GO!
Senja merambat pelan di Libii Academy, menutup hari dengan cahaya oranye pucat yang menempel di dinding kaca gedung utama. Sekolah ini memang dibangun untuk memamerkan kemegahan: bangunan tinggi dengan arsitektur modern, jendela lebar, cat putih mengkilap. Dari gerbang, orang hanya akan melihat kemewahan itu-seolah tak ada celah cacat sedikit pun.
Tapi Egan tahu.
Di sisi kiri, agak masuk ke dalam, ada dua dunia yang nyaris bersentuhan: lapangan basket Excellent yang megah dan kantin reguler yang kumuh.
Lapangan basket seperti panggung pamer: lantai kayu dipoles mengilap, garis putih rapi, ring tinggi dengan papan kaca bening, bahkan lampu sorot yang siap dinyalakan saat malam. Semua serba modern, seperti lapangan internasional. Anak-anak Excellent menyebutnya "mahkota sekolah."
Tepat di sampingnya, berdiri bangunan kecil yang nyaris roboh. Kantin reguler.
Atapnya cuma terpal biru yang bolong di sana-sini, ditopang kayu bekas. Kursi panjang reyot, meja berminyak, lantai semen basah penuh noda. Dari luar, hampir tak terlihat karena tertutup bayangan gedung utama dan sorot lampu lapangan. Dari dalam, dunia ini seakan tak diakui.
Egan berdiri di batas itu, tempat terang dan kumuh bertabrakan. Jantungnya berdegup cepat, bukan hanya karena tempat ini sarang masalah, tapi juga karena tujuan sebenarnya: Ken.
---
Ruang Penyiksaan
Bagi anak reguler, kantin bukan sekadar tempat makan. Ini ruang penyiksaan.
Begitu melangkah masuk ke kantin, aroma minyak jelantah langsung menusuk hidung. Anak-anak reguler duduk dengan tubuh membungkuk, wajah pucat, makan terburu-buru seolah setiap suapan bisa dipantau. Mereka tidak tertawa, tidak bercanda-hanya diam.
Di sudut kanan, tiga anak Excellent berseragam rapi sudah mengambil alih satu meja. Sepatu basket putih mereka kontras dengan lantai kotor. Mereka tertawa keras, sementara seorang murid reguler berdiri kaku di depan mereka, tangannya gemetar membawa dua plastik gorengan.
"Cepetan, Dodol! Jangan bikin gue nunggu lama!" bentak salah satunya.
Anak reguler itu mengangguk cepat, meletakkan gorengan di meja.
"Segini doang? Besok duit jajan lo setor semua, paham? Atau gue kasih tau abang-abang OSIS biar lo belajar sopan," kata yang lain, menepuk kepala korban dengan keras.
Anak reguler itu hanya menunduk. Tidak ada yang berani menolong. Bahkan penjual kantin, seorang ibu paruh baya, cuma menatap lantai. Wajahnya ketakutan, seolah sudah terlalu sering melihat kejadian seperti ini.
Egan mengepalkan tangan di bawah meja kosong tempat ia duduk. Rasa ingin menolong membakar dada, tapi ia menahannya. Tidak sekarang. Fokus ke Ken.
---
Di sela bau minyak dan suara tawa kejam, bayangan mimpi itu kembali hadir.
Egan ingat detailnya jelas.
Meja belajar kuno, kayu jati penuh retakan.
Kamar luas dengan kasur raksasa di tengah ruang, udara dingin menusuk.
Anak kecil berdaster putih, tubuhnya dipenuhi selang infus, napasnya pelan.
Sosok remaja berkemeja kotak-kotak, wajahnya kabur.
Dan dirinya-Egan-bersembunyi di bawah meja, napas tercekik.
Mimpi itu bukan bunga tidur. Rasanya nyata. Dan setiap kali mencoba memahami, wajah Ken selalu melintas.
---
Kapten Basket
Sorakan dari lapangan makin dekat. Ken muncul.
Bola basket ditenteng, seragam Excellent masih rapi meski rambut gondrongnya basah keringat. Di belakangnya, anak-anak basket lain ribut, tertawa, merasa dunia di genggaman mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
