GO!
🎵
Di dunia tipu-tipu
Kamu tempat aku bertumpu
Baik, jahat, abu-abu
Tapi warnamu putih untukku...
Puja-puji tanpa kata
Mata kita yang bicara
Selalu nyaman bersama
Janji takkan ke mana-mana, ya...
🎵
Tep.
Aku melepas earphone dari tablet dan menghembuskan napas panjang. Bersandar di kaca mobil, mencoba mengingat apa yang terjadi tadi.
Sebelumnya Alex bilang padaku. "Kamu nggapapa kan, Ella? Tadi kamu pingsan pas keluar dari toilet. Aku cepat tolong kamu karna pas banget aku juga baru keluar dari toilet."
Wajahnya penuh kekhawatiran.
Belum lagi katanya, waktu aku berbaring di UKS, aku mengoceh hal-hal aneh sambil berkeringat dingin dan wajah pucat.
Dia spontan memelukku sambil berusaha sadarin aku dari pingsan.
Deg-deg-deg.
Aku bisa dengar detak jantungnya. Erat, tulus, dan hangat. Napasnya terasa lega.
"Ah! Sorry, Ella."
Alex langsung melepaskan pelukannya, merasa bersalah. Matanya berkaca-kaca.
Dan, aku memeluknya balik. Meski kami baru kenal, aku yakin... dia anak baik.
---
Sepulang sekolah.
Mobilku melaju pelan menuju rumah besar kami.
Aku juga berpindah duduk dari posisi kiri ke kanan untuk mencari satu sosok yang membuatku terus penasaran-si cowok misterius yang selalu menuntun sepedanya mimpiku.
Sepanjang jalan mobil melaju, aku menatap jalur sepeda dan pejalan kaki.
Tapi...
Sepi, tidak ada siapa-siapa.
Hingga akhirnya-
"Pak! Turun sini, ya," ucapku cepat pada supir.
Aku turun dan langsung berlari ke arah rumah cowok itu. Aku melihatnya, tapi... dia hanya berjalan kaki. Tak ada sepeda. Padahal, aku yakin di mimpiku dia terlihat sedih dan kecewa sambil menuntun sepedanya.
Apa sepedanya rusak dan ditinggal?
Aku berdiri di depannya.
"..."
Dia hanya menghela napas sebal melihatku menghalangi jalannya.
Aku menyodorkan tangan. Penasaran-apa reaksi dia ke aku?
Set.
Tidak ada.
Aku malah ditarik masuk ke dalam rumahnya.
"Tante, aku bawa Ella ke kamar, ya!" katanya-masih menggenggam tanganku erat.
Aku melotot. Ini... serius? Aku nggak ngerti lagi.
---
Dan kamarnya.
"Ini... kamar lo? Ups!"
Aku spontan. Oke, mulutku terlalu cepat.
Dia menatapku tajam, lalu mengambil kemoceng dari dekat jendela. Kamarnya di loteng. Agak sempit, agak berdebu, tapi dipenuhi tanaman. Nggak ada kasur. Hanya lantai kayu dan tumpukan pot kecil.
"Lo ngapain sih? Ngikutin gue sampai ke kamar?" Tanyanya padaku.
EHH?
Loh, bukannya lo yang narik gue ke atas?!
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
