The XIX : Detak yang Hilang!

20 6 0
                                        


GO!

Aku melihat anak lelaki yang sedang menutup pintu UKS dengan perlahan dan berbalik badan, hoodie putih yang dia pakai sama seperti milikku yang dipinjam. "Alex!"

"Cadby!" Alex melihatku dengan mata berbinar-binar, namun aku menatapnya begitu suram dan menjengkelkan.

"Masih hidup lo?" sapaku yang masih jauh darinya.

"Whehehe." Tawanya yang konyol sambil berjalan lamban ke arahku. "Bro, cih! Bisa sakit lo," sapanya balik.

Aku ikut tertawa sambil membenarkan posisi di ranjangku.

"Eh! Eh? Wait, wait broww. Seragam lo?" Kagetnya saat menyadari aku memakai seragam Excellent. Wajahnya yang meledek membuatku mengangguk-angguk percaya diri.

Toss. Tinju kami beradu setelah Alex berjalan semakin mendekat.

"Wiideehh kok bisa, lo jadi kelass..z..."

Aku benci mulutnya. Itu membuatku spontan menutup mulutnya secepat mungkin. Alex yang bingung, aku sadari dengan melirik dan menunjuk Ella dengan dagu. Disini ada Ella, lo jangan macem-macem! batinku.

"Sstt, biarin dia istirahat," alasanku agar Alex makin paham.

Benar saja. Ekspresi bingung Alex berubah jadi 'Oh, gue tau!' alias paham.

"Jadi lo kenal Ella?" tanya Alex, pura-pura bingung.

"Iya kenal, Ella itu tetangga baru gue," kataku santai sambil menatap lembut Ella yang tertidur pulas.

"Oaalaa." Alex mengangguk-angguk mengerti, lalu berjalan ke arah Ella.
"Nyenyaknyaaa..." gumamnya sambil memainkan poni Ella.

"Lex." Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku minta dia tunjukkan jalan ke toilet ruang Excellent.

Alex begitu semangat menemaniku. Ternyata UKS ini memang ada toiletnya.

"Kok lo bisa sih, jadi anak Excellent?" tanyanya sambil ikut membuang air kecil di sebelahku.

"Ceritanya panjang, males juga gue ceritain." Tapi karena dia kepo banget, aku akhirnya cerita singkat: aku bukan anak Excellent beneran. Sepertinya karena aku sakit, aku didandani dan dikira anak Excellent supaya bisa dibawa ke UKS.

Sepanjang cerita aku ingatkan dia: jangan bocorin ini ke Ella. Dia masih benar-benar mengira aku anak Excellent.

Kami kembali ke ranjang UKS. Niatnya mau merapikan tempat tidurku dan balik ke kelas semula.

"Berarti ini penyamaran lo terakhir?" bisik Alex saat kami berjalan.

Iya, tentu. Aku nggak mau berlama-lama jadi anak Excellent. Aku percaya Alex bisa kasih alasan yang jelas kalau Ella nanya nanti.

Saat sampai di tempatku baring tadi, aku terkejut-Ella masih tertidur dalam posisi yang sama persis.

"Ella?" Aku mendekat dan menggoyangkan tubuhnya.

Tidak bergerak! Aku panik, menatap Alex yang awalnya masih santai.

"Cobaa minggirr, mungkin capek gara-gara kejadian tadi." Tapi aku tahu, ini lebih dari sekadar kelelahan.

Alex pegang nadinya. Hening. Biasanya bawel, sekarang diam. Lalu...

"Haha..." Tawanya kaku. Seolah dia nggak yakin dengan apa yang dia rasakan.

Giliranku. Dua jariku kutempelkan ke leher bagian kanan Ella.
"ELLA!!" Nadaku meninggi. Panik. Telinga dan tanganku mencoba lagi cari denyutnya.

"Ellaa, gak lucu, dih!" Alex mulai ikut panik.

Kami teriak minta pertolongan. Beberapa anak di UKS langsung bangun dan membantu. Alex berlari ke kelas Ella, memanggil teman-teman dan guru.

"ELLAAA!!! Hiks, hiks, hiks..." Isak tangis terdengar. Termasuk dari teman-teman Ella saat perawat UKS bilang: Ella sudah tiada.

Aku merasa bersalah. Harusnya aku nggak menghindar dari Ella...

"Harusnyaa lo nggak usah marah... lo harusnya nikmatin aja bisa satu level sama Ella," bisik Alex di telingaku, tersengguk.

Awalnya aku nggak menangis. Tapi saat dengar ucapan itu, aku nggak tahan lagi. Rasa bersalah menenggelamkanku.

Guru-guru berdatangan. Wali kelas Ella segera menelepon keluarganya. Tapi belum sempat menelepon, Alex tiba-tiba meremas lengan kananku. Matanya melotot, melihat ke arah Ella.

Aku langsung nengok, bertanya dengan mata: Kenapa?!

Semua orang berteriak, "HAAAHH!!" Aku terlambat lihat: Ella terbangun.

Ella mengalami mati suri? Tapi kurasa tidak.

Aku... merasa ada yang aneh sejak kejadian di kamar tidurnya kemarin.

Ya. Bisa jadi dia... kerasukan sesuatu dari kamarnya.

Ella harus diruqyah.

NEXT!

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang