The LVI : Celah Semu

15 3 0
                                        


GO!

Alex dan Ella akhirnya berhasil masuk ke pintu ruang bawah tanah itu—sebuah pintu besi tebal yang tersembunyi di balik panel kusam, nyaris tak terlihat jika tidak tahu cara membukanya. Alat kecil di tangan Alex berbunyi lirih, lampu indikatornya berkedip dua kali sebelum mati total.

Klik.

Pintu terbuka.

Begitu mereka melangkah masuk, udara dingin langsung menyergap. Bau lembap, besi tua, dan sesuatu yang asing—seperti debu yang sudah terlalu lama tidak terusik—menyelinap ke paru-paru.

Alex melangkah lebih dulu, tanpa ragu.

Ella menyusul, tapi langkahnya melambat begitu pintu itu tertutup kembali di belakang mereka.

"Waktu pas keluar dari sini," ucap Ella pelan sambil mengerutkan dahi, matanya menyapu kiri dan kanan, "kita dibawa berkelak-kelok sama Egan."

Lorong di depan mereka sempit, memanjang lurus dengan lampu-lampu redup yang jaraknya terlalu jauh satu sama lain. Setiap beberapa meter, cahaya berubah jadi bayangan.

Alex menoleh, menuruni tangga pendek dengan langkah santai yang dibuat-buat. "Terus?" katanya, melirik ke belakang sambil menyeringai. "Lo takut?"

"Ya jelaslah, bego." Ella mendengus, mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal. "Siapa yang nggak takut? Gue takut nggak bisa keluar dari sini. Emang lo hapal apa nih ruangan?"

Alex tertawa kecil, tapi tidak berhenti. "Gue nggak hapal detailnya," jawabnya santai. "Tapi gue tau pola bangunan kayak gini."

Ella ingin membalas, tapi terdiam saat lorong pertama bercabang dua. Ia refleks melambat.

Alex berhenti mendadak. "Oke, stop."

"Hah?" Ella menoleh cepat. "Apa? Lo ngapain?" Ia refleks mundur setengah langkah. "Lo mau apa-apain gue ya?"

"Dih, geer." Alex mendengus. "Gue mau jawab pertanyaan lo tadi. Sekalian jelasin." Ia menurunkan suara. "Tenang. InsyaAllah aman, di sini nggak ada yang denger."

"Emang lo Islam?" Ella menyipitkan mata. "Pake nyebut Allah."

Alex cuma mengenyir—senyum khas iklan odol yang terlalu percaya diri— tanpa niat menjelaskan lebih lanjut.

"Yaudah cepetan," gerutu Ella. "Apaan?"

"Oke, oke." Alex merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. "Gue nemuin selembar kertas jatuh dari tasnya si hoodie hitam kemarin."

Ella langsung menghela napas. "Maksud lo Egan? Yang nolongin kita semua. Barusan gue bahas."

"Oh iya. Egan." Alex membuka galeri. "Gue nemuin kertasnya pas dia jatohin, tapi dia langsung pungut lagi. Cuma kebetulan, gue lagi buka kamera."

"Ngapain?" Ella mencondongkan tubuh, menatap layar.

"Niatnya mau rekam kelakuan laknat anak-anak OSIS," jawab Alex jujur. "Eh pas banget kertasnya jatoh di kaki gue. Refleks, jepret."

Ella terdiam saat foto itu muncul jelas di layar.

"Denah ruang bawah tanah?" suaranya turun. "Ha... serius lo?"

Alex mengangguk ceria, seperti anak kecil yang baru menemukan harta karun. "Dan lo liat ini." Ia memperbesar layar. "Ada ruangan dengan tulisan P.C.S. Kayak kode rahasia. Kan katanya sekolah ini dulunya bekas tempat pelajaran ilmu hitam."

"Konon," Ella menyahut, setengah meremehkan.

"Nah, makanya gue kepo sama tempat ini, dan ada dua pintu menuju ke sana." Alex menunjuk titik lain di denah. "Jalur paling dekat ya lewat sini."

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang