GO!
"CADBY GILAK!" Ella meneriakiku dari belakang.
"Apa-apaan sih? Lo... MAU MATI?" bentaknya, matanya membelalak kesal. Langkah kakinya dihentakkan keras di lantai saat mendekat, bahunya condong ke depan seperti anak TK ngamuk.
"Baru hari ini kita ketemu di kelas, tahu!" sentaknya lagi, tangan mungilnya menarik lenganku.
Aku diam. Tidak membalas. Tidak juga menolak sentuhannya. Aku hanya... melangkah maju. Mengabaikan Ella. Mengabaikan semua.
Ando si OSIS tengil berdiri di pintu. "Silakan, pahlawan."
Ella histeris. "KAK! APA-APAANSI?!"
PLAK! Tangan Ella mendarat di pipi Ando. Semua satu kelas membelalak.
"BEGO LO! APA?! HAH?!"
PLAK! Tamparan kedua. Lebih keras. Ando hanya mematung.
Sementara itu, Ken sibuk membongkar tas Dey. Talinya disobek, lalu dililit di lengannya. "Bahan karetnya... bisa tahan. Kalau kita diserang lagi."
"Diserang... apa?" desisku.
Ken tidak menjawab. Ia melempar tas yang sudah dirobek-robek ke arahku.
Tanpa bicara, Wen juga mulai menyobek tasnya sendiri. Yang lain hanya mematung. Suasana kelas hening seperti pemakaman.
Ken menemukan solatip dan gunting. Kami bertiga mulai menyiapkan "perlindungan darurat". Tak ada yang benar-benar mengerti. Tapi semua sadar... sesuatu sedang terjadi.
Ken berjalan ke pintu. "Ikut gue."
Wen mengekor di belakangnya.
Aku mengikuti. Saat langkahku menyentuh ambang pintu, Ella menarik lenganku. Tapi aku menepisnya perlahan. Tak sanggup bilang apapun.
---
Misi dimulai
Ruang Excellent benar-benar luas. Terlalu luas. Terlalu sepi.
Tak ada suara selain langkah kaki kami. Dinding-dinding marmer putih memantulkan bayangan kami bertiga. Lampu-lampu gantung di lorong terlihat padam di kejauhan.
Aku berjalan paling belakang. Kami bertiga saling berpegangan tangan. Rasanya seperti berjalan di dunia lain.
"Pegangan terus," bisik Ken.
Aku nyaris melepas tangan Wen. Spontan Ken menoleh tajam.
Dari kejauhan, kulihat ruang 7 Excellent 4. Siswa-siswinya menggedor jendela, menjerit ingin keluar.
"Biarin. Jangan lihat. Mereka udah... panik," desis Ken.
Suara ketukan kaca dari ruang sebelah mulai terdengar seperti genderang neraka.
Aku mulai gemetar. Suara langkah kami sendiri pun terdengar terlalu keras di telinga.
"Depan... toilet," kata Ken.
Kami berjalan lebih pelan.
---
Toilet Excellent.
Ken menengok ke dalam terlebih dulu. Lalu melambaikan tangan. "Masuk. Cepat."
Wen berlari lebih dulu. Diikuti aku dan Ken.
"Gue pipis juga deh," ucap Ken santai, membuka resleting celananya.
Aku tertegun sejenak, lalu ikut pipis di sebelahnya. Semua terasa aneh. Tapi air seni hangat itu memberiku sedikit rasa aman.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
