The XLVII : Bara dari Dalam

12 3 1
                                        


GO!

Diam.
Suara jam dinding terdengar terlalu keras.
Tik. Tak. Tik. Tak.
Seolah waktu sengaja melambat, menunggu Ella membuka rahasia yang bahkan dinding ruangan ini nggak siap dengar.

Yuan menegakkan duduknya, mencoba mempertahankan kendali.
"Tadi kamu bilang... kamu yang akan diburu?" suaranya terdengar ragu. "Diburu oleh siapa?"

Ella menatap pena di tangan polisi itu.
"Kadang, orang yang nanya pertanyaan kayak gitu justru yang pertama kali hilang."

Pena itu berhenti menulis.
Yuan menelan ludahnya perlahan. "Maksudmu ancaman, Nona Queenie?"

"Bukan ancaman."
Ella menunduk, menatap pantulan dirinya di meja kaca.
"Cuma peringatan."

Kilatan kecil muncul di meja—bukan cahaya, tapi getaran halus yang hanya terasa, bukan terlihat. Yuan spontan menarik tangannya dari meja.

Ella memejamkan mata sebentar.
"Nggak semua yang retak di Libii karena gempa, Pak. Ada sesuatu yang... dikubur di bawah sekolah ini. Dan setiap kali seseorang berusaha bilang kebenarannya—sekolah akan menutup mulutnya sendiri."

"Menutup... mulutnya?" Yuan mengulang, nadanya mulai cemas.

Ella membuka mata. Tatapannya tenang, tapi terlalu dalam.
"Ada rahasia besar yang terkubur di sekolah ini."

Yuan berdiri kaget. "Oh, saya tahu itu. Sudah banyak berita menyebarkan mitos tentang sekolah ini."

"Pak Yuan," suara Ella terdengar pelan, seperti gema yang terdistorsi,
"Itu bukan mitos. Kami merasakannya secara nyata."

"Maksudmu... gempa kemarin bukan penyebab bangunan ini roboh?"

Ella menegakkan pandangannya. Ia tahu, polisi Yuan benar-benar sedang mencari kebenaran.
"Seperti yang Bapak bilang, gempa berskala sedang nggak mungkin sampai menghancurkan bangunan sekokoh ini."
Ia tersenyum samar. "Lucu kan, kalau alasan paling masuk akal justru yang paling bohong."

"Jangan bikin saya bingung, Ella. Kamu hanya berputar-putar, tidak memberi jawaban apa pun," desah Yuan.
"Kalau begitu kita akhiri saja. Masih banyak yang perlu saya interogasi."

"Baik," ucap Ella tenang, mulai merapikan roknya dan berdiri.

"Panggilkan selanjutnya... Kezia Alanta dari kelasmu," kata Yuan sambil fokus ke catatannya.

Ella menoleh perlahan.
"Bahkan kalau aku memberitahu kebenarannya... apa Pak Yuan akan percaya, dan berpihak padaku?"

Yuan mendongak, memiringkan kepala.
"Jangan buang waktuku, Nona Queenie."

"Tiga sistem, tiga pintu, dan tiga eksperimen."
Ella menatap lurus. "Itu bukan sekadar rumor."

Alis Yuan berkerut. "Kamu tahu segalanya?"

"Aku mengalaminya, Pak." Ella kembali duduk, menghadap pria berumur tiga puluhan itu.
"Semua mitos itu nyata."

"Benar dugaan saya," gumam Yuan lirih. "Bangunan sekokoh ini roboh karena gempa? Mustahil."
Ia menatap Ella tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi, Elizabeth?"

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang