"Ada mata yang tak pernah berkedip, bahkan ketika pemiliknya memilih tetap tak terlihat.
Di Libii, pengawasan bukan sekadar aturan-melainkan bayangan yang selalu mendahului langkah siapa pun.
Dan sebelum rahasia sempat terucap, seseorang di balik tembok sudah lebih dulu mendengarnya." by Raisha Arsene, Ars.
GO!
Ella sudah kembali ke kelas. Entah mengapa, setelah berbicara dengan Pak Yuan-detektif polisi itu-ada rasa gelisah yang menusuk dadanya.
Tangannya bergetar, bahkan menulis pun tak terbaca. Berkali-kali ia menoleh ke jendela yang menghadap koridor.
Sstt... sial. Kok gue nggak bisa fokus sih. Batin Ella.
Ketika untuk kesekian kalinya ia melirik ke jendela, sepasang mata terlihat sedang mengintip. Bukan setan, bukan makhluk gaib-tapi OSIS, jelas sedang memastikan semua kelas terisi guru.
Ya, Ella paham. Gerak-gerik para OSIS sudah mudah ia baca.
---
"Menurut lo, Dey... sekolah ini bakal berjalan kayak biasanya? Atau... nggak?" bisikku pada Dey, si cowok imut yang sedang menggelembungkan pipinya seperti ikan buntal.
Poahh. Bunyi pecahan gelembung mulutnya.
"Menurutku sih..." Dey mulai berbicara pelan, "kalau kamu tadi bicara jujur, kemungkinan sekolah ini nggak bakal berjalan mulus seperti seharusnya."
Aku menatapnya lama. Wajah imutnya sama sekali nggak cocok sama omongannya yang bikin mikir.
"Kalau gue cuma kasih beberapa clue, apa bakal ngubah sistem sekolah?" tanyaku lagi. Dey masih sibuk main pipi.
Poahh.
"Aku nggak bisa jawab pasti," ujar Dey tanpa menoleh. "Tapi mungkin... mungkin iya. Ada lonjakan di sistem sekolah."
Aku nyengir heran. "Hanya lonjakan?"
"Iya." Dey mengangguk. "Kamu cuma kasih clue, bukan jawaban sebenarnya, Ella."
Keningku mengerut lagi. "Nggak, lo salah, Dey. Gue kasih clue, iya. Tapi gue juga minta Pak Yuan buat liat sendiri situasinya."
Dey memandangku. Mata itu—sering ia bilang bisa membaca gerak mata dan tubuh orang—sekarang seperti memindai isi batinku. Sekilas aku melihat kilatan aneh di bola matanya.
"Kamu takut, Ella," ucapnya tiba-tiba.
"T-takut sama lo? Nggak." Aku langsung menggeleng.
"Bukan." Dey menurunkan suaranya.
"Kamu takut sama sekolah. Takut diburu."
Glek. Aku menelan ludah. Dey membaca kata-kataku barusan, padahal itu cuma ada di otakku saat bersama Pak Yuan di ruang interogasi.
"Kan udah aku bilang," lanjut Dey tenang, "kamu harus jujur ke polisi. Tapi kamu setengah-setengah. Mau nggak mau, sekarang Pak Yuan yang dalam bahaya."
"J-jadi gue yang ngebahayain Pak Yuan?" suaraku melemah.
Dey mengangguk.
"Nggak ada cara lain?" tanyaku cemas.
"Entah." Dey mengangkat bahu. "Atau mungkin... ada."
Tatapannya tiba-tiba tertuju ke tasku.
"Apa?" bingungku.
"Ada yang nyala di dalam tas kamu, Ella." Tatapannya tajam.
Aku mematung. HP ada di meja. Kaca kecil ada di tempat pensil. Lalu apa?
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasia• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
