GO!
BRAKK!!
Pintu kelas Reguler 3 kelas 7 jebol. Bukan karena tua, tapi karena Ken, si anak gede berotot, nendangnya kayak lagi uji kelayakan pintu baja.
"Thank you, Ken."
Jeffry, anak Excellent paling sok elite, menepuk dada Ken sambil nyelipin beberapa lembar uang ke sakunya.
Sementara itu, anak-anak Excellent lainnya udah masuk ke kelas. Ada delapan orang yang langsung nyebar: ada yang ngacak-ngacak tas, ada yang ngendus-ngendus loker (nggak jelas), dan sisanya lihat ke luar jendela, nyari tanda-tanda kalau anak-anak Reguler 3 masih di area sekitar.
"Ken, kalau udah, pergi sana." Jeffry melotot, tangannya nyuruh Ken cabut.
Tapi Ken... diam. Tatapannya nggak biasa. Tajam. Bukan ke anak-anak Reguler. Tapi ke Jeffry sendiri.
Jeffry mengangkat alis, agak cengo.
"Kenapa? Kurang cukup bayarannya, hah?" Dia bersedekap, nyender ke jendela, ngetawain situasi.
Ken nggak jawab. Di bawah sepatunya, uang merah muda berserakan-jatuh dari saku.
Dan itu bukan cuma uang. Tapi simbol. Simbol kalau harga dirinya baru aja diinjak.
---
Di luar gedung.
Kondisi makin kacau. Anak-anak Reguler dari kelas lain mulai panik. Ada yang nangis, ada yang nangis sambil touch up, ada yang makan sambil jongkok di balik pot tanaman.
Bob berdiri, ngelepas sisa keripik dari bibirnya.
"Guys! Kita nggak bisa diem gini terus!"
Angel, muncul entah dari mana, nyaut, "Terus? Kita mau maju? Mau mati bareng-bareng?"
Bob meringis. "Hehe, maksud gue... jangan sampe kita nggak kebagian makanan buat besok-besok, lo tau sekarang aja kita harus sembunyi makannya."
Huft. Aku melirik ke arah Egan, yang dari tadi diam. Wajahnya gelap. Bukan karena belum makan, tapi karena pacarnya, anak Excellent, jadi pelaku bullying hari ini.
Aku sempat ingin tanya dia udah makan atau belum, tapi dia kelihatan... patah.
Sedangkan aku, udah makan nasi kuning setengah, jeruk, dan air es. (Lumayan banget untuk ukuran zona perang.)
Tiba-tiba Egan berdiri.
"Besok... kalian bisa datang jam 5 pagi?"
Suaranya cukup pelan, tapi bikin semua anak Reguler 3 merinding. Yang nggak denger, langsung dikasih tahu temennya. Yang denger... langsung bertanya-tanya.
Untuk apa datang sepagi itu?
Egan melirikku.
Senyum miring. Menyeramkan tapi karismatik.
Dia mulai bisikin sesuatu. Pelan, tapi jelas.
Sebuah rencana.
Dan...
DUAKK!!
Jendela kelas bergetar keras.
Kami semua refleks menoleh. Dan di luar jendela...
"KEN?!" teriakku.
Benar. Dia lagi menghajar salah satu anak, lalu menariknya masuk ke balik dinding. Hanya aku yang sempat bertatapan dengannya.
Ayu di sebelahku udah gemetar. "I-i-it... itu kak Ken... dia rajanya bullying..."
Galung berdiri. "Udah. Kita pasrah aja. Hari ini aja kita hampir ketahuan. Besok? Kita dilindes!"
Aku bangkit. "Kita harus lawan, Galung! Ini soal harga diri!"
"Kita baru kenal, By..." bisik Egan.
Benar. Kami baru beberapa jam sekelas. Baru tau nama. Belum sifat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
