The LIX : Golden Choice

15 3 1
                                        


GO!

Sudut Pandang Jo

Setelah kejadian di UKS bersama Ken, semuanya kembali ke pola lama—pola yang dibuat rapi, dingin, dan terlihat sempurna dari luar. Ken kembali menjadi kapten basket dengan senyum percaya diri dan sorot mata penuh ambisi khas atlet sekolah unggulan. Sementara aku… aku kembali menjadi Jo, ketua OSIS Libii Academy yang dikenal tenang, berwibawa, dan nyaris tanpa cela.

Aku memimpin rapat singkat dengan para pengurus OSIS, beberapa guru, dan kepala sekolah. Dengan suara datar dan sikap penuh kontrol, aku menyampaikan bahwa situasi telah berada dalam pengawasan.

“Tidak perlu ada kepanikan lanjutan,” ucapku. “Pak Yuan sudah ditangani oleh OSIS Kesehatan. Semua prosedur berjalan sesuai standar.”

Kepala sekolah mengangguk, tampak lega. Beberapa guru saling bertukar pandang, lalu mengendurkan bahu mereka. Yayasan menyukai efisiensi. Dan aku selalu menjadi simbol efisiensi itu.

Tak lama kemudian, aku kembali ke ruanganku.

Ruang Ketua OSIS.

Ruangan ini selalu memberiku rasa tenang yang hampir berbahaya. Dinding bernuansa abu terang, rak kayu cokelat tua yang dipoles rapi, jendela besar menghadap halaman tengah sekolah, dan sofa jabatan berwarna hitam yang empuk—semuanya seperti dirancang khusus untuk menenangkan pikiran… sekaligus menyembunyikan niat.

Aku menjatuhkan diri ke sofa, menyandarkan punggung, dan memainkan pulpen di antara jemariku. Bunyi ketukan kecil dari ujung pulpen ke kuku terdengar ritmis, menenangkan. Entah sejak kapan aku tertawa kecil sendirian.

Bukan karena aku gila.

Atau mungkin… memang iya.

Dengan jabatanku sebagai ketua OSIS, yayasan sekolah memberikan kepercayaan penuh padaku. Mereka tahu, di antara semua struktur yang ada di Libii Academy, akulah yang paling bisa diandalkan. Kepala sekolah—yang telah menjabat terlalu lama sebagai guru sebelum naik pangkat—hanya simbol administratif. Sementara aku adalah penggeraknya.

“Haha…” gumamku pelan. “Padahal seharusnya dia yang mewaspadaiku. Bukan kepsek.”

Kalimat itu hanya terdengar olehku sendiri.

Mataku melirik ke sudut ruangan, ke arah CCTV kecil yang menyala dengan lampu indikator hijau. Kamera itu terhubung langsung ke layar besar di ruang yayasan—dan juga ke komputer di hadapanku.

Itulah alasan kenapa aku tidak pernah bisa sepenuhnya melepaskan topengku.

Aku harus berpura-pura.

Sampai tujuan asliku tercapai.

Nama itu kembali muncul di benakku, seolah dipanggil oleh sesuatu yang lebih dalam.

“Ken…”

Bersamaan dengan itu, ingatanku melayang pada ramuan-ramuan yang dicuri Egan dari ruang rapat OSIS. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku bangkit berdiri, refleks, lalu melangkah cepat keluar dari ruanganku menuju ruang rapat OSIS.

Pintu ruangan rapat terbuka setelah kartu identitasku menempel di sensor.

Begitu masuk, pikiranku langsung bertanya: Bagaimana caranya dia masuk ke ruangan ini tanpa kartu?

PCS: True TotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang