GO!
Pintu raksasa itu berdiri di depanku. Tertulis dengan huruf kapital besar—
“RUANG REGULER.”
“Cih.”
Nada jijik keluar dari mulutku tanpa sadar. Ironis. Pintu yang katanya untuk “anak buangan” justru dari kayu jati berukir mewah, seolah sekolah ini mau bilang,
‘lihat, bahkan tempat terendah pun masih harus tunduk pada kemegahan kami.’
Aku mendorong pintu itu. Beratnya bukan main—seolah menolak disentuh oleh tangan-tangan kotor seperti milikku. Tapi begitu berhasil terbuka, udara di baliknya langsung menampar wajahku. Bau apek, campur debu, dan sesuatu yang entah kenapa terasa… mati.
Langkahku menjejak ke dalam.
Dan rasanya… déjà vu.
Seperti baru kemarin aku datang ke tempat ini untuk pertama kali, dengan seragam baru dan harapan kecil yang bahkan kini terasa konyol.
Deretan kelas reguler—dari sembilan sampai tujuh—berjejer kumuh di sepanjang koridor. Cat dindingnya mengelupas, lampu redup, dan kaca jendela penuh coretan spidol yang belum sempat dihapus.
Bahkan udara di sini lebih dingin dari biasanya. Dingin yang bukan karena cuaca, tapi karena kenangan.
---
“Cadby.”
Suaranya memecah lamunanku. Aku menoleh.
Dari balik pintu bertuliskan 9 Reguler 2, muncul seorang cowok berambut acak, napasnya sedikit tersengal.
“Lo nggapapa, By?” katanya dengan wajah khawatir.
Aku mengernyit. “Ada apa?”
Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat, tapi aku nggak tahu kenapa.
Belum sempat dia jawab, satu lagi muncul.
Cowok berkulit gelap, badannya agak besar, menghampiri dengan wajah serius.
“Karna semua anak kelas lo nggak tersisa…” katanya pelan.
“Sekarang reguler kelas tujuh cuma sampai tiga kelas doang.”
Aku menatapnya, ngerasa ada sesuatu yang nyetrum di kepala.
“…apa maksud lo?”
“Kelas tujuh reguler empat,” lanjutnya.
“Sekarang digabung. Jadi cuma ada tiga kelas aja.”
Kata-kata itu nyangkut di tenggorokanku.
Dunia tiba-tiba jadi sunyi.
---
Aku nggak tahu kapan kakiku mulai bergerak, tapi tiba-tiba aku udah berlari.
Suara langkahku menggema di lorong, dan setiap mata di sana memandangku—penuh kasihan.
Bisik-bisik mulai terdengar, menusuk gendang telingaku seperti jarum halus.
“Kasian dia…”
“Hanya Cadby yang selamat.”
“Dia hidup karena Egan.”
“Teman-temannya nggak tersisa.”
Aku berhenti di depan kelasku.
7 Reguler 3.
Tangan ini langsung mendorong pintu sekuat tenaga—
BRAK!
Semua kepala di dalam kelas menoleh ke arahku.
Bukan tatapan benci.
Bukan juga heran.
Tapi… tatapan kosong. Bingung. Prihatin.
Dan itu yang paling aku benci.
Aku menyapu ruangan dengan pandangan. Meja-meja tak lagi sama. Kursi yang dulu kuingat penuh coretan nama teman-temanku kini diganti, dipindah, acak-acakan.
Tak ada wajah yang kukenal.
“Apa yang terjadi di sini…?” suaraku bergetar.
Tapi tak ada jawaban.
Langkahku goyah.
Aku nyaris jatuh kalau bukan karena seseorang sempat menahan bahuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
