Tuk. Tuk. Tuk.

Langkahnya mantap, terukur, seolah pemiliknya benar-benar nyaman berdiri di tengah kerumunan. Almamater OSIS yang dikenakannya tampak rapi, bersih, nyaris berkilau. Jaket hoodie pink cerah menutupi sebagian tubuhnya, kupluknya terpasang rapat, menyamarkan wajah yang seharusnya sudah dikenal banyak orang di sekolah ini.

Egan berdiri di sana—menyamar sebagai Chelsea.

Di hadapannya, kekacauan berlangsung tanpa rasa bersalah.

Teriakan.
Ejekan.
Kata-kata kasar yang dilemparkan seperti benda tumpul.

Kezia berada di tengah kerumunan itu. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat, seragamnya kusut seperti ditarik paksa dari segala arah. Beberapa OSIS berdiri paling depan, berlagak menenangkan keadaan padahal justru ikut menekan. Anak-anak Excellent tertawa, merekam, menunjuk-nunjuk seolah ini tontonan gratis yang pantas dinikmati bersama.

Pembulian itu sudah dimulai sejak Pak Yuan dilarikan ke UKS.
Dan jam istirahat... hanya mempercepatnya menjadi pesta.

Di sisi barat lapangan, Lily dan gengnya berdiri santai. Tawa cekikikan mereka terdengar ringan, nyaris ceria—kontras dengan wajah Kezia yang mulai kehilangan warna. Lily menyilangkan tangan, kepalanya sedikit miring, matanya berkilat puas.

Egan menatap pemandangan itu lama.

Tangannya terangkat pelan, dua jari menekan bagian dalam kerah hoodie—tempat mikrofon kecil tersembunyi.

"Purple," bisiknya nyaris tak terdengar. "Masih di tengah kerumunan. Skip."

Purple.
Kode untuk Lily.

Di sisi lain sekolah, seseorang mendengar itu dengan jelas.

"Oke, babe." Suara Chelsea terdengar tenang di earphone kecil Egan. "Aku baru dapet kunci loker Jo."

Chelsea sedang berjalan santai keluar dari ruang penjaga sekolah—sepatu hitam pekat, hoodie hitam, masker hitam, tas hitam. Segalanya gelap, menelan keberadaannya di antara bayangan gedung. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang curiga.

Sempurna.

"Mereka mulai bubar," lanjut Egan. Matanya mengikuti Lily yang mulai bergerak. "Arah toilet perempuan."

Ia berbalik, langkahnya sedikit dipercepat, menjaga jarak aman. Hoodie pink itu kembali bergerak di antara kekacauan—bukan mendekat, tapi mengalihkan perhatian.

"CHELSEA!"

Teriakan itu menghantam punggungnya seperti lemparan batu.

Egan refleks menunduk, kembali menekan mikrofon. "Cepat ke toilet. Sekarang. Kayaknya aku ketauan."

Langkah berat mendekat dari belakang.

"Woi!"

Jantung Egan berdentum lebih keras. Keringat dingin mulai muncul di tengkuk, merembes pelan ke bawah kerah hoodie. Ia menoleh sedikit-sangat sedikit-cukup untuk memastikan.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang