The XLV : Aroma dari Dosa

13 3 1
                                        


GO!

Mobil kami terparkir di basement mall.
Suara mesin berhenti, tapi hawa panas sinar pagi masih nempel di kulit.

"Mau makan dulu nggak?" tanya Medra sambil ngelirik dari kursi depan.

Aku mengelus perut. "Ayo, laper nih gue," jawabku malas.

"Mau dessert-nya macaroon. Udah lama banget nggak makan si baby-baby macaroon," rengek Shisy dari belakang.

Medra ngakak. "Kuy makan!"

Aku menahan langkah mereka. "Bentar."

"Kenapa, Li?" Medra langsung berhenti, Shisy juga ikut nengok penasaran.

"Shi, lo masih di-chat sama Kezia?" pertanyaanku membuat Medra langsung paham.

Tatapan kami bertemu-sepakat tanpa perlu kata.

---


"Gue kirim ya."
Pesanku terkirim ke chat Kezia.
'Kita masuk nih.'

Kami pun melanjutkan rencana awal: pura-pura ditraktir Kezia.

Lift naik ke lantai atas, pantulan lampu neon bikin wajah kami bertiga tampak lebih pucat di kaca lift.
Kezia udah duluan di mall, katanya mau siapin tempat.

"Terus gunanya dia kasih alamat majikannya apa coba?" tanya Shisy tiba-tiba.

Aku dan Medra refleks menoleh bareng, senyum bangga karena-ajaibnya-Shisy nyambung.

"Biar dia tau kalau dia anak pembantu," canda Medra.

"Bukan. Biar kita liat dia keliatan kaya," kata Shisy polos.


Tawa kami berhenti.
Aku dan Medra saling pandang, kesel dan geli sekaligus.

"Jokes itu, oon," Medra nyengir sambil njitak kening Shisy.

Kami duduk di kafe yang ngadep atrium mall, pura-pura santai sambil ngeliatin Kezia dari jauh.
Dia lagi jalan bolak-balik, celingak-celinguk nyari kami.

Segi tampilannya-nggak kayak anak pembantu.
Tapi tetap kelihatan, dia bukan dari kalangan kami.
Ada cara dia megang tas, cara jalan, cara liat orang-semuanya... nggak halus.

"Yuk, samperin," kata Medra akhirnya.

"Ngapain?" halangku cepat. "Suruh aja dia ke sini."

Aku buka HP, pinjem akun Shisy, dan ngetik pesannya pura-pura dari dia:
Kita di kafe lantai dua. Makanannya enak banget, kamu pasti suka!

Beberapa menit kemudian, sosok itu muncul.

"Hai, girls!" sapa Kezia ceria.
Suara itu terlalu riang buat ruangan yang seterang ini.

Aku cuma senyum tipis, Medra ikut. Shisy juga-palsu semuanya.

Kami habisin pagi hingga sore itu dengan acting terbaik kami.
Kezia yang traktir: makan, photobooth, bahkan nonton film.
Entah gimana dia bisa dapet uang sebanyak itu, tapi buatku-buat kami-itu hiburan.
Permainan.

---


Mall sore itu seolah hanya milik kami berempat.
Cahaya oranye senja menembus kaca tinggi, membias di lantai marmer yang licin seperti permukaan air. Suara tawa Shisy menggema, sedikit cempreng tapi entah kenapa terdengar pas untuk menutupi suasana canggung antara aku, Medra, dan Kezia.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang