GO!
Saat mataku menangkap sosok cowok ber-hoodie putih di depanku, pikiranku langsung melayang ke cowok misterius yang kulihat pagi-pagi tadi—yang sempat melambaikan tangan genit sebelum menghilang entah ke mana. Tapi... bukan. Saat cowok ini menoleh ke samping, wajahnya jelas beda.
Bukan dia..., batinku.
Aku menengok ke kiri, lalu ke kanan. Mana dia? Ke mana perginya cowok misterius itu?
"Ella, kamu nyari siapa?"
"Hah!!" Aku melotot kaget saat menyadari Kak Erlando tiba-tiba berdiri di sampingku.
"Astaga... kak! Kaget, tau!" protesku sambil manyun. Tapi Kak Erlando malah tertawa kecil, seperti biasa: menyebalkan tapi charming.
"Yaa maap, Putri Ella yang baik hati nan manis..." ucapnya sok sopan sambil membungkuk dalam-dalam, seolah-olah aku ratu dari kerajaan mana gitu.
Aku hanya bisa menutupi wajahku saking malunya.
"Ando!" Tania muncul dari belakang, nyaris menyeret Kak Erlando dengan ekspresi ‘ibu-ibu capek ngurus anak-anak OSIS’.
"Sini lo! Gak usah malu-maluin, napa!" katanya sambil mencubit lengan Kak Erlando.
Aku dan Kezia tertawa geli. Klasik banget kelakuan dua kakak OSIS itu. Tapi Dey, temanku satu lagi, cuma diam. Entah kenapa ekspresinya selalu sedikit berbeda—entah cuek, entah sedang menilai.
---
Setelah dapat makanan dari kantin, kami mencari tempat duduk yang strategis. Pojok dekat jendela luar—tempat favorit untuk menghindari keramaian dan bisa memantau situasi.
"Kalian tunggu sini, ya. Aku ke Alfa dulu!" Dey pamit dengan semangat sambil melesat cepat. Katanya sih mau beli snack tambahan.
Aku menghadap ke jendela, memperhatikan keributan di luar kantin. Ada yang teriak, ada yang tertawa, ada yang... didorong?
"Ella, kalau gak nyaman liatnya, duduk aja di sampingku." Kezia menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, yang membelakangi jendela.
Akhirnya aku pun bergeser posisi.
Beberapa menit kemudian...
"Ini pesanannyaaa~"
Aku menoleh. Tapi... itu bukan Dey.
Cowok ber-hoodie putih yang kulihat di barisan depan tadi tiba-tiba muncul membawa kantong makanan, lalu langsung duduk di depan kami tanpa permisi.
"Gue anak Excellent Tiga. Boleh, ya, gabung sama kalian?" katanya santai—langsung duduk tanpa nunggu jawaban. Lah?
Aku dan Kezia saling melirik. Lah... kita belum jawab apa-apa, lho?!
Tak lama kemudian, Dey datang dan duduk di samping cowok itu dengan ekspresi bingung.
"Hhm, kamu..." sapa Dey ke cowok hoodie putih.
"Uhuk—uhuk!" Aku dan Kezia hampir tersedak saking kagetnya.
Cowok itu menoleh sambil tetap ngunyah makanan. "Kamu?" gumamnya.
Dey mengangguk polos seperti anak anjing menggemaskan.
"Ooh, gue Alex dari Excellent Tiga. Salken, bro!" katanya sambil mengangkat tangan dan mengepalkan tinju. Dey membalas dengan senyum hangat.
Dan begitu saja... Alex diterima oleh Dey tanpa syarat.
Aku masih bengong. Anak ini tiba-tiba duduk, makan, dan diterima begitu aja? Dey kenapa segampang itu, sih?
Rupanya, Alex dan Dey pernah satu sekolah dasar. Alex sempat cerita, orangtuanya pengin dia masuk ke Excellent Satu, tapi dia ngotot pengen di reguler. Sayangnya, keluarganya yang sangat kaya merasa itu bakal mempermalukan martabat keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
