GO!
Lapangan tengah Libii Academy selalu terlihat sama di mata siapa pun—luas, hijau rapi, dan terlalu sempurna untuk sebuah sekolah yang mengaku “bersejarah.”
Rumput sintesisnya terbentang rata tanpa cela, tanpa satu pun noda tanah atau bekas pijakan yang menetap. Tidak ada jejak, tidak ada luka, tidak ada cerita yang tertinggal. Seolah-olah lapangan ini tidak pernah benar-benar disentuh oleh apa pun yang hidup. Semua terasa steril. Terkontrol. Seperti panggung yang dirancang bukan untuk digunakan, melainkan untuk menyembunyikan sesuatu.
Siang itu cerah.
Langit berwarna biru pucat, bersih tanpa awan yang berarti. Matahari menggantung tepat di atas kepala, memantulkan cahaya terik yang menyilaukan di permukaan rumput. Angin berembus pelan, cukup untuk menggerakkan dedaunan di sekitar tribun dan membuat bayangan tiang bendera bergeser perlahan, seperti jarum jam yang bergerak terlalu lambat.
Tenang.
Terlalu tenang.
Cadby berdiri di sana, sedikit terpisah dari Messa dan Yume.
Ia tidak sengaja menjauh. Tubuhnya hanya… berhenti melangkah. Seolah ada garis tak kasatmata yang memisahkannya dari dua orang itu, membentuk ruang kecil yang hanya berisi dirinya dan lapangan.
Ia menarik napas pelan.
Lalu lebih pelan lagi.
Ada perasaan aneh yang mengendap di dadanya—bukan takut, bukan juga penasaran murni. Lebih seperti… perasaan sedang diperhatikan, padahal tidak ada siapa pun di sekitar mereka selain langit siang yang terik dan bangunan sekolah yang berdiri bisu.
Di bawah telapak kakinya, sesuatu berubah.
Awalnya hanya samar.
Nyaris tak terlihat.
Cadby mengira itu hanya pantulan cahaya matahari yang mengenai rumput dari sudut tertentu. Ia menggeser kakinya sedikit, mencoba memastikan. Namun saat ia kembali diam, sesuatu itu tetap ada.
Garis tipis.
Lalu garis lain.
Perlahan—sangat perlahan—pola itu muncul, seolah tidak ingin mengejutkannya, seolah memberi waktu pada matanya untuk menyesuaikan diri.
Sebuah simbol.
Bukan simbol yang menyala terang atau berkilau dramatis seperti di film-film murahan. Tidak. Simbol ini justru menyatu dengan rumput, seolah tumbuh dari dalamnya. Garis lingkaran luar terbentuk lebih dulu, rapi dan utuh. Di dalamnya, tiga pola lain menyusul—menyilang, berputar, saling mengunci—mengingatkan Cadby pada api, perisai, dan sesuatu yang tak bisa ia beri nama selain waktu.
Cadby menelan ludah.
Dadanya menghangat, lalu mengencang. Ada sensasi aneh yang menjalar dari telapak kakinya ke tulang punggung, membuatnya merinding meski udara siang di lapangan terasa lebih sejuk dari koridor tadi.
Seolah lapangan itu… mengenalnya.
“Kalian ke sini, buat apa?”
Suaranya terdengar tenang, tapi langkahnya membawa tubuhnya semakin dekat ke pusat simbol. Bukan karena ia sengaja ingin mendekat—lebih seperti ditarik. Ia butuh alasan. Apa pun. Bahkan sekadar pertanyaan basi.
“Oh ya, gue lupa jelasin tujuan kita ya. Hahaha.”
Messa tertawa ringan, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ehem. Iya. Gue sama gengnya Kak Egan lagi fokus nyari Galung dan yang lainnya. Mereka ilang tanpa jejak di gedung kecil samping sekolah—”
Kalimat itu terputus.
Messa berhenti bicara saat menyadari Cadby tidak menatapnya. Tidak juga Yume. Tatapan Cadby kosong, turun ke bawah, mengikuti garis-garis tak kasatmata di rumput sintesis.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
