The XLI : Reruntuhan yang Berbisik

13 3 2
                                        


GO!

Waktu terasa berputar kembali ke titik semula: sekolah dibuka lagi, aktivitas mengalir seperti biasa, tetapi bekas-bekas kerusakan masih terlihat di mana-mana. Papan pengumuman tertutup debu, scaffolding menempel di beberapa sudut gedung, dan beberapa ruang kelas masih ditutupi terpal plastik. Suara palu dan gerinda menyelinap di antara tawa murid-murid, seperti usaha keras untuk menyamarkan sisak-sisak kepanikan yang kemarin sempat membuat semua orang terperangah.

Sudah sebulan sejak malam hujan itu-sejak Iko menghilang lalu muncul kembali, sejak aku, Rina, dan Aldo terlibat dengan hal-hal yang tak masuk akal di halaman rumahku. Sudah sebulan juga sejak pertemuanku dengan Egan, sejak sosok-sosok aneh itu mulai menyelinap ke hidup kami. Satu bulan yang terasa seperti musim lain: ada yang berubah, dan kami dipaksa berjalan di tengah perubahan itu.

"-Itu ulah flowers monster, kenapa di berita malah bilang karena bencana alam gempa bumi?" Aku menatap gedung utama Libii Academy yang masih setengah diperbaiki. Debu menempel di pilar, dan beberapa jendela diganti-seperti bekas luka yang baru ditambal.

Dey sudah di belakangku. Ia memanggil namaku, lalu berlari kecil menghampiriku. Di belakangnya, aku melihat sosok gondrong yang mengayuh sepeda pelan, memunggungi kami dengan senyum setengah malu. Dey menoleh, matanya berbinar.

"Ooh, itu kakakku. Kita memang beda sekolah," kata Dey ringan, seperti memberi label pada pemandangan biasa.

Aku mengangguk. "Dey tiap hari diantar kakak naik sepeda?"

"Iya. Tiap hari, tiap waktu. Dia yang ngantar, yang ngayuh-dia kakakku yang paling bisa diandalkan," katanya, senyum lebarnya semringah seperti biasanya.

Suasana ringan itu membuat dadaku agak longgar, tapi rasa tidak nyaman tetap bersembunyi di bawah kulit. Aku tahu, setelah kejadian kemarin, semuanya berubah. Kami semua bergerak seperti boneka yang digerakkan tali: tampak biasa di permukaan, tapi di dalam ada satu atau dua benang kusut yang tak bisa dijahit rapi lagi.

"Lo tahu nggak, rasanya aneh. Baru masuk, sudah kayak gini," gumamku sambil menatap façade sekolah yang belum selesai dibersihkan. "Harusnya ini masa-masa gue sibuk kenalan lagi, bukan ikut berantem soal berita palsu."

Dey mendengus. "Media kan gampang dibohongi kalau sumbernya dari atas. Mereka bilang gempa, padahal logikanya nggak masuk. Bangunan kita kokoh, ini kerusakannya nggak logis buat gempa kecil."

Kata-katanya menempel di pikiran. Memang: beberapa bagian hancur terlalu teratur, atau rusaknya tidak seperti dampak gempa biasa. Ada yang tampak seperti disengaja-atau setidaknya ada tanda-tanda manipulasi. Aku menatap rekan-rekanku dan merasa tiba-tiba semua kebetulan tampak berbahaya.

Kami berjalan pelan menuju tangga. Di bawah terdengar tawa serak kakak-kakak kelas yang sedang menggoda seseorang-suara itu membuat punggungku merinding sedikit. Sesampai di lantai dua, aku menoleh ke bawah melalui reiling kaca dan melihat Alex, lagi-lagi jadi sasaran olok-olok.

"ALEEXX!!" Aku tidak bisa menahan diri dan berteriak. Dey menepuk pundakku dengan sinis. "Ella," bisiknya dengan mata memicing-sebuah teguran kecil untukku yang tak bisa diam saat melihat ketidakadilan.

Kakak-kakak itu menggoda, mengacak-ngacak rambut Alex sambil menertawakan ekspresi polosnya. Aneh melihat Alex yang biasanya tenang jadi seperti target kecil. Untungnya, Dey segera turun untuk membantu, dan tak lama Alex bergabung kembali di samping kami-rambutnya masih agak acak, namun ia tersenyum datar tanpa melawan.

"Aman... lagian selama gue masih anak excellent, gue aman, Dey," jawab Alex santai saat Dey memeriksa pipinya yang memerah.

"Aman dari mana? Muka lo bonyok tuh," selorohku sambil menunjuk pipinya.

Dey memberi penjelasan serius singkat yang membuat jantungku mengetat: "Selama anak-anak reguler terus menghilang, targetnya bergeser. Mereka mulai menyerang murid-murid reguler dulu, lalu kadang mengikuti ke kelas excellent. Excellent level bawah-tiga, empat, lima-itu yang rawan."

Mendengar itu, aku nyaris tersedak. "Anak-anak reguler hilang? Terus... Cadby?"

Alex menatapku, lalu menjelaskan, "Bukan semua, La. Gue berangkat bareng Cadby tadi pagi. Kelompok yang hilang sebelumnya memang kelas reguler. Monster-monster itu mendatangi area-area reguler dulu sebelum naik ke excellent." Suaranya tenang, tapi matanya berkedip keras.

"Sekolah ini nutupin semua identitas korban," lanjut Dey, nada bicaranya berat. "Nama-nama mereka dihapus, dicatat bolos atau alasan palsu lain supaya jejak hilang. Media pun dibikin nurut, demi citra Libii. Itu sebabnya nanti polisi pasti akan datang untuk buat wawancara kita. Jangan nutupin apa-apa, jelasin apa yang kita lihat."

Aku menatap mereka dan merasakan ada beban baru yang menempel di pundakku. "Kenapa? Kenapa harus ditutup-tutupi?"

Dey menatapku dalam, matanya hijau seperti biasanya menahan jawaban yang berat. "Karena ini soal reputasi dan uang, Ella. Sekolah ini punya banyak wajah: mewah di depan, rapuh di belakang. Kalau semua kebusukan keluar, reputasi jatuh-donatur kabur, fasilitas dicekik. Mereka memilih menutup semuanya. Itu kejam, tapi mereka pintar memainkan kata-kata."

Kata-katanya mengiris. Dey selalu terdengar bodoh manis ketika ia bercanda, tapi saat serius ia berubah menjadi orang yang sagacious-tegas, tak terduga. Itu membuatku hormat sekaligus takut.

---

Kami duduk di ruang kelas seperti biasa. Satu per satu murid memasuki kelas, beberapa masih memegang raut letih seperti orang yang tak cukup tidur. Aku melirik kursi kosong Kezia. "By the way, Kezia mana?" tanyaku karena penasaran.

"Ngga usah peduli. Dia juga nggak pernah cari kamu," jawab Dey singkat, lalu mengambil buku dari dalam tas. Nada suaranya datar-seperti informasi biasa-tetapi ada sesuatu di balik itu yang membuatku merasa gugup.

Di sudut kelas aku melihat ruang kosong; di sudut lain, keheningan tiba-tiba terasa tebal. Aku memandang Dey sambil mengunyah ide-ide yang baru saja ia lemparkan. Lalu dia berkata sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri: "Ella, aku punya kemampuan membaca isi kepala makhluk yang lewat depan mataku. Semua, manusia, hewan, bahkan... entitas lain."

Aku hampir muntah kaget. "Maksudmu... telepati?"

Dey mengangkat bahu santai. "Bukan psikolog, bukan dukun. Cuma kemampuan yang aku nggak bisa jelaskan. Tapi berguna. Kadang buruk, kadang membantu."

Aku menatapnya, setengah ingin tertawa, setengah percaya. Dey memang anomali kecil-sifatnya manis, tubuhnya kecil, tetapi otaknya... dia tahu terlalu banyak hal. Saat ia bicara tentang "tim polisi" yang mungkin akan mewawancarai, suaranya menjadi sangat serius. Itu bukan gurauan. Dia tahu konsekuensi.

Bel pelajaran belum berdentang, namun kelas kami mulai ramai. Seorang guru masuk dan mencoba mengalihkan topik ke materi; namun pembicaraan semalam belum sepenuhnya padam di kepalaku. Di sela-sela pelajaran, Dey bergumam-riang, "Oh, aku sama K'Vin kemaren belanja hasil 'mencetak uang'." Ia mengatakan itu seperti lelucon, tapi beberapa murid menoleh heran.

"Mencetak... uang?" aku hampir terbatuk karena ekspresinya. Dia mengangguk santai. Dey memang suka bercanda berlebihan; entah itu lelucon atau kenyataan yang ia bungkus sebagai candaan agar kami tak panik.

Waktu berputar masuk ke jam istirahat. Aku keluar kelas, menatap koridor yang dulu biasa, kini menyisakan bekas-bekas kecemasan. Ketika aku melangkah, pikiranku melayang ke berkas-berkas yang pernah kulihat di tangan Egan, ke parfum-parfum kecil yang sempat ia tinggalkan di kamarku. Semua seperti keping teka-teki yang belum kususun rapi.

Sebelum bel masuk, aku menengok lagi ke meja-kursi kosong Kezia masih bersih. Aku berbisik, "Kezia beneran nggak dateng ya," dan Dey hanya mengangkat bahu. Sekolah ini sibuk menambal, menutup; kami sibuk bertanya, menggali, menahan rasa takut.

Di luar, tukang-tukang masih bekerja keras, kaca diganti, kabel disusun rapi. Di dalam kelas, kami belajar dengan rutinitas yang sama-sekolah harus berfungsi, katanya. Tapi di baliknya, ada rahasia yang terlipat rapi oleh orang-orang yang punya kepentingan.

Ketika bel berbunyi, aku menatap teman-teman. Mereka tampak biasa-tertawa, bercanda-namun mata mereka kadang melirik ke arah lorong seperti menunggu sesuatu yang tidak diketahui. Aku mengangkat tasku perlahan: hari-hari kami belum akan normal, dan mungkin tak pernah akan benar-benar normal lagi.

NEXT!

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang