GO!
Pagi itu terasa sedikit berbeda. Aku berangkat bersama sopir Mama, mobil melaju mulus di jalanan yang mulai ramai. Biasanya, aku tidak terlalu peduli dengan keterlambatan, tapi ini hari kedua di Libii Academy—sekolah baru yang terasa begitu asing sekaligus megah. Begitu sampai di gerbang utama yang menjulang tinggi, dengan ukiran mawar dan lambang "L" emas di tengahnya, aku bisa merasakan detak jantungku sedikit lebih cepat. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian, dan terlambat di barisan Excellent bukanlah awal yang baik. Benar saja, saat aku tiba, semua anak kelas 7 Excellent sudah berbaris rapi di samping gedung utama sekolah kami, siluet mereka tampak sempurna di bawah sinar matahari pagi.
Hari kedua perkenalan sekolah ini. Setelah upacara pagi yang singkat dan membosankan, kami mulai berkeliling, tur singkat ke beberapa area penting yang akan sering kami gunakan. Aku mencoba mencerna setiap informasi yang diberikan kakak-kakak OSIS, tapi rasanya terlalu banyak. Sekolah ini memang sangatlah luas dan megah, jauh melebihi bayanganku. Gedung utama adalah yang paling mencolok, pilar-pilar kokohnya menjulang tinggi, memamerkan keagungan. Gedung ini punya tiga lantai (terhitung dari lantai 2), dan di sinilah sebagian besar kelas Excellent berada, juga ruang-ruang para guru. Di lantai 2 gedung utama, kami sempat melongok ke dalam UKS (Unit Kesehatan Sekolah). Ruangan itu tampak modern dan bersih, serba putih dengan ranjang-ranjang berjejer rapi. Salah satu kakak OSIS yang menemaniku, seorang gadis dengan kacamata bingkai tebal, sempat berbisik, "Tembok belakangnya menyimpan lubang rahasia, lho. Tapi itu cuma mitos, ya." Aku hanya tersenyum tipis, merasa sedikit merinding.
Keluar dari gedung utama, di luar, kami melewati Kantin Reguler. Dari kejauhan, tempat itu terlihat ramai, namun ada semacam ketegangan yang bisa kurasakan. Suasana di sana jauh berbeda dengan kantin di sekolah lamaku yang selalu ceria. Kakak OSIS lain yang berbadan tegap dan sedikit galak menjelaskan, "Sekilas tampak seperti kantin pada umumnya, namun kami tahu betul itu adalah tempat di mana anak-anak reguler menghadapi siksaan mereka sendiri, dan anak-anak Excellent menegaskan kekuasaan mereka tanpa ampun." Nadanya dingin, penuh peringatan. Aku melirik beberapa anak reguler yang bergegas melewati kami, tatapan mereka terlihat kosong atau penuh kewaspadaan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, tapi ucapan kakak OSIS itu membuatku sedikit tidak nyaman.
Perjalanan berlanjut. Kami melihat Perpustakaan, sebuah bangunan besar yang tampak tenang dan sunyi dari luar. Jendela-jendelanya tinggi, membiarkan cahaya masuk ke rak-rak buku yang menjulang. Aku sempat berpikir betapa nyaman membaca di sana, sampai teringat bisikan kakak OSIS sebelumnya: "Lantai bawahnya menyimpan ruangan terlarang." Rasa penasaran langsung menyelimutiku. Apakah itu hanya cerita horor sekolah, atau memang ada sesuatu yang disembunyikan?
Tidak jauh dari sana, ada Lapangan Tengah yang luas membentang, siap untuk berbagai kegiatan olahraga atau pertunjukan. Di tengah lapangan, ada area kosong yang terlihat biasa saja, namun kakak-kakak OSIS bilang, "Konon di tengahnya ada simbol misterius yang hanya terlihat saat hujan deras." Aku menatap ke atas, langit tampak cerah. Entah kapan aku bisa membuktikan mitos itu.
Setelah itu, kami naik kembali ke Gedung Utama, menuju Ruang OSIS yang terletak di lantai 3. Sebenarnya itu lantai 4 jika dihitung dari lantai satu—tempat anak-anak reguler—yang disebut lantai dasar. Ruangan OSIS ini terasa formal, dengan meja-meja besar dan tumpukan dokumen. Kakak-kakak seperti Jo dan tim Excellent terlihat sibuk. Salah satu dari mereka, seorang cowok dengan rambut rapi, membanggakan, "Di sini banyak arsip tua yang bisa jadi inspirasi program OSIS kami di masa depan." Aku hanya mengangguk, mencoba terlihat tertarik.
Akhirnya, kami dibawa ke dua gedung terakhir yang benar-benar membedakan Excellent dari sekolah lain. Pertama, gedung Talent School, sebuah bangunan yang dirancang khusus untuk anak-anak Excellent yang memiliki bakat seni. Dari seni lukis, musik, teater, hingga tari—gedung ini punya fasilitas lengkap. Lalu, tidak jauh dari sana, berdiri megah sebuah bangunan modern dengan arsitektur futuristik yang berkilauan: Laboratorium Teknologi & Riset. Bangunan kaca dan baja yang tampak begitu canggih ini membuatku terkesima. "Di sinilah para siswa Excellent dengan minat sains dan teknologi tinggi mengembangkan berbagai inovasi canggih, dari robotika hingga rekayasa genetika," jelas salah satu pemandu kami dengan bangga. Aku membayangkan mesin-mesin berputar dan layar-layar holografik, sebuah dunia yang terasa begitu jauh dari kehidupan normalku.
Setelah tur yang melelahkan namun penuh informasi itu, kami diistirahatkan menuju kelas masing-masing. Tak lama, tiga osis yang sejak awal memang memegang kelasku datang: BER—gabungan nama mereka, Bob, Erlando, dan Ratania. Mereka bertiga langsung mengambil alih suasana kelas, siap untuk memimpin kami melalui sisa hari yang baru dimulai.
NEXT!
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasía• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
