The XLVI : Di Balik Topeng Libii

16 3 1
                                        


GO!

Sekolah kembali ke bentuk semula.
Ramai, tapi dengan jenis kebisingan yang berbeda.
Bisikan-bisikan, tawa sinis, dan suara notifikasi grup yang terus berbunyi jadi musik latar pagi itu.

Tring.
Grup anak-anak Excellent mendadak meledak.
Foto-foto, rumor, dan potongan "bukti" tentang Kezia bertebaran di layar ponsel semua orang.

Di balkon lantai tiga, Jo berdiri tenang sambil memegang buku putihnya - buku lusuh yang tak pernah lepas dari tangan.
Di bawah sana, Kezia jadi tontonan.
Sekumpulan siswa menyorakinya seperti menonton sirkus.

"Seru banget nontonnya dari sini," ujar Jeffry, merangkul bahu Jo dengan semangat. "Pantesan lo anteng di sini, ternyata spot paling strategis, ya? Hahaha!"

Jo melirik sekilas. Tatapannya datar, dingin.
Tak ada reaksi. Hanya suara pensil yang menggores halaman buku putihnya.

"Nanti wartawan dan polisi bakal datang," ucap Jo pelan tapi tajam. "Begitu mereka masuk, hentikan semua pertunjukan. Jangan sampai mereka lihat sisi asli sekolah ini."

Jeffry menegakkan tubuhnya, sedikit canggung. "Tenang, Jo. Serahin aja ke kami, anggota OSIS."

Jo berhenti menulis.
"Setelah bel pertama sampai jam istirahat, lo yang atur anak-anak. Pastikan nggak ada satu pun yang buka mulut. Reputasi Excellent harus tetap bersih."
Tulisannya berantakan, tapi setiap hurufnya seperti ukiran ancaman.

Jeffry mendengus. "Haa, baiklah."

Jo langsung menatapnya tajam. "Kenapa? Lo keberatan?"

"Enggak," jawab Jeffry cepat. "Cuma... narik napas."

"Kalo lo keberatan, gue bisa kerjain sendiri," potong Jo dingin.

Jeffry tertawa hambar. "Dih, bule baperan banget. Gue cuma hembus napas, lo langsung defensif. Padahal gue malah seneng lo suruh bikin drama kayak gini. Nipu media tuh... seru, bro."

Jo menutup bukunya. "Kalau gitu, gue ke Ken dulu. Sebelum bel bunyi."
Tepukan ringan di pundak Jeffry jadi tanda berakhirnya obrolan.

---

Lapangan basket ramai.
Suara sepatu, teriakan cheerleader, dan gemericik botol minum bercampur jadi kekacauan khas pagi hari.

Jo menatap dari jauh, melewati kantin Reguler yang kumuh.
Beberapa anak basket berdiri di atas meja, menginjak makanan murid Reguler seperti permainan kekuasaan.

"Pas istirahat nanti, anak Reguler makan ini aja ya, Bu Kantin!" teriak salah satu pemain sambil menunjuk sisa makanan di lantai.

Jo menatap pemandangan itu datar. Tidak menghentikan. Tidak membantu.
Hanya lewat, lalu melangkah ke tengah lapangan tempat Ken dikerumuni para cheerleader.

"Minggir."
Satu kata - cukup untuk membuat semua gadis itu mundur.

"Jo si dingin," bisik salah satu sambil cekikikan.

Ken berdiri dari duduknya, tubuhnya masih berpeluh. "Tumben lo ke sini."

"Gue butuh bicara."

Nada Jo membuat semua orang otomatis pergi. Lapangan jadi hening.
Hanya mereka berdua.

Ken tersenyum miring. "Apalagi si Jo sekarang?"

Jo menatap lurus. "Kemarin lo ngobrol sama si hoodie hitam."

Ken mengangkat alis. "Dia punya nama, Jo. Kenapa sih lo masih gengsi ngakuin kalo anak Reguler juga bisa nolong? Lagian waktu itu dia bantu kita, inget?"

"Lo ngomong apa aja sama dia?"
Suara Jo pelan, tapi mengandung tekanan.

"Biasa aja. Dia cerita soal mimpi buruknya. Katanya ada wajah gue di mimpi itu, makanya dia kira ada hal aneh." Ken meneguk air dari tumbler, santai. "Itu doang."

Jo mendekat, suaranya nyaris berbisik.
"Lo sadar nggak, dua tahun ini nggak ada guru satu pun yang kenal dia?"

Ken terdiam. "Maksud lo?"

"Dia bukan murid biasa. Identitasnya nggak pernah tercatat di data sekolah." Tatapan Jo menusuk. "Dan yang lebih parah, dia tahu hal-hal yang bahkan lo sendiri udah lupa."

Darah di wajah Ken seakan surut. "Lupa? Maksud lo-"

"Lo sering lupa hal penting. Lo bahkan udah lupa dulu seberapa dekat lo sama Jeffry. Sekarang lo rela dipermalukan sama dia kayak bukan siapa-siapa."

Ken mengepalkan tangan. "Jangan bawa-bawa Jeffry!"

Jo tak berkedip. "Atau mungkin lo sendiri yang hapus ingatan lo, pake sihir lo sendiri?"

Suara Ken meninggi. "Apa maksud lo, hah?! Gue nggak-"

Kerah seragam Jo ditarik kasar.
Udara di antara mereka membeku. Tatapan Ken berapi, tapi Jo tetap tenang, menatap balik seperti memegang kendali penuh.

"Tahan emosi lo," ujar Jo datar. "Hari ini, media dan polisi bakal keliling sekolah. Pastikan tim basket lo bersih. Kalau sampai mereka tahu kebenaran soal kejadian sebulan lalu, lo yang jatuh duluan."
Jo berdiri lebih tegak dari Ken. "Inget. Ini cuma gempa biasa. Semua yang lain - hilangkan dari berita."

Jo berbalik, meninggalkan Ken dengan napas memburu dan mata yang menyala.

"ARRGHHH!!!"
Suara teriakan Ken memantul di dinding lapangan.
Ia menatap punggung Jo dengan kebencian yang belum sempat dia pahami.

"Baru aja gue mau percaya sama si hoodie hitam..." gumamnya lirih. "Sial."

---

Beberapa jam kemudian, rencana berjalan mulus.
Anak-anak Excellent sudah dipilih secara acak untuk diwawancarai media.
Sementara itu, ruang kelas Reguler dikunci dari luar.
Beberapa siswa Excellent berjaga di tiap pintu, membawa tongkat besi dan pentungan.

"Tenang, kita diem aja," bisik Egan ke Eric di kelasnya.
Matanya menatap ke luar jendela, ke arah koridor tempat penjaga-penjaga Excellent berdiri. "Belum waktunya."

Eric mengangguk pelan. "Biarin aja media percaya sama omongan mereka dulu."

Suara langkah polisi terdengar di lantai atas.
Semua berjalan sesuai skenario OSIS.

"Elizabeth Odelia Queenie," panggil seorang anggota OSIS yang masuk ke kelas Excellent 1.

Dey langsung menoleh ke arah Ella.
Ella berdiri, diam, lalu mengikuti mereka menuju lab komputer.

Di ruangan itu, lampu neon menyala terlalu terang.
Ada kamera, beberapa berkas, dan seorang polisi bernama Yuan duduk menatap Ella dengan ekspresi penuh selidik.
Kepala sekolah berdiri di belakangnya, beberapa anggota OSIS berjejer di sisi dinding - termasuk Ratania.

Yuan membuka berkasnya. "Elizabeth, saya harap kamu bisa jawab dengan jujur. Apa benar gedung sekolah ini retak karena gempa berskala sedang? Atau ada sesuatu yang tidak dilaporkan?"

Ella menatap sekitar. Pandangannya tertumbuk pada wajah Ratania, lalu kepala sekolah, lalu kembali ke Yuan.

"Aku..."
Suara Ella bergetar pelan. "Aku butuh ruangan tanpa siapapun. Aku gugup."

Yuan sempat ragu, tapi mengangguk.
Satu per satu mereka keluar ruangan.
Pintu tertutup rapat.
Tinggal Ella dan polisi itu.

Keheningan mendadak terasa menekan.

Ella mengangkat wajahnya perlahan, menatap Yuan lurus-lurus.
Tatapannya kali ini bukan tatapan gadis gugup - tapi seseorang yang tahu terlalu banyak.

"Aku berani bersumpah," katanya pelan, "kalau aku berbohong, aku malah akan baik-baik saja."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi kalau aku jujur..."
Senyum samar muncul di wajahnya. "Aku yang akan diburu."

Yuan membeku.
Dan untuk sesaat, hawa di ruangan itu berubah - seolah udara menahan napasnya sendiri.

---
NEXT!

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang