The XXVIII : Pertemuan di Medan Perang

32 6 2
                                        


GO!

Langit di luar mulai gelap meski belum waktunya. Awan menggulung perlahan di atas gedung utama Libii Academy. Akar-akar tipis menjuntai dari langit-langit seperti jaring hitam raksasa. Listrik padam. Alarm darurat tak kunjung menyala. Hening, tapi tekanan tak kasat mata mencekik dari segala arah.


“Lantai bawah... bukan tempat yang aman lagi,” suara Egan terdengar cepat dan putus-putus. Gayanya santai, tatapan tajam. “Beberapa anak kelas 8 dan 9 masih hidup... tapi mereka dikepung monster di bawah sana!”

Jo berdiri tegak, wajahnya serius. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. “Jeff, kita turun. Sekarang.”

Jeffry mengangguk. Sekilas masih ada ketakutan di wajahnya, tapi ketegasan Jo menghapus semua keraguan. “OSIS, kumpul! Persiapan turun darurat!” teriak Jeffry sambil menarik napas panjang.

Langkah kaki terdengar menuruni tangga darurat dari lantai 4 menuju lantai 3. Lorong-lorong yang dulu dipenuhi cahaya kini tertutup bayangan gelap dan serpihan dinding. Suara lembab... seperti sesuatu yang merayap di bawah kulit... mengiringi perjalanan mereka.

Begitu tiba di lantai 3, bau menyengat menghantam hidung: campuran tanah basah, bunga busuk, dan sesuatu yang seperti... daging hangus.

Jeffry menutup hidung. “Gila… ini kayak medan perang.”

Lorong benar-benar hancur. Tembok sobek, pintu-pintu menganga seperti mulut luka, dan sulur-sulur ungu besar terlihat menggantung mati di dinding, tampak seperti habis terbakar.

Tapi di tengah kehancuran itu—terlihat gerakan. Sekelompok siswa berdiri dalam diam. Sekitar tujuh anak dari kelas 7, berdiri di depan dua siswa kelas 9 yang terluka.

Salah satu anak 7 itu, Jo langsung mengenalnya.

Alex.

Hoodie putih yang jadi ciri khasnya kini penuh noda dan robek di bahu. Rambutnya makin berantakan, dan di tangannya tergenggam alat semprot rakitan logam berkilap—separuh senjata, separuh mesin.

“Kalian yang nyelametin mereka?” tanya Jo cepat.

Alex mengangguk, napas masih memburu. “Dua ekor monster bunga ungu. Kami habisin di sini. Baru saja.”

Jeffry melirik alat semprot di tangan Alex. “Lo bikin itu?”

“Cleaning service punya karbit. Aku modifikasi. Gas tekanan tinggi, pemantik rakitan. Jangan tanya detailnya, ini darurat,” jawab Alex, matanya masih awas, “tapi cukup buat bakar makhluk lendir berkaki lima.”

Jo menatap sekeliling, lalu matanya jatuh pada seorang siswi di belakang Alex—Rina. Rambut panjangnya kusut, sebagian menutupi wajah. Ia memeluk sebuah buku gambar yang sobek di pinggir. Meski tubuhnya mungil dan luka di lututnya terbuka, ia berdiri tegak.

Rina maju satu langkah. “Kami sebenarnya ingin turun ke pintu alarm. Tapi tangga dari lantai 2 diserang duluan oleh bunga pink. Lebih cepat dari yang ungu. Banyak teman kami—kelas 7 lainnya—gak selamat.”

Alex menyambung, “Kami lawan makhluk itu. Gak bisa dibunuh total... tapi kami bikin dia lumpuh. Jadi kami naik, nyasar ke lantai 3... dan lihat kakak-kakak kelas dikejar monster ungu. Kami bantu. Jadi ya... sekarang kami di sini.”

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang