The XLIX : Kudeta Sunyi

11 3 0
                                        


Ketika perintah berubah jadi pengkhianatan, dan diam jadi bahasa baru kekuasaan

GO!

“Di mana ramuannya?”
Suara itu rendah, tenang, tapi tajam seperti pisau yang disembunyikan di balik jas putih.

Lelaki berpostur tinggi berdiri di ujung ranjang UKS. Kulitnya pucat dengan rona cool tone, rambut keemasan berkilau di bawah cahaya lampu, dan bola mata biru menatap lurus tanpa emosi. Di lengannya, sebuah buku putih terlipat rapi—tak terpisahkan dari sosoknya.
Ketua OSIS Libii Academy.
Tuan Jo.

Di ranjang di depannya, Pak Yuan, sang detektif polisi, terbaring tak sadarkan diri. Kepalanya terbalut perban putih yang mulai basah oleh darah segar.

Beberapa menit sebelumnya—

“Bu… bagaimana ini?”
Salah satu OSIS berbisik panik di telinga kepala sekolah. Wajahnya pucat, keringat menetes di pelipis.
“Ruang Reguler… tidak bisa dikendalikan. Keadaan di dalam kacau!”

Kepala sekolah menatap punggung Pak Yuan yang berdiri di depan pintu besar kayu jati.
Tatapannya dingin. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik,

“Kita lumpuhkan dia.”

“Bu, Anda yakin? Dia ini polisi. Kalau dia—”

“Tenang,” sahut kepsek datar, matanya tak lepas dari punggung Yuan.

“Ini langsung perintah dari Tuan Jo. Lumpuhkan sementara—hilangkan ingatannya.”

Seolah mendengar, Pak Yuan tiba-tiba menoleh, suaranya tenang tapi cukup membuat jantung semua orang berhenti berdetak.
“Mana kuncinya?”

Kepala sekolah tersentak, tapi cepat menutupinya dengan senyum kaku. Ia menepuk bahu seorang OSIS muda yang menunduk dalam. Bocah itu mengeluarkan kunci dari saku celananya, tangannya bergetar.

“Tolong bukakan,” ujar Pak Yuan pelan. “Saya cuma ingin lihat.”

Kepsek mengangguk tipis.
Tidak apa-apa.

Krincing.
Rantai besi dilepas. Gembok besar jatuh ke lantai dengan suara nyaring yang menggema di seluruh koridor.
Udara dari dalam ruangan mengalir keluar—hangat, pengap, dan berbau logam.

Yuan mendorong pintu itu perlahan.
Grekkk—derit panjang memotong keheningan.
Dan saat itu juga—

“AAAA!! BRAK!! BUGK!! HIIAA!!”

Suara kekacauan menghantam dari balik pintu. Jeritan. Suara meja terlempar. Kaca pecah bersahutan. Bau darah menyesaki udara.

Pak Yuan berdiri di ambang pintu.
Apa yang ia lihat membuat matanya membesar.

Puluhan siswa Reguler bertarung melawan OSIS.
Tongkat, kursi, serpihan kaca—semua jadi senjata.
Wajah mereka luka, penuh darah, tapi sorot matanya hidup.

“Sekarang,” bisik kepala sekolah pelan namun tegas.

“Pak Yuan—!!”
Suara OSIS yang membukakan pintu memecah fokusnya. Ia menoleh—terlambat.

BUGK!

Dua OSIS di belakang Yuan melangkah cepat. Satu menghantam belakang kepala Yuan dengan tinju berlapis besi. Gerakannya rapi, terlatih, mematikan.

Tubuh Yuan terjatuh. Rantai di lantai ikut bergetar.

Kepala sekolah menutup mulut sejenak—antara ngeri dan puas.
Lalu berbisik lirih,

“Lakukan.”

Hentikan mereka, dan ambil ramuan hijau.

Empat OSIS bergerak cepat, dua di antaranya menyeret tubuh Yuan ke samping, dua lainnya berlari menuju ruang Reguler.

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang