The XXIII : Peringatan Maut Ken

29 6 1
                                        


GO!


/Sudut Pandang Ella/

Pelajaran kedua hari ini terasa aneh. Bukan karena gurunya nggak masuk, tapi karena kelas kami diambil alih oleh OSIS BER. Ya, Bob, Erlando, dan Ratania masuk ke kelas dengan wajah lebih serius dari biasanya. Tiga manusia ini memang dikenal belagu sama anak-anak reguler, tapi di mata anak Excellent, mereka itu... patut dihormati. Entah kenapa.

Ratania berdiri di depan, sambil memeluk clipboard-nya. Bob duduk di kursi guru, sedangkan Erlando berdiri di samping papan tulis, memerhatikan kami semua dengan tatapan tajamnya.

"Perhatian," kata Ratania. "Hari ini kelas kalian diambil alih oleh OSIS karena ada hal penting yang perlu disampaikan."

Semua langsung ribut. Termasuk aku, yang otomatis bersandar ke meja Dey dengan dahi berkerut.

"Kenapa nih?" bisikku ke Dey. Anak itu cuma angkat bahu, tapi matanya siaga, seperti biasa.

"Duduk dengan tenang," kata Bob tanpa emosi. "Kalau nggak mau makan siang kalian ditunda lebih lama."

Langsung hening.

Ratania menarik napas panjang. "Kondisi sekolah sedang tidak stabil. Kami minta kalian tetap berada di kelas sampai ada pengumuman selanjutnya. Tidak ada yang diizinkan keluar."

Tentu saja, kelas langsung riuh.

"APAAN ITU?!"

"LO LARANG KITA KELUAR?!"

"Laper woy!"

"Aku bawa bekal, sih." Itu suara Kezia. Sebel banget aku denger suaranya. Dia malah makan keripik kentang di belakangku.

Aku mendelik.

“Ini sekolah atau penjara sih?” gumamku.

Belum sempat ada yang menyahut, pintu kelas kami dibuka dari luar.

Bukan dibuka.
Dihantam.

BRAK!

Pintunya hampir mental ke dinding. Suara benturannya memantul di seluruh ruangan. Semua langsung diam—terlalu cepat, terlalu kompak.

Seorang cowok masuk.

Tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Pakai baju basket tanpa lengan.

Wajahnya pucat. Bukan pucat capek—pucat orang yang baru lari dari sesuatu. Keringat mengalir deras dari pelipisnya. Napasnya terengah, kasar. Dan dari telinga kirinya… darah menetes pelan. Jatuh ke lantai.

Aku berdiri tanpa sadar. Kursiku berderit keras.
Dey ikut berdiri di sampingku.

“Itu…” suaraku tercekat.
“Ken?”

Ken.
Kapten basket Libii Academy.

Cowok yang biasanya santai, selalu terlihat percaya diri—sekarang berdiri di depan kelas seperti orang yang baru keluar dari mimpi buruk.

Ken menutup pintu di belakangnya. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang. Setelah itu, dia bersandar di sana, dadanya naik turun cepat. Suara napasnya berat, terputus-putus, seperti orang yang baru kehabisan udara.

Semua murid berdiri hampir bersamaan.

Medra refleks maju setengah langkah, tapi Shisy menahannya. Wajah Shisy membeku, matanya melebar, seolah kalau dia bergerak sedikit saja… sesuatu akan terjadi.

Bob dan Erlando menghampiri Ken.

“Ada apa di luar?!” Erlando bertanya cepat. Suaranya tegang—nada yang jarang sekali kudengar darinya.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang